HomeBeritaForum Perdamaian Dunia Usulkan...

Forum Perdamaian Dunia Usulkan ‘Jalan Tengah’ untuk Tangkal Ekstremisme

Kepala Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerja Sama Antarnegara dan Peradaban (UKP-DKAAP), Din Syamsudin, bersama tokoh dari beberapa negara, di Hotel Sultan, Semanggi, Jakarta Pusat, Kamis (16/8/2018).
Dok. Tribunnews.com – Kepala Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerja Sama Antarnegara dan Peradaban (UKP-DKAAP), Din Syamsudin, bersama tokoh dari beberapa negara, di Hotel Sultan, Semanggi, Jakarta Pusat, Kamis (16/8/2018).

 

Dian Septiari

THE JAKARTA POST/JAKARTA

Dunia seharusnya tidak terjebak dalam ekstremitas berdasarkan keyakinan keagamaan atau ideologi nasional, dan mengambil “jalan tengah”. Demikian pesan yang dikumandangkan dalam pertemuan dua tahunan ketujuh Forum Perdamaian Dunia di Jakarta yang dimulai pada Selasa.

Keyakinan ekstremis dari semua jenis, termasuk yang mengatasnamakan agama dan ideologi nasional, diidentifikasi sebagai penyebab ketidakaturan global, ketidakpastian dan gangguan dalam bentuk krisis seperti perubahan iklim, kerawanan pangan dan perang, serta krisis ekonomi dan keuangan.

“Jalan tengah seharusnya menjadi solusi atas krisis peradaban dunia,” kata Din Syamsuddin, utusan khusus presiden untuk dialog dan kerja sama antaragama dan peradaban saat acara pembukaan pada Selasa.

Forum ini dihadiri oleh puluhan tokoh agama, akademisi dan aktivis perdamaian dari 43 negara, serta tokoh-tokoh terkemuka dari Indonesia.

Acara tiga hari tersebut –berbeda dengan event tahunan Forum Perdamaian Dunia yang diselenggarakan Schengen Peace Foundation yang mengadakan pertemuan ke-12 di Kanada April lalu– diselenggarakan secara bersama oleh Kantor Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban, Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) Indonesia, dan Cheng Ho Multicultural and Education Trust yang berbasis di Kuala Lumpur.

Forum dibuka oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, yang menekankan bahwa mengarusutamakan pendekatan jalan tengah tidak mudah dan menuntut komitmen dan tekad kuat.

“Pendekatan jalan tengah harus diimplementasikan dalam sebuah komunitas yang terbuka dan toleran, dan diterjemahkan ke dalam program yang dapat dilaksanakan,” ujarnya.

Din berbicara kepada wartawan setelah upacara pembukaan bahwa forum itu bertujuan untuk mengirim pesan moral kepada dunia tanpa perjanjian yang mengikat secara hukum.

“Ekstrimitas radikal terjadi di banyak aspek kehidupan masyarakat,” kata dia, mengambil contoh sebuah sistem ekonomi ekstrem di mana orang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin, menciptakan ketidakseimbangan.

Sementara itu, ia mengatakan radikalisme agama disebabkan oleh “kesalahpahaman” terhadap ajaran agama.

“Radikalisme sebagian besar dipicu oleh faktor-faktor non-keagamaan seperti ketidaksetaraan dan disparitas dalam ekonomi dan politik,” ujarnya, memastikan bahwa Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar, adalah moderat.

“Tidak mungkin untuk memiliki stabilitas jika kaum muslim tidak toleran,” katanya.

Berbagai penelitian yang diterbitkan lembaga pengawas hak asasi manusia seperti Setara Institute dan Wahid Institute telah melaporkan hal sebaliknya, di mana telah terjadi peningkatan tindakan intoleransi keagamaan di Indonesia.

Setara Institute mengungkapkan tahun lalu bahwa pelanggaran kebebasan beragama meningkat menjadi 208 insiden pada 2016 dari 197 pada 2015 dan 134 pada 2014, sementara tindakan intoleransi keagamaan meningkat menjadi 270 kasus tahun lalu dari 236 pada 2015 dan 177 pada 2014.

Setelah acara pembukaan, panel khusus yang dimoderatori oleh mantan menteri luar negeri Indonesia, Hassan Wirajuda, diadakan pada sore. Dalam diskusi, Hassan mengatakan pendekatan jalan tengah diperlukan untuk menjembatani perbedaan di antara berbagai peradaban, begitu pula untuk mencegah konflik.

Presiden Negara Federasi Mikronesia, Peter M. Christian mengatakan perdamaian harus menjadi topik permanen diskusi, dan tidak hanya muncul pada masa-masa konflik.

Dia mengatakan jalan tengah harus didefinisikan dengan jelas, “kalau tidak kita akan dituduh tidak ingin menentukan salah sebagai salah, atau benar sebagai benar, dan hanya mengambil jalan keluar paling gampang”.

Pada Rabu, beberapa panel terpisah akan diadakan untuk membahas implementasi jalan tengah dalam agama, ideologi nasional, ekonomi dan politik, sementara panel lain fokus pada budaya akan diadakan pada hari Kamis. [MSZ]

Artikel ini diterjemahkan dari The Jakarta Post Edisi 15 Agustus 2018

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....