HomeWawancaraTantangan Perdamaian dalam Lapas

Tantangan Perdamaian dalam Lapas

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebagai pusat pembinaan narapidana, termasuk warga binaan pemasyarakatan (WBP) tindak pidana terorisme, kerap menghadapi banyak tantangan. Dengan segala keterbatasan, termasuk overkapasitas, Lapas berusaha seoptimal mungkin membina WBP kasus terorisme agar dapat meninggalkan jaringan kekerasan serta “kembali” ke masyarakat. Tiga pekan lalu redaksi Suara Perdamaian berkesempatan mewawancara Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, I Wayan Kusmiantha Dusak, untuk membahas tantangan perdamaian di dalam Lapas. Berikut petikan wawancaranya:
Apa saja tantangan yang dihadapi Ditjen Pemasyarakatan dalam melakukan pembinaan terhadap WBP kasus terorisme?
WBP teroris meskipun kecil dari segi jumlah tapi pembinaannya menjadi perhatian pemerintah bahkan internasional karena masalah ini menyangkut ideologi yang dampaknya menyasar banyak negara.
Kendala pembinaan WBP teroris ada tiga, dari sisi petugas Lapas, dari WBP, dan dari perundang-undangannya. Dari sisi petugas, kita tidak dibekali dengan ilmu pengetahuan yang cukup untuk membina WBP teroris. Lalu, mestinya ada Lapas khusus untuk membina WBP teroris sebab mereka kan dianggap berisiko tinggi, dikhawatirkan bisa menyebarkan ideologinya ke WBP lain. Karena segala keterbatasan, kita sebar WBP teroris ke banyak Lapas. Ini juga masalah lagi.
Dari sisi WBP kita mengenal mereka itu ada empat kategori, yaitu ideolog, militan, pengikut, dan simpatisan. Menghadapi WBP teroris yang ideolog tentu membutuhkan pendekatan berbeda dari WBP yang terjebak terorisme hanya karena ikut-ikut saja. Untuk menangani ini kan perlu regulasi bagaimana sistem yang dikembangkan untuk membina mereka. Saya tidak tahu persis draf revisi UU Terorisme yang sekarang sedang dibahas itu akan seperti apa tapi melalui rapat dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme saya mengusulkan ada satu pasal tentang perlunya perlakuan khusus terhadap WBP teroris. Artinya, aturan hukum harus jelas untuk memutus akses mereka baik dengan yang di dalam Lapas maupun yang di luar. Menurut saya penting untuk membuat sistem pembinaan tidak hanya di dalam Lapas tapi juga setelah mereka di luar.
Beberapa kritikan diarahkan ke Ditjen Pemasyarakatan bahwa pembinaan WBP teroris di dalam Lapas tidak efektif dibuktikan dengan adanya beberapa aksi teror yang dilakukan oleh mantan WBP teroris yang telah bebas. Bagaimana tanggapan Bapak?
Kita harusnya menghitung yang sudah bebas itu berapa, yang melakukan lagi itu berapa. Dalam melakukan evaluasi itu ada dua hal. Pertama, metode yang diterapkan kepada mereka selama pembinaan di Lapas seperti apa. Apakah sudah ada? Selama ini kita melakukan pembinaan masih secara umum saja seperti narapidana lainnya, tidak ada pembinaan khusus kepada WBP teroris. Di dalam UU Pemasyarakatan itu pembinaan ada dua, yaitu kemandirian dan kepribadian. Dua ini harus berjalan simultan. Selain dibina agar bisa mandiri juga harus bisa mengubah pola pikir dan perilaku. Perubahan perilaku ini harus dibarengi dengan kemampuan yang terkait dengan perekonomian agar kalau sudah kembali ke masyarakat proses reintegrasinya itu berjalan baik.
Sekarang kenapa mereka mengulangi aksi teror lagi setelah keluar Lapas? Yang paling dasar, itu kan tergantung manusianya sendiri. Penjara itu bukan tempat untuk mengubah orang menjadi baik. Artinya, tidak ada jaminan kalau orang masuk penjara itu tidak akan mengulangi kejahatan. Paling tidak, metode pembinaan kepada WBP itu sudah dilaksanakan, kalau dia kembali seperti itu ya kembali ke manusianya itu sendiri. Tidak ada di dunia ini di negara mana pun orang melakukan kejahatan terus seratus persen tidak akan jadi residivis, itu tidak ada. Yang bisa kita lakukan adalah menekan persentase narapidana melakukan kejahatannya lagi. Sudah berapa narapidana yang diturunkan ke dunia ini toh masih ada juga orang melakukan kejahatan. Sudah berapa WBP teroris yang diturunkan di dunia ini toh masih ada juga aksi teror.
AIDA telah menjalin kerja sama dengan Ditjen Pemasyarakatan dengan mengenalkan perspektif korban terorisme kepada petugas Lapas. Apa kelebihan dan kelemahannya, dan apa yang perlu ditingkatkan dari kerja sama selama ini?
Saya melihatnya dengan berpikir positif bahwa orang membantu pasti tujuannya baik. Kalau dengan AIDA sendiri sebenarnya sudah berjalan sesuai yang kita harapkan. Hanya saja untuk mendukung bahwa ini memang menjadi suatu yang bermanfaat khususnya kepada WBP teroris dan Lapas, perlu kita pikirkan seperti apa tolok ukur keberhasilannya. Mungkin kita belum bisa mengatakan WBP ini sudah menjadi baik, tapi paling tidak kita tahu dari sejumlah WBP teroris yang ada, berapa yang sudah dilakukan pendekatan melalui metode yang dimiliki AIDA, misalnya.
Dari kerja sama yang sudah berjalan ini menurut saya perlu ditindaklanjuti dengan menyusun dokumen ukuran-ukuran keberhasilannya. Artinya, ada semacam panduan pembinaan WBP teroris lengkap dengan kategorisasinya. Dari pengalaman AIDA metode ini cocok dan efektif digunakan untuk pembinaan WBP teroris dengan tipikal ini, misalnya. Dari situ kita bisa tahu keberhasilan kerja sama selama ini. Kalau program kerja sama yang sekarang kan sedang berjalan, kita masih perlu melakukan evaluasi sebelum mengetahui tingkat keberhasilannya sejauh apa. [MLM]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...