HomeBeritaMemaafkan untuk Syiar Perdamaian

Memaafkan untuk Syiar Perdamaian

Peserta menampilkan yel kelompoknya dalam Dialog Interaktif Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh di SMAN 3 Pandeglang
Dok. AIDA – Peserta menampilkan yel kelompoknya dalam Dialog Interaktif Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh di SMAN 3 Pandeglang (21/4/2017).

 

“Cobaan yang Bapak alami begitu berat, apakah di hati Bapak ada rasa dendam terhadap pelaku pengeboman,” tanya seorang siswa kepada Iwan Setiawan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 4 Pandeglang, Banten pertengahan April lalu.

Iwan ialah penyintas aksi teror bom di Kedutaan Besar Australia kawasan Kuningan Jakarta Selatan, 9 September 2004. Kendati mengalami berbagai penderitaan akibat ledakan bom, dia mengaku tak mendendam pelaku. Dia justru memaafkan dan mendoakan orang-orang yang terjerat paham kekerasan agar kembali ke jalan perdamaian.

Dia menceritakan pengalamannya saat difasilitasi oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) untuk bertemu dengan salah seorang pelaku Bom Kuningan 2004 di sebuah lembaga pemasyarakatan beberapa waktu lalu. “Saat itu saya berdoa semoga pelaku selalu sehat dan bisa syiar ke rekan-rekan yang lain untuk kembali ke jalan yang benar atau jalan perdamaian agar tidak ada lagi aksi teror,” ujarnya.

Pria asal Brebes, Jawa Tengah ini telah ikhlas menerima musibah yang menimpa diri dan istrinya tiga belas tahun silam. Akibat ledakan bom indra penglihatan sisi kanannya hilang. Bom juga menyebabkan istrinya menderita luka dalam hingga menyebabkan meninggal dunia dua tahun pascaperistiwa. Ia meyakini apa yang menimpanya sudah menjadi suratan takdir. Dia mengatakan segala yang dimiliki manusia sejatinya adalah milik Tuhan sehingga manusia harus ikhlas bila Sang Pemilik mengambil yang dimiliki-Nya.

Ketegaran yang sama ditunjukkan penyintas Bom JW Marriott 2003, Didik Hariyono. Di hadapan puluhan siswa SMAN 17 dan SMK Budi Utama Pandeglang, ia mengaku telah mengikhlaskan ketentuan Sang Pencipta, yaitu mengalami musibah ledakan bom. Pasrah dan sabar menjadi kunci utama baginya dalam menghadapi segala cobaan kehidupan.

”Saya juga sudah memaafkan perbuatan para pelaku. Bagi saya dengan memaafkan insyaallah kehidupan saya ke depan akan lebih baik dan bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan keluarga. Dengan memaafkan juga bisa menumbuhkan perdamaian di lingkungan kita,” tuturnya.

Akibat bom yang meledak di Hotel JW Marriott Jakarta, 5 Agustus 2003, tubuh Didik mengalami luka bakar mencapai 70 persen dan patah tulang di bagian tangan dan kaki kanannya. Cedera parah akibat ledakan bom itu memaksanya menjalani perawatan intensif selama sebelas bulan.

Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” adalah rangkaian safari kampanye perdamaian AIDA di Kabupaten Pandeglang, Banten. Kegiatan tersebut diselenggarakan di lima sekolah yaitu SMAN 3, SMAN 4, SMAN 17, SMKN 4, dan SMK Budi Utama. Tak hanya penyintas yang berbagi kisah dalam Dialog Interaktif. Iswanto, mantan anggota kelompok teror turut menceritakan pengalaman masa lalunya bergelut dalam dunia kekerasan hingga akhirnya memutuskan keluar dan kembali ke jalan perdamaian.

Iswanto mengatakan organisasi yang diikutinya dahulu melakukan pengeboman di sejumlah tempat sebagai bentuk aksi balas dendam atas penindasan terhadap umat muslim di berbagai tempat. “Saya tegaskan jangan membalas ketidakadilan dengan ketidakdilan karena tidak akan menyelesaikan masalah tapi justru menimbulkan masalah lagi,” tandasnya kepada para siswa peserta Dialog Interaktif.

Ayah tiga anak ini mengungkapkan dirinya bertekad keluar dari jaringan prokekerasan lantaran anjuran guru dan didukung penuh oleh keluarganya. Pertemuan dengan penyintas terorisme, dia menambahkan, juga memberi pengaruh signifikan terhadapnya. “Saya bertemu langsung dengan teman-teman korban bom, saya mendengar langsung ceritanya dan berdialog langsung dengan mereka. Itulah yang memperkuat saya untuk keluar dari jaringan kelompok kekerasan,” kata dia.

Mantan anggota kelompok teror lainnya, Kurnia Widodo, mengungkapkan hal serupa. Di depan para siswa SMAN 3 dan SMK Budi Utama ia menceritakan salah satu faktor yang mendorong dirinya meninggalkan kelompok masa lalunya adalah interaksinya dengan penyintas. “Di antara faktor yang mendorong saya untuk kembali ke jalan damai adalah setelah melihat dampak kekerasan yang dialami para penyintas. Setelah bertemu penyintas bom, saya timbul rasa empati dan menyesali semua tindak kekerasan masa lalu,” ucapnya.

Seorang siswa SMAN 3 mengatakan kegiatan Dialog Interaktif di sekolahnya telah mengajarkan betapa pentingnya perdamaian dalam kehidupan yang bhinneka. Ia tidak setuju bila ajaran jihad dalam Islam diartikan untuk melukai atau membunuh orang lain. “Jihad yang salah bisa merugikan dan mencoreng citra Islam,” tandasnya.

Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” diselenggarakan untuk menanamkan semangat perdamaian di kalangan pelajar Indonesia. Setelah mengikuti kegiatan diharapkan peserta memahami makna ketangguhan yang sebenarnya, yaitu pantang menyerah menghadapi cobaan, tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan lainnya, dan mampu memperbaiki kesalahan masa lalu dengan berbagai kebajikan. [SWD, AS]

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XIII Juli 2017.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...