HomeBerita“Islam Sangat Beda Sekali...

“Islam Sangat Beda Sekali Dengan Terorisme”

Dok. AIDA - Para peserta menyimak penuturan kisah Dwi Siti Romdhoni, korban Bom Thamrin 2016 (berbaju merah), dan Sari Puspita, korban Bom JW Marriott 2003 (bergamis hitam), dalam Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama di Yogyakarta (28/11/2018).
Dok. AIDA – Para peserta menyimak penuturan kisah Dwi Siti Romdhoni, korban Bom Thamrin 2016 (berbaju merah), dan Sari Puspita, korban Bom JW Marriott 2003 (bergamis hitam), dalam Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama di Yogyakarta (28/11/2018).

 

Semua perhatian tertuju kepada dua perempuan yang duduk di muka forum. Sari Puspita, korban Bom JW Marriott 2003, dan Dwi Siti Rhomdoni, korban Bom Thamrin 2016, secara bergantian menceritakan pengalaman sewaktu terdampak aksi teror.

Demikian gambaran suasana sesi ‘Silaturahmi dengan Korban’ dalam Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama di Yogyakarta akhir November lalu. Kegiatan ini diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sebanyak 28 kader Muhammadiyah dan Aisyiyah mengikuti kegiatan dengan aktif.

“Bagaimana pandangan ibu berdua terhadap Islam setelah menjadi korban dari aksi kekerasan yang dilakukan oleh orang yang mengklaim perbuatan mereka adalah untuk berjihad?” tanya salah satu peserta.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Sari mengaku kecewa karena ada segelintir muslim yang menyalahartikan jihad dengan melakukan teror dan mengorbankan banyak orang. “Mereka tahu nggak yang korban itu siapa?Bukannya saudaranya sendiri? Bahkan yang seiman. Jadi nggak masuk alasan dia jihad karena agama. Kalau dia mengaku Islam kan harusnya kita saudara. Kenapa seiman itu harus membunuh, emang di agama diajarkan?” kata dia.

Senada dengan itu, Dwi menambahkan bahwa Islam yang dia yakini tak pernah mengajarkan kekerasan atau menyakiti orang lain. Yang ada justru anjuran untuk berkasih sayang dan menumbuhkan perdamaian di antara sesama manusia.“Kalau Islam dikaitkan dengan teroris bagi saya itu hanya personal.Di luar Islam juga ada teroris.Terorisme itu tindakan menteror orang, tidak berlandaskan agama. Jadi agama yang saya yakini, Islam, tetap agama yang baik, sangat beda sekali dengan terorisme,” ujarnya.

Dalam kegiatan Sari menuturkan kesaksiannya saat terguncang bom hingga terlempar ke atas sampai menyentuh plafon Restoran Syailendra di Hotel JW Marriott Jakarta 14 tahun silam.Beberapa luka di tubuhnya mengucurkan darah dan dia rasakan kepalanya sangat sakit.

Sementara itu, Dwi mengisahkan perjuangannya menyelamatkan jiwa dan raga saat ledakan bom disertai aksi baku tembak terjadi di depan kedai kopi di kawasan Thamrin Jakarta Pusat pada 14 Januari 2016. Dia terjatuh dan tertindih beberapa orang yang sama-sama panik ingin menyelamatkan diri.Akibatnya dia cedera di bagian tengkuk dan harus menjalani perawatan selama beberapa hari di rumah sakit.Dia juga menjalani kegiatan konseling psikologis untuk mengurangi trauma.

Salah satu peserta mengungkapkan kesan setelah mendengarkan kisah para korban. Sebagai guru yang setiap hari mengajarkan nilai-nilai agama kepada siswa, ia mengaku mendapatkan pelajaran berharga dari penuturan kisah korban. “Saya sangat terenyuh ketika korban dalam kondisi tidak berdaya, yang disebut hanya Allah, Allah, Allah.Itu sebenarnya religiusitas tertinggi seseorang.Ekspresi para korban mampu menunjukkan sebuah kedewasaan dalam bersikap itu menurut saya luar biasa,” ujarnya.

Selain penuturan kisah korban, para peserta pelatihan mendapatkan materi ‘Belajar dari Rekonsiliasi Tim Perdamaian’ dengan narasumber Sarbini, penyintas Bom Kuningan 2004, dan Kurnia Widodo, mantan pelaku terorisme. Setelah lama melakukan perenungan mendalam Kurnia menyadari kekeliruannya bergabung dengan kelompok teroris.Dia juga telah meminta maaf kepada para korban dan mengaku selalu iba bila mendengarkan kisah mereka.Sarbini sebagai salah satu korban terorisme pun telah memaafkan Kurnia.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, menjelaskan bahwa kegiatan di Yogyakarta ini bertujuan untuk menjalin jejaring dengan para ulama dan mubalig agar tumbuh kesadaran akan sudut pandang korban dalam dakwah di masyarakat. Kisah korban penting untuk dimunculkan dalam dakwah sebab efektif menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga perdamaian, serta perlunya mewaspadai paham ekstremisme dan terorisme.

“Sebagaimana diketahui sebagian besar pendekatan di dalam Alquran untuk menyelesaikan berbagai persoalan adalah kisah, kami di AIDA mencoba mengangkat pendekatan kisah korban untuk menjaga masyarakat kita dari aksi-aksi kekerasan, terutama yang mengatasnamakan agama,” ujarnya.

Selain penuturan korban dan Tim Perdamaian, para peserta mendapatkan materi pengayaan.Di antaranya ‘Dakwah Islam yang Humanis’ disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, Dr. Hamim Ilyas.

Sekretaris PP Muhammadiyah, Dr. Agung Danarto, berkesempatan membuka acara secara resmi. Dalam sambutannya, dia menyatakan pelatihan ini penting dan bermanfaat untuk menyampaikan kepada umat bahwa terorisme atau kekerasan yang mengatasnamakan Islam harus dihentikan dan dicegah.“Kekejian itu jangan dibiarkan hidup terlalu lama.Kasih sayang, kebersamaan itulah yang harus senantiasa kita hidupkan, kita pelihara. Kalau Indonesia ini damai kita juga yang akan merasakan, kalau bisa makmur, sejahtera, maju, kita jualah yang merasakan,” kata dia. [MLM]

 

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XV Januari 2018.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....