HomeBeritaKorban dan Mantan Pelaku...

Korban dan Mantan Pelaku Ajak Guru Ajarkan Perdamaian

Dok. AIDA – Suasana ceria para peserta saat ice breaking dalam kegiatan Pelatihan Guru Belajar Bersama Menjadi Guru Damai di Kendal, Jawa Tengah (21/10/2017).

 

Aliansi Indonesia Damai (AIDA) pada 21-22 Oktober 2017 menyelenggarakan Pelatihan Guru dengan tema “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” di Semarang, Jawa Tengah. Belasan guru dari empat sekolah di Kota Semarang dan Kabupaten Kendal mengikuti kegiatan secara aktif. Tim Perdamaian AIDA yang terdiri atas korban dan mantan pelaku terorisme hadir untuk berbagi pengalaman dengan para peserta.

Anggota Tim Perdamaian dalam kegiatan tersebut adalah Nanda Olivia Daniel, penyintas aksi teror Bom Kuningan 2004, dan Kurnia Widodo, mantan anggota kelompok teroris jaringan Cibiru, Bandung. Secara bergiliran Nanda dan Kurnia berbagi pengalaman tentang masa lalu dan perjuangan mereka untuk bangkit dari keterpurukan.

Kurnia menceritakan liku-liku hidupnya saat bergabung dengan kelompok kekerasan. “Saya terpapar dengan ideologi ekstrem sejak saya sekolah SMA di Lampung. Awalnya saya diajak teman saya untuk ikut pengajian,” ujarnya. Dalam kelompok tersebut dia didoktrin untuk berjuang mencapai tujuan dengan cara-cara kekerasan, termasuk melakukan aksi teror. Kiprahnya dalam kelompok teroris berlanjut saat dia pindah ke Bandung. Dia termasuk salah satu anggota teroris yang terampil membuat bahan peledak.

Sekian waktu berlalu akhirnya pergerakannya diendus pihak berwajib. Dia ditangkap dan diadili, kemudian divonis hukuman penjara selama enam tahun.

Di dalam penjara ia mulai mengevaluasi aktivitasnya di dunia kekerasan. Dia mengaku pernah dikafirkan oleh narapidana teroris lain karena berbeda pendapat. Seiring waktu dia mulai menyadari kekeliruan ideologi kekerasan yang diajarkan kelompoknya dahulu. Kesadarannya semakin menguat setelah dipertemukan dengan korban aksi teror dan keluar dari penjara.

Dia mengaku sering merasa bersalah dan empatinya selalu muncul terhadap korban yang menderita akibat aksi teror. Dengan fasilitasi dari AIDA, pada 2016 dia berkesempatan meminta maaf kepada para korban dan berekonsiliasi dengan mereka. Dalam kegiatan Pelatihan Guru di Semarang siang itu dia mengulang permintaan maafnya kepada Nanda sebagai salah satu korban terorisme.

Gayung bersambut, dengan penuh kebesaran hati Nanda telah memaafkan Kurnia. Dia mengaku pada awalnya sempat merasa sangat berat untuk memaafkan orang-orang yang dahulu terlibat terorisme karena telah menimbulkan kesakitan dan kepedihan mendalam. Akan tetapi, semakin lama dia sadar bahwa mereka telah meninggalkan kelompok teroris dan sekarang aktif mengampanyekan perdamaian sehingga dia bersedia memberikan dukungan.

Sementara itu, para peserta mengaku mendapatkan wawasan baru mengenai pentingnya menjaga perdamaian sekaligus mewaspadai ancaman ekstremisme dan terorisme, secara khusus di lingkungan sekolah. Beberapa peserta mengapresiasi kegiatan tersebut karena dapat menyatukan korban dan mantan pelaku untuk menyuarakan perdamaian.

Peserta dari SMAN 3 Semarang mengharapkan dari kegiatan ini pihak sekolah dapat menentukan langkah tepat untuk meminimalisir pengaruh-pengaruh negatif di kalangan pelajar. “Kami telah membuat panduan-panduan mengajar yang diterbitkan oleh Dinas (Pendidikan-red) Provinsi yang tujuannya untuk mencegah radikalisme, dan akan kami gabungkan dengan metode dan data dari AIDA,” ujarnya.

Selain delegasi dari SMAN 3 Semarang, para peserta lainnya yang berasal dari SMAN 1 Kendal, SMAN 1 Weleri, dan SMA Uswatun Hasanah Semarang juga aktif berpartisipasi dalam kegiatan. [F]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...