HomeSuara KorbanKekerasan Bukanlah Jalan Terbaik

Kekerasan Bukanlah Jalan Terbaik

Dok. AIDA - R. Supriyo Laksono, korban Bom Bali 2002, menyampaikan kisahnya dalam Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama di Bandar Lampung (20/3/2018).
Dok. AIDA – R. Supriyo Laksono, korban Bom Bali 2002, menyampaikan kisahnya dalam Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama di Bandar Lampung (20/3/2018).

 

Tragedi Bom Bali I terjadi pada 12 Oktober 2002. Peristiwa ini merupakan aksi terorisme terbesar yang pernah terjadi di Indonesia sampai saat ini. Ledakan bom tersebut bukan hanya sempat mengguncang Indonesia tapi juga menjadi sorotan dunia internasional. Di balik itu semua tentunya kejadian itu meninggalkan luka dan duka yang mendalam bagi para korban.

Supriyo Laksono, akrab dipanggil Sony, merupakan salah satu korban aksi teror Bom Bali 2002. Dari kejadian itu dia mengalami luka ringan di kepala akibat kejatuhan asbes, atap di hotel tempatnya bekerja. Yang paling membuatnya sedih adalah ketika tragedi itu merenggut nyawa istri sekaligus ibu dari anak-anaknya, yaitu alm. Lilis Puspita.

Sony sangat tidak menyangka istrinya meninggal dunia terkena ledakan bom. Saat kejadian, Lilis sedang dalam perjalanan hendak menjemput Sony. Nahas, ketika melaju di Jalan Legian ledakan sangat besar menyambar. Ledakan itu merusak dan membakar apa saja yang ada di dekatnya, baik benda maupun manusia. Sony sangat terpukul ketika mendapati jenazah almarhum istrinya hanya tersisa potongan-potongan kecil, tidak utuh lagi.

Jiwa Sony sempat terpukul akibat teror Bom Bali, seakan-akan tak sanggup untuk menghadapi musibah. Dia semakin sedih melihat dampak psikologis yang terjadi pada diri anak-anaknya. Putra dan putrinya yang semestinya tumbuh dengan bahagia dalam kasih sayang dan pelukan kedua orang tuanya harus menerima kenyataan bahwa ibundanya telah tiada. Sony merasakan buah hatinya tidak hanya terpukul mengetahui ibunya telah meninggal dunia, tetapi juga sedih melihat ayahnya begitu patah semangat. Padahal sosok ayah menjadi harapan terakhir mereka untuk memberikan kasih sayang penuh.

Hingga suatu waktu akhirnya seorang kakak menyadarkan Sony. Dia menarik tangan Sony untuk melihat anak-anaknya ketika sedang tertidur seraya berkata, “Lihat anakmu tidur, kamu ndak kasihan? Mereka sudah kehilangan ibunya. Kamu mau tambah lagi mereka kehilangan bapaknya?” Dari momen itu Sony merenungkan nasihat kakaknya.

Dia pun mencoba bangkit dari keterpurukan dan mencoba menjadi ayah sekaligus ibu yang baik bagi dua buah hatinya. Akan tetapi, dia menyadari betapa pun kerasnya ia mencoba, posisinya tentu tidak dapat menggantikan kasih sayang seorang ibu. Ia pun harus berkonsultasi kepada ibu-ibu lain untuk menanyakan hal apa yang sekiranya baik terkait perkembangan anaknya.

Usaha apa pun ia tempuh untuk keberlangsungan hidup anaknya dengan kasih sayang penuh yang ia curahkan. Hanya kasih sayang itulah yang dapat ia limpahkan kepada anak-anaknya. Bayangkan betapa sulitnya seorang ayah yang mati-matian bekerja sebagai tulang punggung keluarga, harus berusaha pula menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya. Begitu pula sebaliknya untuk para korban perempuan yang harus kehilangan suami sebagai tulang punggung keluarganya.

Meskipun sangat sedih Sony menganggap kejadian Bom Bali sebagai cobaan yang ditimpakan Tuhan untuknya dan anak-anaknya. Aksi kekerasan itu sangat keji dan sangat bertentangan dengan ajaran agama mana pun.

Dia mengaku keinginan untuk membalas dendam kepada pelaku pernah tebersit di pikiran. Dia bersyukur sebelum dendamnya tersampaikan dia sudah tersadarkan bahwa kekerasan bukanlah jalan terbaik. Banyak pihak telah mendorongnya untuk mengurungkan niat membalas dendam kepada pelaku kekerasan. Di antaranya adalah dari Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Bali.

Beberapa waktu setelah Bom Bali berlalu dia bersama korban-korban lainnya mendirikan Yayasan Isana Dewata, perkumpulan para korban dan keluarga korban aksi teror Bom Bali. Dalam perkumpulan itu para korban saling menguatkan semangat untuk tidak putus asa menghadapi tantangan kehidupan. Dia juga turut membidani berdirinya Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) yang menjadi wadah perkumpulan komunitas korban aksi teror yang terjadi di Indonesia, termasuk para korban Bom JW Marriott 2003, Bom Kuningan 2004, dan Bom Thamrin 2016. YPI menjalin kerja sama dengan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) untuk mengampanyekan perdamaian.

Sony pun aktif mengikuti program-program untuk mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat luas bersama AIDA. Dalam satu kegiatan AIDA dia dipertemukan dengan mantan pelaku terorisme yang telah meninggalkan dunia kekerasan. Setelah melalui proses akhirnya terbentuk rekonsiliasi antara Sony dengan mantan pelaku terorisme. Dia mengendapkan nafsu amarahnya terhadap mantan pelaku dan memilih untuk memaafkan.

“Kekerasan tidak perlu dibalas dengan kekerasan,” kata dia. Dia mengaku dengan memaafkan batinnya menjadi semakin tenang, tidak terbebani rasa benci. Di akhir setiap kesempatan kampanye perdamaian bersama AIDA, ia selalu menyelipkan pesan perdamaian. “Kekerasan bukanlah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah. Jagalah bangsa Indonesia yang ramah, tamah, dan gotong royong. Dan, jagalah toleransi antarumat beragama dan mari kita hidup dengan rukun,” ujarnya. [MSZ]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...