HomeBeritaTindakan Biadab Telan Korban

Tindakan Biadab Telan Korban

Tasdik Saputra, 42, satpam Bank Mandiri, tiba-tiba dikagetkan suara ledakan ketika melintas di Terminal Kampung Melayu, Rabu (24/5) malam. Ia yang berada di dekat ledakan itu segera menghentikan sepeda motornya dan bergegas menolong salah seorang korban.

“Saya narik dia. Masih hidup, tapi fisiknya sudah penuh darah gitu, Pak,” kata Tasdik kepada Plt Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat yang membesuknya di RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur, kemarin (Kamis, 25/5).

Tidak disangka, bom kedua meledak dan kali ini mengenai Tasdik. Tangannya pun terluka. Tasdik menceritakan bagaimana ia akhirnya pun dibawa ke rumah sakit. Dengan tangan terluka, ia tidak mampu mengendarai sepeda motor miliknya.

“Saya masih bisa jalan nyari motor saya, tapi mau starter enggak bisa karena tangan luka, saya minta tukang ojek antar ke sini, sama dibantu polisi di pospol,” jelas warga Cijantung tersebut.

Susi Afitriani, 21, korban lainnya juga tengah dirawat di RS Budhi Asih. Ia harus menjalani operasi karena mengalami patah tulang akibat terkena ledakan bom.

Pihak rumah sakit mengatakan Susi sempat kesulitan menghubungi keluarganya. Orangtua Susi tergolong miskin dan tidak memiliki perangkat telepon. Akhirnya, dengan bantuan Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari), keluarga Susi di Desa Karangsembung, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, bisa dihubungi.

“Dia mahasiswa mau naik angkot, jadi korban. Ini saya bilang tindakan yang biadab apalagi sebentar lagi kita memasuki bulan suci Ramadan,” cetus Djarot.

Kesedihan tampak pada keluarga dan kerabat Susi, ketika Media Indonesia menyambangi kediaman mereka. Ibu Susi, Karimah, tidak berada di rumah, karena sudah berangkat ke Jakarta menengok anak semata wayangnya itu.

“Begitu mendapat kabar anaknya terkena musibah, ibunya langsung ke Jakarta. Kabarnya luka di punggung dan tangannya,” tutur Paman Susi, Kasirun.

Menurut pihak keluarga, sambil menjalani pendidikan di Universitas Azzahra, Jakarta, Susi juga menyambi menjadi pengasuh bayi. Mereka berharap Susi cepat sembuh.

Tingkatkan kewaspadaan

Enam belas orang menjadi korban bom bunuh diri di kawasan Terminal Kampung Melayu. Lima di antaranya meninggal, terdiri dari tiga anggota polisi dan dua sipil yang juga diduga pelaku.

Ketiga anggota polisi yang gugur meliputi Briptu Anumerta Imam Gilang Adinata, Briptu Anumerta Ridho Setiawan, serta Briptu Anumerta Taufan Tsunami. Para anggota Unit Sabhara Polda Metro Jaya tersebut mendapatkan kenaikan pangkat satu tingkat.

Briptu Taufan dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, kemarin. Adapun jenazah Briptu Imam dan Briptu Ridho diberangkatkan untuk dimakamkan di kampung halaman mereka, yakni di Klaten dan Lampung.

Pihak keamanan dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan, terutama di tempat publik seperti bandara dan terminal. Polisi juga menggeledah kediaman terduga pelaku, INS dan AS. Rumah keluarga AS di Cipongkor, Jawa Barat, pun tidak luput dari penggeledahan.

Polisi mencatat ledakan bom pertama terjadi pukul 21.00 WIB di depan toilet umum. Disusul ledakan kedua pada 21.05 di dekat Halte Trans-Jakarta Kampung Melayu yang jaraknya sekitar 10 meter dari lokasi ledakan pertama. (Mtvn/Tim/P-1) (AM)

 

 

Sumber: Media Indonesia edisi 26 Mei 2017

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...

Pentingnya Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Berdamai dengan diri sendiri merupakan hal yang sangat penting karena apabila tidak bisa berdamai dengan diri sendiri maka tidak akan bisa berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan. Pernyataan tersebut disampaikan penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama...

Substansiasi Hijrah

Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute Artikel ini berasal dari mediaindonesia.com yang terbit pada 19 Juni 2026 MUHARAM kembali hadir. Seperti biasa, media sosial pun dipenuhi narasi tentang meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik. Komunitas-komunitas keagamaan mengajak masyarakat memperbarui komitmen spiritual mereka. Fenomena itu tentu menggembirakan. Itu...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun Ni Luh Erniati, penyintas bom Bali 2002, tidak ingin membalas dendam kepada pelaku/mantan pelaku terorisme. Ia pun tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam...