HomeBeritaMendorong Pemberitaan yang Berperspektif...

Mendorong Pemberitaan yang Berperspektif Korban

Puluhan wartawan antusias menuliskan lima hal yang paling berharga dalam hidupnya di secarik kertas. Mereka lalu saling bertukar kertas, mencoret dua dari lima hal paling berharga temannya kemudian mengembalikan kertas kepada pemiliknya. Setiap orang pun kaget bukan kepalang. Semua merasa kehilangan lantaran yang sangat berharga dalam hidup “dihilangkan” oleh orang lain.
Pemandangan tersebut merupakan satu sesi permainan dalam kegiatan Short Course “Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Surakarta, Jawa Tengah pada 19 s.d. 20 September 2016. Fasilitator kegiatan, Laode Arham, mengajak peserta untuk membayangkan kehilangan anggota tubuh atau sosok yang dicintai.
Dalam kegiatan tersebut para peserta, jurnalis media nasional dan daerah, menyimak penuturan penyintas terorisme, salah satunya Nagiyah Aprilia (korban Bom JW Marriott 2003). 13 tahun silam, tak ada firasat apa pun dalam benak perempuan 42 tahun itu kala suaminya, Harna, pamit untuk berangkat kerja. Rona pucat yang terlihat dari wajah kekasihnya saat itu tak ia hiraukan. “Mungkin karena kelelahan,” begitu dugaannya.
Menjelang siang, Nagiyah melihat beberapa stasiun televisi memberitakan peristiwa ledakan bom di Hotel JW Marriott. Kecemasan mulai melandanya sebab sang suami yang bekerja sebagai pengendara taksi kerap memangkal di hotel tersebut. “Jam 5 sore saya ditelepon pihak perusahaan bahwa suami meninggal di tempat kejadian,” ujarnya.
Pascatragedi selama beberapa bulan Nagiyah memendam amarah kepada para pelaku teror. Suaminya yang tak bersalah harus menjadi korban meninggalkan 3 buah hatinya yang masih kecil. Ia sempat bingung bagaimana membesarkan anak-anaknya sedangkan selama ini suaminya adalah tulang punggung keluarga. Seiring waktu secara perlahan ia menyadari bahwa semua itu adalah takdir tak terlawan yang harus dihadapi.
Selain Nagiyah, AIDA juga menghadirkan Christian Salomo dan Sudarsono Hadi Siswoyo (korban Bom Kuningan 2004) untuk menuturkan kisahnya kepada peserta Short Course. Akibat ledakan Christian mendapatkan 600 jahitan di seluruh badan. Hingga kini beberapa logam masih bersarang di dalam tubuhnya. Rekannya, Sudarsono, sempat mengalami amnesia.
Kini para penyintas telah berdamai dengan masa lalu dan memaafkan kekhilafan orang-orang yang terlibat aksi teror. Dalam kegiatan itu, Sudarsono duduk berdampingan dengan mantan pelaku teror yang telah meninggalkan jalan kekerasan, Ali Fauzi Manzi, untuk bersama-sama menyuarakan perdamaian. “Saya berbagi kisah ini dengan harapan kelak tak ada lagi korban teror yang berjatuhan,” demikian Sudarsono.
Ketegaran penyintas menuai apresiasi dari peserta Short Course. Seorang peserta berkisah hingga kini belum menemukan kejelasan kabar dua orang kerabatnya yang hilang akibat konflik kekerasan di masa lalu. “Saya respek dan salut betul kepada Ibu Nagiyah dan teman-teman penyintas lainnya. Saya kalau bercerita soal paman saya yang hilang akibat konflik 1965 masih sering emosional, sedangkan ini Bu Nagiyah yang kehilangan suami mampu tegar dan bangkit,” ucapnya.
Media dan Perspektif Korban
Selain materi kisah penyintas, para peserta mendapatkan pengayaan wawasan tentang perspektif korban dari beberapa narasumber, salah satunya Agus Sudibyo, anggota Dewan Pers periode 2013-2016. Menurut pengamatannya, selama ini pemberitaan media massa tentang peristiwa terorisme lebih banyak berorientasi kepada pelaku. Sementara isu-isu terkait proses pemulihan korban dan hak-haknya yang harus ditunaikan negara kerap luput dalam pemberitaan.
Oleh sebab itu ia berharap ke depan para jurnalis mampu melihat isu terorisme dari aspek korban. Dia berpandangan di samping mengabarkan peristiwa teror, media juga penting menampilkan perspektif korban kepada masyarakat. “Jurnalis juga harus menyoroti soal pemulihan para korban. Sejauh mana korban diurusi negara, apakah hak-haknya seperti kompensasi telah ditunaikan. Media massa harus mengadvokasi isu itu,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan pemateri lain, Sunudyantoro. Wartawan senior salah satu media massa nasional itu menegaskan peliputan terorisme harus berempati kepada korban dan tidak menambah penderitaan mereka. Ia mengkritik sebagian pemberitaan terorisme selama ini justru terjebak pada penonjolan kekerasan yang malah menambah derita batin korban dan keluarganya.
“Intinya dalam meliput korban peristiwa traumatik, jurnalis harus menerapkan prinsip meminimalkan mudarat. Jurnalis tak boleh menambah penderitaan orang yang sudah menderita,” ujarnya memungkasi.
Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, dalam kegiatan tersebut mengatakan melalui silaturahmi dengan penyintas, diharapkan para insan media menjadi semakin kuat menjiwai perspektif korban dalam pemberitaan isu terorisme, yaitu pemberitaan yang mengarah pada dorongan untuk memenuhi hak-hak korban dan pemberian peran kepada mereka untuk membangun Indonesia damai. [MSY] (SWD)
*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi X Oktober 2016

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...