HomeBeritaMenggali Semangat Ketangguhan Tim...

Menggali Semangat Ketangguhan Tim Perdamaian

Belajarlah dari kehidupan apa yang bisa diterima. Terimalah keadaan meski itu sulit. Namun, di balik cobaan itu kita bisa menjadi manusia yang kuat, tangguh.

 

Demikian Kepala Sekolah SMAN 1 Pagelaran mengatakan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di Lampung dua pekan lalu. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari safari kampanye perdamaian Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Selain di SMAN 1 Pagelaran, Dialog Interaktif AIDA juga diselenggarakan di SMAN 1 Gadingrejo, SMAN 1 Sukoharjo, SMAN 1 Pringsewu, dan SMAN 2 Pringsewu. Kurang lebih 50 siswa di setiap sekolah menjadi peserta kegiatan.

Guru berkerudung itu menyampaikan pesan di atas dalam rangka mendorong siswa-siswinya agar tumbuh menjadi generasi yang berkarakter tangguh serta mencintai perdamaian demi kemajuan bangsa.

Fasilitator kegiatan, Agus Muhammad (peneliti Pusat Pengkajian Pesantren & Masyarakat), menerangkan bahwa perdamaian bukan merupakan barang jadi (taken for granted) melainkan harus diupayakan dan diciptakan. “Perdamaian tidak mungkin tanpa usaha. Ia tidak bisa sekali jadi. Ia harus terus diusahakan,” ujarnya di hadapan para siswa peserta Dialog Interaktif di SMAN 2 Pringsewu.

Dialog Interaktif di SMA N 1 Gadingrejo menghadirkan dua orang narasumber yang disebut sebagai Tim Perdamaian. Tim itu beranggotakan penyintas dan mantan pelaku terorisme. Mereka adalah Ni Kadek Ardani (penyintas Bom Bali II), dan Iswanto (mantan pelaku terorisme).

Foto Bersama Tim AIDA dan Tim Perdamaian Bersama Para Siswa Peserta Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Gadingrejo
Foto Bersama Tim AIDA dan Tim Perdamaian Bersama Para Siswa Peserta Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Gadingrejo

 

Kadek menjadi korban serangan bom di Pantai Jimbaran Bali yang terjadi pada 1 Oktober 2005. Saat kejadian, dia sedang bekerja di restoran tepi pantai yang disasar pelaku peledakan. Akibat bom, dia mengalami luka-luka, bahkan saat ini di dalam tubuhnya masih bersarang serpihan logam efek dari ledakan.

Menurut Kadek, apa yang menimpanya adalah bentuk kezaliman yang sangat keji dan melanggar perikemanusiaan. Meskipun demikian, dia memilih untuk memaafkan kejahatan yang ditimpakan pelaku. Dia tidak ingin dendam dan kebencian menyelimuti hati dan pikiran.

Iswanto, mantan anggota kelompok teroris Jemaah Islamiyah (JI), juga berbagi kisah dalam Dialog Interaktif. Ia mengaku bersyukur telah menjauhi pemikiran ekstrimisme, meninggalkan dunia kekerasan dan kini ikut berpartisipasi aktif dalam menyuarakan perdamaian.

Ia juga mengingatkan para peserta agar melestarikan kondisi damai di sekolah dan lingkungan tempat tinggal mereka. Dia juga meminta generasi muda mewaspadai penyalahgunaan ajaran agama sebagai pembenaran aksi kekerasan. Berdasarkan pengalamannya, dahulu dia dicekoki doktrin jihad yang diartikan secara sempit sebagai perang. Ia menegaskan bahwa makna jihad sangat luas, tidak terbatas pada perang. Menuntut ilmu, kata dia, juga termasuk jihad.

Doktrin-doktrin kelompok teroris membentuk Iswanto dulu menjadi sangat anti terhadap pemerintah dan umat nonmuslim. Saat duduk di bangku sekolah dia sering bolos pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Namun, setelah menyadari kekeliruan doktrin yang diajarkan kelompoknya, Iswanto memahami bahwa perbedaan adalah ketetapan Tuhan yang tidak bisa ditolak. Tuhan menghendaki manusia hidup rukun dan damai dalam perbedaan itu.

Dalam kegiatan Dialog Interaktif, Iswanto mengulangi permintaan maafnya kepada korban terorisme. Ia memohon maaf lantaran pernah tergabung dalam kelompok yang menyebarkan pemahaman teror. Kadek sebagai perwakilan dari korban terorisme pun memaafkan. Saling memaafkan di antara korban dan mantan pelaku menjadi titik tolak Tim Perdamaian mengampanyekan tradisi cinta damai di kalangan pemuda.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, mengatakan bahwa kisah mantan teroris dan korban bom serta rekonsiliasi keduanya harus memotivasi para siswa peserta Dialog Interaktif untuk menjadi generasi yang tangguh. Menurutnya, generasi tangguh seperti halnya penyintas adalah yang tidak gampang menyerah menghadapi cobaan. Generasi tangguh, belajar dari mantan pelaku, adalah yang berani jujur mengakui kesalahan di masa lalu, namun dia mau dan mampu untuk memperbaikinya. [FS]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....