HomeTajukMencari Damai di Era...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di sana. Konflik di Timur Tengah secara lebih luas perkembangannya semakin mengkhawatirkan, melibatkan AS-Israel melawan Iran dan menyeret proksi-proksi mereka di kawasan.

Derita kerugian akibat perang dirasakan seluruh bangsa. Rantai pasok minyak dunia otomatis terganggu. Harga BBM di berbagai negara terus terkerek naik. Di negeri kita, antrean warga mengular di SPBU berebut kuota BBM bersubsidi lantaran BBM nonsubsidi sudah tak terkejar mahalnya.

Ini membuktikan satu hal. Perang tidak pernah hanya urusan negara yang bertikai. Selalu ada efek bola salju yang dirasakan semua orang, bahkan rakyat di negara yang ribuan kilo jauhnya dari wilayah perang.

Yang lebih menyedihkan, perang-perang ini seperti tidak ada jalan keluarnya. Model penyelesai perang yang selama ini ditawarkan masih dominan menggunakan pendekatan negative peace (perdamaian negatif), mengabaikan prasyarat positive peace (perdamaian positif) yang dirumuskan Johan Galtung (1969).

Baca juga: Tantangan Perdamaian di Tahun 2026

Galtung membedakan dengan tegas antara perdamaian negatif, situasi sekadar tidak adanya perang, dan perdamaian positif, kondisi kehidupan yang relatif kondusif tanpa kekerasan struktural maupun kultural. Upaya diplomatik yang pernah ditempuh di Ukraina dan Timur Tengah selama ini hanya berkisar di tataran logika perdamaian negatif. Yang dilakukan sekadar gencatan senjata sementara, tanpa menyentuh variabel akar konflik yang dikategorikan oleh Galtung ke dalam tiga ranah, yaitu kontradiksi kepentingan, sikap (attitude), dan perilaku (behavior) para aktor perang.

Dalam kerangka Galtungian, konflik akan terus berulang (conflict relapse) selama tiga variabel utama tadi: kontradiksi, sikap, dan perilaku, tidak diintervensi secara simultan. Kenyataannya, mediasi internasional seperti yang dilakukan Pakistan, Turkiye atau PBB, hanya menyentuh variabel perilaku, menghentikan tembak-menembak. Variabel sikap, yang menyangkut rasa permusuhan, upaya saling mendelegitimasi, serta kontradiksi yang menyangkut keadilan akses kepada sumber daya, status teritorial dan kebutuhan mendasar lainnya, dibiarkan tak tersentuh.

Gambaran perang saat ini, situasi yang terbentuk adalah variabel kontradiksi dan sikap belum diperhatikan secara cukup, namun dunia internasional menuntut negara-negara yang berperang mengubah perilaku dari saling bermusuhan ke arah kerja sama yang konstruktif. Nyaris mustahil.

Baca juga: Hijrah dan Perdamaian

Di sinilah relevansi pengalaman Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menjadi penting. Sejak 2016 AIDA mengupayakan terjalinnya rekonsiliasi antara korban aksi teror dan mantan pelaku teror yang telah bertobat. Interaksi yang terjadi antara korban dan mantan pelaku selain berjalan sebagai upaya penegakan keadilan restoratif, dalam waktu yang sama menjadi proses pembangunan empati yang mampu meruntuhkan stereotip dehumanisasi, yang merupakan akar dari setiap kekerasan menurut Galtung.

Pendekatan yang ditempuh AIDA bisa menjadi inspirasi alternatif para pemimpin dunia untuk peduli dalam membangun titian yang bisa ditempuh pihak-pihak yang berperang menuju perdamaian.

Para pemimpin dunia, terutama yang terlibat perang, tidak boleh dibiarkan terjerembab dalam jebakan realisme (realist trap), yang menganggap bahwa konflik hanya dapat diselesaikan melalui keseimbangan kekuatan (balance of power). Temuan AIDA menunjukkan bahwa bahkan dalam konflik paling ekstrem antara korban aksi bom bunuh diri dan mantan pelakunya sekalipun, dapat diupayakan terjalinnya kerja sama untuk merajut jalan damai.

Dalam konflik antarnegara, korban sipil hampir pasti selalu menjadi objek alih-alih subjek rekonsiliasi. Model yang dikembangkan AIDA membuktikan ke arah sebaliknya bahwa korban tidak selamanya akan terpuruk tetapi bisa bangkit dan berdaya untuk menghadirkan perubahan dalam konflik. Semoga perang berakhir, berganti menjadi perdamaian abadi.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education;...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...