HomeBeritaMantan Teroris: Saya Berutang...

Mantan Teroris: Saya Berutang kepada Para Korban Teror

JAKARTA, Penampilan Kurnia Widodo tidak jauh berbeda dengan peserta diskusi yang memenuhi Graha Gus Dur di kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Minggu (23/7/2017) sore. Ia mengenakan kaus berwarna putih, bercelana bahan warna hitam, berpeci dan berkacamata. Pembawaannya tampak kalem, cara bicaranya pun tertata. Jauh dari kesan menyeramkan. Namun, siapa yang menyangka Kurnia adalah seorang mantan narapidana teroris. Spesialisasinya membuat dan merakit bom.

Sore itu, Kurnia menjadi salah satu narasumber acara diskusi bertajuk “Merawat Keindonesiaan: Tolak Radikalisme, Lawan Intoleransi” yang dinisiasi oleh organisasi Perempuan Bangsa. Dia menceritakan pengalamannya saat bergabung dengan kelompok radikal. Kurnia mengaku mengenal ajaran radikalisme sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Seorang teman memberikannya banyak buku mengenai jihad dan ajaran Negara Islam Indonesia (NII).

Ketertarikannya dengan organisasi yang didirikan oleh Kartosoewirjo itu semakin bertambah saat menyadari apa yang ia baca berbeda dengan yang diajarkan selama ini. Keyakinan untuk menegakkan hukum Islam sebagai dasar negara Indonesia pun menguat.

“Kenapa saya tertarik, karena dalam sejarah nasional yang diajarkan di SD itu sangat berbeda sekali dengan apa yang saya baca dari buku-buku. Saya merasa ditipu selama ini. Sehingga saya tertarik dengan kelompok tersebut,” ujar Kurnia.

Setelah lulus SMA pada 1992, Kurnia meneruskan pendidikanya ke jurusan teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB). Dunia perkuliahan membuat Kurnia bertemu dengan banyak orang dari berbagai macam latar belakang, bahkan yang sepaham dengan dirinya. Antara tahun 1993 dan 1994, Kurnia mendapat ide untuk belajar membuat dan merakit bom. Dia meyakini dalam menegakkan khilafah hanya bisa diwujudkan melalui jalan kekerasan dan perang.

Sebagian besar waktunya saat itu dihabiskan untuk membaca buku-buku di perpustakaan. Sampai suatu hari dia menemukan sebuah buku tentang cara membuat bahan peledak.

“Saya mendapat kesempatan belajar membuat bom sekitar tahun 1993 dan 1994, ternyata bikin bom tidak susah. Saya mendapat banyak referensi dari perpustakaan. Saya coba sampai berhasil,” tuturnya.

Dari HTI ke MMI

Di Bandung, Kurnia sempat bergabung dengan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Namun, karena perbedaan pandangan dalam cara memperjuangkan khilafah, dia pun memutuskan untuk keluar dari HTI setelah beberapa tahun. Menurut Kurnia, cara-cara demonstrasi yang sering dilakukan HTI tidak cukup untuk mencapai tujuannya.

“Pikir saya saat itu saya kan punya keahlian membuat bom, untuk apa berdemonstrasi. Lagipula juga tidak didengarkan oleh pemerintah,” kata dia.

Setelah lulus kuliah dan keluar dari HTI, Kurnia bergabung dengan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) sekitar tahun 2000. MMI merupakan organisasi radikal yang dibentuk oleh Abu Bakar Ba’asyir. Organisasi tersebut masuk ke dalam daftar Specially Designated Global Terrorists (SDGTs) Milik Amerika Serikat. Jaringan kelompok teroris yang dikenal Kurnia semakin luas.

Bahkan Kurnia mengaku mengenal Aman Abdurrahman, pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Bahrun Naim yang dilaporkan pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS pada tahun 2014.

“Saat bergabung di MMI saya merasa terhubung dengan jihad global. Aman Abdurrahman sebagai tokoh panutan,” ucap Kurnia.

Pada awal 2010, Kurnia pergi ke Aceh untuk mengikuti pelatihan militer yang diadakan oleh Dulmatin. Kurnia mengatakan saat itu Dulmatin membutuhkan personel untuk melaksanakan jihad di Aceh. Usai menjalani pelatihan, Kurnia kembali ke Bandung. Tak lama, dia mendapat kabar seorang teman seperjuangannya tewas ditembak aparat dalam sebuah penyergapan.

Rasa dendam membuatnya merencanakan aksi teror bom ke Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, sekaligus bermaksud membebaskan teroris lain yang ditahan di sana. Nahas, Kurnia tertangkap sebelum melancarkan aksinya. Polisi berhasil membekuknya di daerah Cibiru, Bandung, sekitar akhir 2010. Akibat perbuatannya itu Kurnia divonis enam tahun penjara.

“Saya mencoba membalas dendam, melakukan perlawanan dengan membuat bom, tapi tertangkap di Padalarang,” tuturnya.

Kampanye damai kehidupan

Di penjara membuat Kurnia perlahan menyadari kesalahannya. Kurnia sempat menjadi tahanan di Polda Metro Jaya dan mendekam di LP Cipinang. Selama di balik jeruji dia banyak berkomunikasi dengan tokoh-tokoh Islam moderat. Dalam beberapa kesempatan, Kurnia juga bertemu dengan keluarga korban terorisme. Rasa empatinya muncul saat mendengarkan kesaksian para keluarga korban.

“Pertemuan saya dengan ustad-ustad senior di penjara yang lebih alim dalam ilmu agama membuat saya berpikir ulang tentang keyakinan yang dulu saya anut,” kata Kurnia.

“Saya banyak belajar selama berada di dalam penjara. Saat bertemu dengan keluarga korban pada suatu acara, muncul rasa empati saya,” lanjut dia.

Tahun 2014, Kurnia mendapat status bebas bersyarat. Setelah keluar dari penjara, Kurnia bergabung dengan organisasi Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dan aktif mengkampanyekan perdamaian. Dalam sebuah artikel di website AIDA, dia mengungkapkan sering terlibat dalam berbagai kegiatan kampanye damai di sekolah-sekolah dan pelatihan tim perdamaian AIDA.

Momen yang tak pernah ia lupa adalah saat bertemu dengan seorang korban aksi terorisme di sebuah acara kampanye damai. Saat itu dia merasa apa yang pernah dia lakukan justru menimbulkan penderitaan bagi orang lain.

“Terus terang saya larut dalam kesedihan. Saya mendengarkan bagaimana penderitaan mereka yang timbul dari aksi terorisme. Mata saya sampai berkaca-kaca mendengar kisah mereka. Saya langsung meminta maaf kepadanya meskipun saya sendiri tidak terlibat dalam aksi teror yang mengenai mereka,” kata Kurnia.

“Saya merasa punya utang kepada para korban karena saya pernah mengajarkan orang-orang cara membuat bom. Saya punya tanggung jawab untuk mencegah penyebaran paham dan ajaran seperti yang saya yakini dulu,” ucapnya.

 

Sumber: Kompas

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...