HomeBeritaMenyemai Perdamaian Bersama Penyintas

Menyemai Perdamaian Bersama Penyintas

“Setiap kali akan ada acara kampanye damai seperti ini, saya selalu tidak bisa tidur pada malam harinya.”

Demikian diungkapkan Iwan Setiawan, penyintas aksi teror Bom Kuningan 2004, dalam perjalanan bersama Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menuju Pandeglang, Banten pada April lalu. Di kota tersebut AIDA menyelenggarakan safari kampanye perdamaian ke lima sekolah dengan menyuguhkan kisah-kisah inspiratif dari penyintas terorisme. Bagi Iwan, menceritakan kembali peristiwa yang telah ia alami tiga belas tahun lalu cukup membebani pikiran dan sedikit banyak memunculkan kepedihan yang dalam.

Walaupun berat untuk mengisahkan kembali namun tekad Iwan kuat untuk berkontribusi menyarakan perdamaian di masyarakat bersama AIDA. Baginya, mengisahkan kembali pengalamanya menjadi korban aksi teror adalah salah satu upaya untuk menebarkan benih-benih perdamaian. Dari kisahnya masyarakat dapat memahami dampak terorisme yang begitu destruktif, sekaligus menyadari pentingnya melestarikan perdamaian dan menghindari aksi kekerasan.

“Tapi bismillah saja, ini kan untuk perdamaian. Kita harus kuat,” ujarnya. Dia menambahkan, semangatnya mengikuti kegiatan AIDA bertujuan agar tidak ada lagi yang melakukan kekerasan. Aksi kekerasan dan terorisme, lanjutnya, mengakibatkan banyak korban berjatuhan, seperti dirinya dan korban-korban lainnya.

Pada kesempatan safari kampanye perdamaian di Pandeglang, AIDA mengunjungi SMAN 4, SMKN 4, SMK Budi Utama, SMAN 17, dan SMAN 3. Di setiap sekolah, AIDA mengajak 50 siswa mendalami nilai penting perdamaian melalui kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”.

Air matanya tak terbendung, suaranya gemetar menahan tangis saat Iwan menyampaikan kisahnya di hadapan para peserta Dialog Interaktif di SMAN 4 Pandeglang, Senin (17/4) siang. Saat aksi teror bom terjadi, dia sedang memboncengkan istrinya menuju ke sebuah klinik di Jakarta untuk periksa kandungan. Saat melintas di Jl. HR. Rasuna Said kawasan Kuningan, tiba-tiba terjadi ledakan besar yang menggemparkan semua orang. Akibat ledakan bom, Iwan mengalami cacat permanen di bagian mata.

Istrinya juga tak luput dari cedera. Pada malam hari setelah kejadian dia melahirkan buah hati yang dikandungnya. Akan tetapi, dua tahun pascakejadian dia menemui ajal lantaran sakit di bagian tulang belakang akibat ledakan bom.

Beberapa siswa peserta Dialog Interaktif tak kuasa menahan air mata mendengarkan kisah Iwan. Pada sesi tanya jawab, seorang siswa bertanya, “Apakah Mas Iwan pernah dendam kepada orang-orang yang ngebom?”

Mendengar pertanyaan tersebut Iwan sempat menghela napas dan bepikir sejenak. Mengumpulkan segenap keberanian dan mencoba untuk percaya diri, dia menjawab, “Saya tidak dendam terhadap para pengebom. Bagi saya apa yang terjadi pada diri saya adalah qadha dan qadar dari Allah, maka saya menerimanya dengan ikhlas.”

Tak hanya menyampaikan pengalamannya menjadi korban Bom Kuningan 2004, Iwan juga menyampaikan rahasianya untuk tetap tangguh dan tegar menjalani kehidupan. Dia menggambarkan kehidupan di dunia ini seperti hidupnya tukang parkir. Semua yang ada pada dirinya dan yang ia miliki dalam hidupnya adalah titipan Sang Pencipta. Ketika sesuatu yang dimiliki diambil sewaktu-waktu oleh Sang Pencipta maka dia harus ikhlas dan menyadari bahwa itu hanyalah titipan dari Sang Pencipta.

“Sesungguhnya salatku ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam,” ujarnya memungkasi kisahnya.

Dalam penyelenggaraan kegiatan Dialog Interaktif di Pandeglang, AIDA juga menghadirkan seorang mantan pelaku aksi terorisme, Iswanto. Seperti halnya Iwan, Iswanto juga membagikan kisah perjalanan hidupnya kepada para pelajar peserta Dialog Interaktif. Pria asal Lamongan Jawa Timur itu pernah terjerumus ke dalam jaringan organisasi kekerasan namun akhirnya menyadari kekeliruannya, melepaskan diri dari jaringan tersebut, dan kini merintis jalan perdamaian bersama AIDA.

Pada akhir presentasinya Iswanto meminta maaf kepada Iwan dan para korban terorisme lainnya atas ideologi keliru yang pernah ia anut dahulu, serta perbuatan keji dari beberapa orang yang dulu pernah sepaham dengannya.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, berpesan kepada para siswa peserta Dialog Interaktif di Pandeglang untuk cerdas mengambil pelajaran berharga dari penuturan kisah penyintas dan mantan pelaku terorisme. Dari kisah Iwan dan Iswanto, Hasibullah menegaskan kepada para siswa agar tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, dan tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan. Kekerasan bila dibalas dengan kekerasan akan menimbulkan kerusakan baru. Demikian halnya jika ketidakadilan dibalas dengan ketidakadilan maka hanya akan memunculkan ketidakadilan selanjutnya.

Usai kegiatan sejumlah peserta menyampaikan kesan dan pesan mengikuti Dialog Interaktif. Beberapa di antaranya mengaku mendapatkan banyak wawasan yang jarang didapatkan dari mata pelajaran di sekolah. Sebagian yang lain mengaku akan berkomitmen menyemai perdamaian di lingkungan dia berada. [SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia. Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara,...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...