HomeBeritaMemupuk Ketangguhan Generasi Bangsa

Memupuk Ketangguhan Generasi Bangsa

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Generasi muda bangsa wajib memupuk ketangguhan diri. Terlebih lagi dihadapkan pada tantangan era milenial yang begitu kompleks, seperti banjir informasi yang belum terverifikasi kebenarannya, fanatisme berlebihan, hingga pesatnya perkembangan teknologi, generasi muda bisa terbawa arus keburukan bila tidak memiliki ketangguhan diri.

Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Hasibullah Satrawi, dalam acara Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, Kamis (8/11/2018)
Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Hasibullah Satrawi, dalam acara Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, Kamis (8/11/2018)

 

Pesan itulah yang disampaikan Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Hasibullah Satrawi, dalam acara Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, Kamis (8/11/2018). Kegiatan serupa rutin dilaksanakan AIDA ke berbagai pelosok Tanah Air sebagai upaya untuk memperkuat semangat ketangguhan generasi muda bangsa. “Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat semangat ketangguhan, menjadi generasi tangguh,” jelasnya.

Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir itu menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, keadaan dunia tengah mengalami kemajuan yang sangat pesat, namun sekaligus mengkhawatirkan. Di satu sisi, perkembangan teknologi bisa mempermudah manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Namun di sisi lain, berbagai kemajuan modern secara tidak sadar bisa membuat setiap orang terjebak dalam hal-hal negatif.

“Perkembangan mutakhir ini bisa disebut baik-baik tapi menakutkan. Disebut kabar baik, karena perkembangan sekarang ini memanjakan umat manusia. Komunikasi dan transportasi tidak lagi susah seperti zaman dulu. Buruknya, karena dari berbagai macam perkembangan ini, kita secara tidak sadar sangat berpotensi terbawa ke dalam hal keburukan,” tuturnya.

Hasibullah mencontohkan, melalui informasi yang bisa diakses dengan mudah, kita bisa mengetahui apa yang terjadi di berbagai belahan dunia. Meskipun demikian, butuh ketangguhan untuk memverifikasi informasi yang ada agar tidak terjebak pada penyebaran informasi palsu atau pragmatisme politik. “Misalkan yang terjadi di belahan Barat hari ini kita bisa tahu di sini, peperangan di Timur Tengah kita bisa tahu di sini. Kalau dikatakan peperangan di sana demi A, demi B, dan demi C, kalau kita tidak verifikasi bisa jadi kita langsung meyakininya, dan ini berbahaya,” katanya.

Pria asal Pulau Garam itu menambahkan, dampak cukup nyata dari pribadi yang tidak tangguh bisa berupa sikap yang mudah menelan informasi dengan apa adanya, tanpa memverifikasi terlebih dahulu kebenarannya. Akibatnya, muncul fanatisme dan dukung mendukung kelompok secara berlebihan. “Bahkan kita bisa langsung dukung-mendukung tanpa mengetahui kebenaran sesungguhnya. Nah, ini yang saya sebut sebagai kabar buruknya. Ibarat pohon kita ini terlepas dari akar-akar yang menjaga kita semua,” tandasnya.

Maka dari itu, menurut Hasibullah, kegiatan penguatan ketangguhan bagi para pelajar sangat penting dilakukan agar generasi muda bangsa di masa depan bisa diharapkan menjadi generasi tangguh yang tidak mudah terjebak oleh segala kemajuan modern dan tidak meninggalkan begitu saja identitasnya. “Oleh karena itu, kegiatan ini penting untuk sama-sama memperkuat ketangguhan,” pungkasnya. [AH]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...