HomeBeritaSinergi Nasional untuk Tuntaskan...

Sinergi Nasional untuk Tuntaskan Radikalisme

Pelajar membentang spanduk tolak radikalisme dan terorisme saat Deklarasi dan Komitmen Bersama Menolak Radikalisme dan Terorisme, di Semarang, Jateng, beberapa waktu lalu—ANTARA/R. Rekotomo

 

KELOMPOK radikal yang berusaha menyebarkan paham radikalisme harus diselesaikan pemerintah dengan melibatkan seluruh kekuatan nasional. Prinsipnya, paham sesat yang merupakan embrio terorisme itu tidak boleh berkembang hingga merusak pikiran masyarakat.

Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin mengatakan upaya untuk menangkal terorisme dan radikalisme memerlukan sinergi yang terorganisasi. Saat ini pemerintah pun telah melakukannya melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Polri, TNI, dan Badan Intelijen Negara (BIN).

“Bahkan, upaya itu harus pula melibatkan para pemimpin nonformal di daerah-daerah, seperti tingkat RT dan RW, untuk melakukan pengawasan di lingkungan masing-masing,” ujar TB Hasanuddin.

Para pemimpin nonformal di daerah juga perlu diberi pemahaman agar responsif melaporkan berbagai temuan di wilayahnya terutama ketika melihat hal-hal yang mencurigakan. Koordinasi dengan aparat keamanan setempat pun penting untuk memudahkan komunikasi.

“Kemudian di level atas juga diperlukan semacam koordinasi yang terus-menerus sehingga ruang gerak teroris menjadi lebih sempit. Harus dipahami bahwa terorisme itu berasal dari kelompok-kelompok radikal,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan Direktur Aliansi Indonesia Damai (Aida) Hasibullah Satrawi. Menurutnya, terorisme dan radikalisme merupakan persoalan kompleks yang memiliki banyak dimensi. Oleh karena itu, cara penanganannya harus dengan kerja bersama yang tentunya mempunyai banyak kemampuan dan otoritas.

Dengan demikian, sangat tepat jika pemerintah ke depannya bisa menggunakan berbagai macam potensi untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Penuntasan kasus terorisme dan radikalisme bukan dilakukan hingga ke akar-akarnya, melainkan wajib dimulai dari akar-akarnya.

“Artinya di situ kita menginginkan adanya sebuah pengetahuan yang bukan single factor. Bukan semata-mata menyasar persoalan ideologi, politik, dan ekonomi saja. Di sini banyak faktor yang menjadi sebuah adonan dan kita sebut sebagai terorisme.”

Menurutnya, apabila pemerintah telah memastikan persoalan itu berlatar ideologi, kebijakan yang pantas diterapkan ialah dengan pendekatan berbasis ideologi. Begitu pula jika kasus tersebut dianggap bermuara dari konflik ataupun hal ekonomi yang terjadi tengah masyarakat.

“Di seberang sana kita tahu negara punya banyak kemampuan dan otoritas sehingga negara harus bisa mendesain seluruh kebijakan itu untuk dapat menyentuh persoalan terorisme sesuai dengan akar masing-masing,” ujarnya.

Peran korban

Hasibullah memandang mindset penyelesaian persoalan terorisme dan radikalisme yang menggunakan desain tersebut sangat strategis. Apalagi, Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius pernah mengatakan bakal mengedepankan pendekatan humanistis melalui keluarga korban dan mantan pelaku secara kombinatif.

“Karena melalui korban minimal kita bisa membendung suplai regenerasi dan menyampaikannya ke publik. Ini penting. Berbicara teroris itu bukan hanya tentang mereka yang sudah terpapar, melainkan juga bagaimana memastikan orang yang belum terpapar tidak akan terpapar,” terang dia.

Menurut Hasibullah, semua potensi yang dimiliki negara dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Hal itu pula yang bakal menjadi distorsi bagi pemerintah karena penyelesaian terbaik bukan mengandalkan satu pendekatan saja. (Gol/P-2)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...