HomePilihan RedaksiTantangan Perdamaian di Tahun...

Tantangan Perdamaian di Tahun 2026

Memasuki tahun 2026, situasi dunia internasional dan regional dilanda tantangan yang sungguh tidak diharapkan. Sementara itu, secara nasional, kita sebagai bangsa Indonesia masih menghadapi ujian perdamaian yang membutuhkan kerjasama semua elemen bangsa.

Dunia dikejutkan dengan langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang melakukan “aksi militer” di Venezuela, di Amerika Latin dengan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores, sang ibu negara, pada awal Januari 2026. Tidak hanya itu, Trump juga mengancam untuk melakukan aksi serupa di Kuba, Kolombia serta menyatakan akan menguasai Greenland yang selama ini merupakan bagian dari wilayah Denmark. Hal itu telah mengancam sendi-sendi perdamaian dunia dan tatanan hukum internasional sejak pasca-Perang Dunia II.

Jika tahun 2025, tantangan perdamaian hanya terfokus di Gaza, Iran dan Israel atau di kawasan Timur Tengah, kini masalah perdamaian dunia menular ke benua Amerika Latin, bahkan tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan konflik yang lebih meningkat antara AS dan sekutunya di Eropa. Terbaru, AS juga menarik dari 31 organisasi PBB dan 35 Non-PBB yang selama setengah abad lebih menopang pembangunan dan perdamaian dunia.

Baca juga Tetap Damai di Era Disrupsi

Secara regional, wilayah Yaman yang makin tidak stabil telah menguatkan ketegangan antara Arab Saudi yang mengambil posisi berseberangan dengan Uni Emirat Arab (UEA) melalui proxi atau aksi langsung kedua negara tersebut di semenanjung Yaman. Perang sesama bangsa Arab pun kembali dipertontonkan, di tengah aksi militer Israel terhadap warga Palestina.

Kawasan Asia Tenggara, yang dihuni bangsa kulit hitam manis campuran Indochina juga tak mau kalah “adu alat perang”. Thailand dan Kamboja memperlihatkan ketidakmampuan para pemimpin menghadapi situasi domestik ataupun ketetanggaan yang dinamis dan penuh gejolak.

Indonesia telah mengambil posisi nonblok dan multilateralisme yang tangguh dalam menghadapi berbagai konflik global dan regional. Terhadap dinamika di atas, pemerintah perlu terus mengambil langkah-langkah yang tepat dan penting, terutama demi kepentingan nasional, perdamaian regional dan keselamatan dunia internasional dari perang besar yang menghancurkan.

Meskipun Indonesia menghadapi kendala seperti bencana alam, krisis lingkungan dan ekologi, serta lambannya pertumbuhan ekonomi, situasi politik dan perdamaian harus tetap dijaga dengan berbagai cara.

Para pemimpin umat, partai politik, tokoh bangsa, pejabat negara/publik serta pelaku bisnis di berbagai tingkatan dan wilayah harus senantiasa berkomunikasi dan bekerjasama untuk mengedepankan kepentinga nasional dan perdamaian.

Seperti pesan salah seorang penyintas terorisme (kasus bom Kuningan 2004) Sudirman Thalib, “perdamaian bukan saja tanggung jawab korban dan mantan pelaku terorisme, melainkan tugas kita semua sebagai bangsa.”

Perang dan kekerasan hanya memuaskan segelintir elit dan para pelaku dengan ideologi ekstrem. Tetapi dampak perang dan kekerasan akan sangat amat memilukan bagi korban, yang memikul trauma dan penderitaan sepanjang hidup.

Belajar dari kisah korban dan mantan pelaku terorisme, sebagai bangsa, kita harus selalu tangguh untuk menyerukan perdamaian di mana pun dan apapun kondisinya.  

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...