Home Berita Ketangguhan Korban dan Filosofi Damai Pasundan: Sebuah Pertemuan
Berita - 15/05/2017

Ketangguhan Korban dan Filosofi Damai Pasundan: Sebuah Pertemuan

Akur jeung batur sakasur, jeung batur sadapur, jeung batur sasumur, jeung batur salembur, jeung batur sagalur (Hidup rukun dengan pasangan, dengan keluarga, dengan tetangga, dengan saudara sekampung, dan dengan saudara sebangsa).

Kata-kata tersebut adalah ugeran (pepatah bijak) yang populer dalam masyarakat Sunda. Sejumlah guru di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat mengutipnya dalam kegiatan Pelatihan “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” yang diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) pada akhir September hingga awal Oktober lalu.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta mengaku mendapatkan pelajaran berharga tentang pentingnya menanamkan semangat perdamaian dalam mendidik generasi muda bangsa. Salah satu sesi yang menginspirasi peserta adalah materi Belajar dari Tim Perdamaian yang disampaikan oleh korban dan mantan pelaku terorisme.

Dua anggota Tim Perdamaian yang hadir adalah Ali Fauzi (mantan anggota kelompok terorisme) dan Iwan Setiawan (korban Bom Kuningan 2004). Ali bertutur soal sepak terjangnya dalam kelompok ekstrem hingga akhirnya memutuskan keluar dari jaringan tersebut. “Salah satu yang mendorong saya untuk keluar adalah teman-teman korban terorisme, seperti Mas Iwan,” ujarnya.

Sementara itu, Iwan berkisah tentang musibah yang menimpa diri dan istrinya pada 9 September 2004. Akibat teror bom di kawasan Kuningan, Jakarta itu, Iwan kehilangan indra penglihatan sebelah kanan, sedangkan istrinya meninggal dunia dua tahun setelah tragedi. Namun, Iwan tak pernah menaruh dendam kepada para pelaku teror yang sebagiannya adalah teman Ali Fauzi. “Saya telah memaafkan para pelaku. Semua yang saya miliki hanya titipan Allah. Kalau Allah memintanya saya harus ikhlas,” ujarnya terbata.

Rekonsiliasi Ali dan Iwan menuai apresiasi positif dari peserta. Salah satu delegasi dari SMAN 2 mengungkapkan kekagumannya pada Iwan yang begitu legawa menerima kenyataan dan memilih berdamai dengan mantan pelaku terorisme. Lebih dari itu, ia menyadari dampak terorisme yang begitu destruktif dan menyasar orang-orang tak bersalah seperti yang tampak dari diri Iwan. Ia berharap kelak tak ada lagi aksi-aksi terorisme sehingga tak ada lagi korban. “Adalah tugas kita semua untuk menjaga perdamaian. Dimulai dari keluarga, lingkungan sekitar, dan bangsa. Perdamaian adalah segalanya untuk kita semua,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan perwakilan dari SMAN 1. Ia mengaku mendapatkan banyak pencerahan dari kegiatan ini. Sebelumnya ia mengetahui terorisme hanya dari pemberitaan media massa. “Tetapi setelah bertemu dengan korban dan mantan pelaku, saya mendapatkan banyak kejelasan tentang terorisme,” kata dia.

Menurut guru muda itu, pada awalnya pelaku terorisme memiliki pandangan yang berbeda dengan kebanyakan orang Indonesia terkait Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ada keinginan untuk mendirikan negara berdasar agama Islam dengan cara-cara kekerasan. Namun setelah dievaluasi, aksi-aksi tersebut malah mencederai saudara sebangsanya sendiri. “Kalau semua guru tahu tentang materi ini, insyaallah dapat menjadi modal membangun perdamaian,” ungkapnya.

Salah seorang peserta mengakui di lingkungan sekolahnya sempat muncul bibit radikalisme. Ia bercerita, pernah ada acara keagamaan yang diselenggarakan sebuah organisasi siswa di mana para pesertanya dilarang bertepuk tangan dan digantikan dengan takbir. Selain itu, siswa diseru untuk menegakkan khilafah dan sistem demokrasi dianggap sebagai kekufuran.

“Pelan-pelan saya sampaikan bahwa hubbul wathan minal iman(mencintai negara adalah sebagian dari iman). NKRI juga diperjuangkan oleh ulama dan santri,” katanya.

Sebagai aksi nyata, perwakilan lain dari SMAN 1 berkeinginan untuk menyampaikan kisah korban dan mantan pelaku dalam forum kegiatan siswa. Guru perlu menyisihkan waktu untuk membagikan kisah Tim Perdamaian kepada anak didik sehingga mereka dapat mengerti bahaya aksi kekerasan. “Apabila ada ketidakselarasan dalam pergaulan lebih diutamakan untuk mengalah dan saling meluruskan,” ia menjelaskan.

Pelatihan “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” diikuti oleh 20 orang guru dari lima sekolah di Tasikmalaya, yaitu SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 7 dan SMA Al-Muttaqin. Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, menjelaskan kegiatan ini secara umum bertujuan untuk memperkuat visi perdamaian di kalangan guru melalui kisah korban dan mantan pelaku terorisme.

Melalui pengalaman Tim Perdamaian ia berharap komitmen guru dalam mencegah kekerasan semakin kuat. “Selain itu kegiatan ini juga berupaya memberikan panduan   praktis   bagaimana mengcounter propaganda kekerasan atas nama agama,” katanya memungkasi. [MSY] (SWD)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *