HomeOpiniMengelola Radikalisme

Mengelola Radikalisme

Andai bisa diselesaikan dengan penjara ataupun tembak mati, niscaya tak ada lagi terorisme dan radikalisme. Sebab, sudah banyak teroris yang ditahan ataupun ditembak mati.
Radikalisme, kata Ali Fauzi, mantan pelaku terorisme yang sudah menjadi aktivis perdamaian, bukanlah produk yang instan. Berdasarkan pengalaman pribadi Ali Fauzi beserta saudara dan sejumlah temannya yang terlibat dalam serangkaian aksi teror, radikalisme melalui proses yang panjang. Karena itu, menyelesaikan persoalan radikalisme, masih menurut Ali Fauzi, juga membutuhkan proses yang panjang.
Dari pengalaman pribadi penulis terlibat dalam program penanganan terorisme, apa yang dikatakan Ali Fauzi itu terkonfirmasi sejumlah fakta di lapangan. Hampir tidak ada orang yang tiba-tiba berkomitmen terhadap radikalisme.
Sebaliknya, justru ada sebagian pihak yang mau keluar dari jaringan ini, tetapi tak tahu harus melakukan apa dan bagaimana. Alih-alih hadir meyakinkan dan mendukung perubahan yang baru bertumbuh, kebijakan negara dan kondisi sosial politik yang kurang mendukung (ditambah pengaruh jaringan lamanya yang masih kuat) membuat perubahan yang ada berjalan di tempat. Bahkan, bisa benar-benar berhenti hingga yang bersangkutan “balik badan” kembali menjadi pelaku aksi kekerasan.
Benar bahwa belakangan muncul fenomena lone wolf di kalangan kelompok ini yang mengesankan seseorang menjadi radikal secara mendadak dan bertindak sendirian. Namun, hampir bisa dipastikan, pelakunya mengalami proses radikalisasi terlebih dahulu sebelum akhirnya melakukan penyerangan secara lone wolf.
Dengan kata lain, penyerangan secara lone wolf mungkin dilakukan secara sendirian dan direncanakan dalam waktu relatif singkat. Namun, sebelum melakukan penyerangan, yang bersangkutan mengalami proses radikalisasi yang panjang seperti disampaikan Ali Fauzi di atas sampai akhirnya yang bersangkutan sampai pada tahap keputusan melakukan penyerangan secara lone wolf.
Oleh karena itu, penanganan terorisme dan radikalisme butuh semangat pengelolaan yang kuat, khususnya oleh para pengambil kebijakan di negeri ini.
Ibarat menangani virus atau penyakit (analogi ini mungkin tidak sepenuhnya tepat karena dengan adanya faktor ideologi, terorisme lebih samar daripada virus atau penyakit), semangat pengelolaan dibutuhkan agar penyakit yang ada tidak menyebar ke mana-mana. Bahkan, jika dimungkinkan, mereka yang sudah terpapar penyakit ini bisa disembuhkan “dari dalam”.
Parsial dan belum optimal
Semangat inilah yang menjadi salah satu kelemahan penanganan radikalisme dan terorisme di Indonesia belakangan ini. Pendekatan yang ada cenderung bersifat parsial dan belum bisa memberikan hasil yang optimal.
Sebagai contoh, penanganan terorisme selama ini lebih bertumpu pada penegakan hukum dan memenjarakan mereka yang terbukti terlibat dalam tindak pidana terorisme. Padahal, lembaga pemasyarakatan (lapas) selama ini mengalami kelebihan penghuni. Alih-alih menyelesaikan masalah, penahanan para teroris justru menimbulkan masalah baru. Bahkan, pada sebagian kasus para narapidana teroris justru berhasil meradikalisasi napi-napi umum. Sebagian lain menjadi residivis setelah keluar penjara.
Namun, tak berarti penanganan terorisme di lapas gagal sama sekali. Cukup banyak narapidana teroris dapat ditangani secara baik oleh para petugas lapas. Jika ada yang bisa memengaruhi seorang narapidana teroris berubah menjadi pribadi yang menjunjung tinggi perdamaian, hampir dipastikan petugas lapas adalah bagian dari pihak yang berperan pada masa-masa awal perubahan.
Bukan hal aneh mengingat akutnya pengaruh paham terorisme dan radikalisme di kalangan narapidana teroris, sebagian dari mereka tak mau bertegur sapa dengan petugas lapas karena menganggap para petugas tersebut thoghut. Bahkan, sebagian narapidana teroris ada yang awalnya tak mau makan nasi di lapas karena dianggap sebagai pemberian thoghut.
