HomeBeritaAktivis Mahasiswa Siap Suarakan...

Aktivis Mahasiswa Siap Suarakan Perdamaian

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Puluhan aktivis mahasiswa dari berbagai kampus se-Jabodetabek berkomitmen untuk menyuarakan perdamaian bagi Indonesia. Komitmen itu tampak saat  mereka mengikuti Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), di Kota Bogor, Rabu-Kamis, (5-6/12/2018).

Pelatihan itu menghadirkan Guru Besar UIN Jakarta, Prof. Dr. Azyumardi Azra CBE sebagai keynote speaker. Narasumber lain dalam pelatihan di antaranya adalah pakar terorisme dari Universitas Indonesia, Solahudin, serta sejumlah korban dan mantan pelaku terorisme.

AIDA menghadirkan Sarbini (korban Bom Kuningan 2004), