HomeBeritaKisah Korban Menginspirasi Film...

Kisah Korban Menginspirasi Film Layar Lebar

Aksi teror selalu menimbulkan kepedihan masyarakat. Tak ada yang tersisa setelah aksi teror selain kehancuran dan korban yang berjatuhan. Melihat fenomena terorisme yang terus memunculkan korban, Lionsgate, sebuah rumah produksi di Hollywood, membuat film layar lebar berjudul Stronger.
Film ini diadaptasi dari kisah nyata Jeff Bauman, korban serangan teror bom dalam perlombaan Boston Marathon pada 2013. Jeff dalam kenyataan sukses bertransformasi dari sekadar korban menjadi seorang penyintas aksi teror. Sosoknya akan difilmkan sebagai korban yang bangkit dari keterpurukan akibat terorisme. Tokoh Jeff Bauman diperankan oleh Jake Gyllenhaal, nomine pemeran utama pria terbaik penghargaan Oscar selama beberapa kali melalui film-filmnya seperti Everest, Southpaw, Nightcrawler, dan Enemy.
Pada hari kejadian, 15 April 2013, Jeff Bauman sedang gelisah tapi juga bersemangat menunggu pacarnya, Erin Hurley, di garis finish lomba lari marathon yang berlangsung di jalanan Boston. Sekitar 30 meter menjelang finish sang kekasih, Erin, melihat Jeff menyemangatinya untuk menyelesaikan perlombaan. Di tengah riuhnya penonton, bom meledak. Dua bom meledak di area garis finish di mana kerumunan penonton antusias menyaksikan lomba.
Situasi sportivitas lomba tingkat internasional itu berubah menjadi sebuah kengerian. Orang-orang berteriak ketakutan, panas dan asap menyelimuti area sekitar garis finish. Bom menewaskan tiga orang dan melukai setidaknya 200 orang lebih. Foto Jeff di kursi roda, dengan dua kakinya terputus, dilarikan para petugas medis menuju ambulans menjadi ikon tragedi itu beberapa hari kemudian. Setelah terbangun dari koma karena operasi, dia baru betul-betul menyadari kedua kakinya telah hilang.
Melihat kenyataan yang ada, Jeff frustrasi. Semangat hidupnya hilang. Geram dan amarah sering terluap ketika Jeff ingin melakukan aktivitas harian namun tidak bisa karena kecacatan fisiknya akibat serangan bom. Seperti saat ingin mandi, dia tidak bisa melakukannya sendiri. Bahkan untuk berjalan, Jeff harus menggunakan bantuan kursi roda.
Beruntung, Jeff masih memiliki Erin. Dia tetap setia mendampingi dan memberi semangat, bahkan akhirnya hubungan mereka naik ke pelaminan hingga dikaruniai seorang putri.
Di tengah segala kesulitan, Jeff tak menyerah. Dengan bantuan kaki bionic dia terus belajar untuk berjalan.
Stronger memperlihatkan kepada dunia kekuatan cinta dan perhatian orang-orang sekitar sangat membantu seorang korban menjadi penyintas. Satu adegan menggambarkan Jeff dikunjungi seorang ayah yang telah kehilangan anaknya. “Kau mengingatkanku pada anak lelakiku. Dia meninggal. Membantumu membuatku merasa sedang membantu anakku sendiri. Sebab itulah aku bersyukur,” kata dia.
Pada akhirnya di balik musibah selalu ada mutiara hikmah yang bisa dijadikan pelajaran. Film ini akan rilis 22 September 2017 mendatang. [AM]
Sumber: youtube, cnnindonesia, filmbioskop, bernas, bintang

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...