HomeOpiniGuru, Sang Agen Perdamaian

Guru, Sang Agen Perdamaian

Pada tanggal itu kita juga memperingati kelahiran tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara.

Salah satu pesan yang diberikan beliau untuk para pendidik ialah Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Kalimat dalam bahasa Jawa yang mengajak para pendidik untuk bisa memberi contoh yang baik, bekerja bersama pembelajar sambil tak lupa terus memotivasi, dan memberi kepercayaan kepada pembelajar sambil tetap mengawasi dan mendukung.

Pendidik dalam lingkup pendidikan formal ialah guru.

Guru menjadi agen perubahan yang utama di dalam kelas, yang mendampingi anak didik bertransformasi ke arah yang lebih baik.

Untuk itu, menurut Association of Childhood Education International (1997) guru harus mampu menumbuhkan dan mendorong interaksi sosial yang positif di antara anak didiknya dan tak lupa juga membangun hubungan kolaborasi yang positif dengan orangtua dan masyarakat yang lebih luas dalam rangka mendukung pembelajaran anak didik.

Tantangan untuk guru

Pendidikan di Indonesia sesuai dengan Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menginginkan agar manusia Indonesia menjadi manusia yang memiliki kecerdasan intelektual dan watak yang baik.

Dalam kata lain, manusia Indonesia diharapkan menjadi manusia yang damai, yang mampu menggunakan akal pikiran dan memanfaatkan ilmu untuk kebaikan, bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga bagi masyarakat luas dan lingkungan.

Tugas yang diamanatkan undang-undang kepada para guru penuh dengan tantangan, apalagi dalam situasi Indonesia dan dunia saat ini.

Tantangan-tantangan tersebut antara lain menguatnya radikalisme dan intoleransi, sentimen kelompok, dan semakin maju pesatnya teknologi yang beberapa di antaranya malah digunakan untuk keburukan.

Lalu bagaimana cara guru menyikapi tantangan yang ada agar tujuan pendidikan nasional bisa tercapai?

Untuk menghadapi tantangan-tantangan yang disebut di atas, penguasaan materi dan metode mengajar belumlah cukup.

Guru perlu melengkapi diri dengan pemahaman tentang nilai-nilai universal, seperti kebebasan, keadilan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, toleransi , dan penghargaan atas hak hidup (Begum, 2012).

Nilai-nilai tersebut, yang merupakan nilai-nilai penyusun budaya damai, perludiinternalisasi dalam diri para guru (Deveci, Yilmaz, dan Kardag, 2008) sehingga nantinya terefleksi dalam aktivitas guru dalam pembelajaran (Forde dkk., 2006).

Internalisasi nilai-nilai damai

Menjadi guru yang juga agen perdamaian, guru perlu memahami bahwa keadaan damai bukan hanya terjadi ketika perang atau kekerasan fisik, verbal, dan psikologis tidak ada lagi.

Damai yang utuh juga mensyaratkan terselesaikannya masalah kekerasan struktural seperti kesenjangan ekonomi dan keadilan sosial, dan terselesaikannya masalah kekerasan kultural seperti diskriminasi dan intoleransi (Galtung, 1969).

Dengan menggunakan pemahaman tersebut, guru melihat keadaan lingkungan di sekeliling, baik di tingkat lokal maupun tingkat internasional.

Guru harus selalu memperbarui diri dengan berbagai informasi yang berkembang di kehidupan sehari-hari.

Informasi-informasi tersebut dapat diperoleh melalui surat kabar dan internet, membaca artikel-artikel ilmiah, mengikuti pelatihan, dan observasi langsung di lingkungan tempat tinggal untuk menemukan masalah-masalah yang ada di masyarakat.

Selain itu, guru juga bisa menggali informasi dari pengalaman-pengalaman anak didiknya untuk mengetahui tantangan apa saja yang dihadapi mereka.

Temuan-temuan yang didapatkan kemudian diolah dan dimaknai dengan menggunakan kerangka pikir perdamaian yang utuh.

Proses pemaknaan dapat dilakukan dengan menggunakan media menulis jurnal refleksi pribadi yang dilengkapi dengan diskusi reflektif, baik bersama teman sejawat maupun bersama para anak didik di kelas (Moon, 2004).

Kegiatan melakukan refleksi, baik melalui tulisan maupun diskusi, menghubungkan pengetahuan yang sudah dimiliki mengenai perdamaian yang utuh dengan pengalaman yang didapat dari hasil observasi dan diskusi, kemudian dianalisis dan menghasilkan pemikiran mengenai apa yang perlu dilakukan untuk merespons keadaan yang ada (McAlpine dan Weston, 2002).

Hasil pemikiran dari proses refleksi selain akan memperluas pengetahuan yang dimiliki, juga akan mentransformasi diri guru sebagai individu yang menjiwai dan menghidupi nilai-nilai damai sehingga pada akhirnya membawa manfaat bagi lingkungan sekitar (Brockbank dan McGill, 2007).

Nilai-nilai damai tidak cukup dengan hanya dikenal dan dipraktikkan sebagai latihan.

Lebih dari itu, nilai-nilai damai harus diinternalisasi untuk kemudian menjadi pedoman berperilaku bagi guru dalam bertindak dan bekerja.

Internalisasi itu sendiri tidak tercapai hanya dengan satu kali refleksi, tetapi melalui hasil proses refleksi yang terus-menerus.

Untuk itu, guru perlu membangun kebiasaan baru untuk melakukan refleksi nilai-nilai damai.

Biasanya tidak mudah jika kita ingin membangun kebiasaan baru dan melakukannya sendiri, akan tetapi guru bisa menyiasati dengan melakukan kegiatan refleksi bersama dengan anak didik di kelas.

Dalam proses pembelajaran di kelas, guru menggunakan studi kasus dari peristiwa di kehidupan nyata sebagai sarana untuk menghubungkan materi pembelajaran dengan realita dan nilai-nilai damai.

Guru bisa meluangkan waktu di akhir pembelajaran untuk melakukan refleksi bersama anak didik sehingga mereka memahami kegunaan pengetahuan dan keterampilan yang mereka pelajari di kelas untuk kehidupan nyata juga sekaligus menginternalisasi nilai-nilai damai.

Penutup

Dunia yang damai bagi sebagian orang sering dianggap sebagai mimpi, akan tetapi mimpi itu mungkin saja terwujud.

Guru sebagai agen perdamaian perlu untuk menjaga agar mimpi itu tetap ada melalui internalisasi nilai-nilai damai dalam diri dan juga ingat bahwa untuk mencapai mimpi dunia yang damai, prosesnya juga harus dilakukan dengan cara-cara yang damai dan tanpa kekerasan.

Kembali pada pesan Ki Hadjar Dewantara di atas, pada hakikatnya beliau ingin mengingatkan bahwa guru merupakan manusia pembelajar.

Untuk menjadi guru yang merupakan agen perdamaian, guru harus selalu belajar; memperbarui diri dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan, memperbarui diri dengan perkembangan situasi di sekelilingnya, dan senantiasa menghidupi nilai-nilai damai dalam setiap langkahnya.

Guru yang damai tak pernah berhenti belajar. [SWD]

 

*Artikel ini pernah dimuat di harian Media Indonesia edisi 8 Mei 2017.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...