Oleh karena itu, sekecil apa pun perubahan yang terjadi dalam diri narapidana teroris sejatinya perlu diapresiasi dan diberi ruang untuk terus berubah. Terlebih jika perubahannya sampai tahap mau menerima NKRI, hormat bendera, dan berkomitmen tak melakukan lagi aksi kekerasan.
Barangkali, yang harus menjadi perhatian bukan soal penanganan narapidana teroris di lapas, melainkan lebih pada kebijakan yang seakan menjadikan penegakan hukum dan penahanan teroris sebagai solusi tunggal. Penanganan terorisme dan radikalisme belakangan ini lebih bertumpu pada pendekatan senjata, khususnya saat operasi penangkapan yang tak jarang melibatkan aksi baku tembak dan mengakibatkan meninggalnya terduga teroris.
Tentu kita tidak bisa menghakimi situasi di lapangan yang membuat aparat memilih opsi senjata dalam melumpuhkan terduga teroris. Hanya saja, akan lebih baik jika operasi tak sampai menewaskan terduga teroris sehingga aparat bisa menggali informasi lebih lengkap dari yang bersangkutan dan tidak menimbulkan dendam berkepanjangan.
Hal ini penting menjadi kesadaran bersama mengingat karena terorisme beririsan dengan faktor ideologi yang tak bisa dilumpuhkan dengan senjata. Penggunaan senjata tak jarang justru menimbulkan masalah baru, seperti dendam yang kian menguatkan kebencian kepada aparat, termasuk dari mereka yang bersimpati kepada para teroris.
Alih-alih selesai, terorisme dan radikalisme justru kian menyebar dan nekat. Munculnya fenomena lone wolf yang menjadikan aparat keamanan (khususnya polisi) sebagai target serangan adalah salah satu indikator. Indikator lain adalah penanganan terorisme dan radikalisme selama ini gagal mengurangi jumlah orang yang berpaham demikian.
Pendekatan keagamaan
Catatan serupa juga perlu diberikan pada penanganan terorisme dan radikalisme yang bertumpu pada pendekatan keagamaan. Para teroris umumnya tak pernah merasa “kurang pemahaman” mengenai agama. Justru mereka acap merasa sangat ahli agama sehingga sampai tahap rela mati demi agama yang diyakini.
Pada tahap seperti ini, apa yang dilakukan teroris bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk politisasi agama, minimal menggunakan agama untuk tujuan politis. Di ujung perjuangannya, para teroris hendak menegakkan negara agama melalui sistem yang diyakini sesuai dengan keyakinan agamanya.
Muhammad Said Asymawi, kritikus gerakan Islam berkebangsaan Mesir (1986), menyatakan, politisasi agama acap menimbulkan permusuhan dan aksi kekerasan tanpa akhir. Permusuhan dan aksi kekerasan tidak hanya dilakukan kepada mereka yang berbeda agama, tetapi juga yang satu agama, tetapi berbeda pandangan atau aliran.
Dalam bukunya mengenai aliran-aliran dalam Islam, Hasan Shadiq menyebut hal di atas sebagai “kecenderungan umu” kelompok radikal yang hanya mengakui kebenaran keyakinan kelompoknya. Di luar diri mereka, mereka menganggap tak ada keyakinan yang benar sehingga darah dan harta orang-orang di luar mereka dihalalkan. Kondisi inilah yang acap membuat pendekatan keagamaan kepada para teroris mengalami jalan buntu.
Hal yang paling fatal dari cara penanganan terorisme dan radikalisme akhir-akhir ini adalah karena semangatnya, penanganan tersebut lebih bersifat pembasmian, bukan membatasi penyebarannya dan mengubah secara perlahan orang yang terpapar paham terorisme dan radikalisme.
Di sini penting untuk mengambil pelajaran dari sejarah bahwa ideologi atau keyakinan nyaris tak bisa dibasmi atau dibunuh. Ideologi juga nyaris tidak bisa dibenturkan.
Jika ideologi dipaksa dibasmi, yang kerap terjadi justru menguatnya militansi, bahkan radikalisasi. Hal yang paling mungkin adalah membatasi penyebarannya atau mengubah keyakinan orang yang sudah terpapar.
Radikalisme ataupun kelompok-kelompok yang anti-NKRI dan Pancasila bukan hal baru bagi bangsa ini. Mereka juga sudah ada pada masa-masa sebelum sekarang. Bahkan, mereka yang anti-NKRI dan Pancasila sudah ada sejak masa-masa awal kemerdekaan.
Bedanya dengan sekarang, para pendahulu dan pendiri bangsa ini berani berdialog sembari menarik mereka secara perlahan ke arah NKRI dan Pancasila.
*Artikel ini pernah dimuat di harian Kompas edisi 9 Agustus 2017.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...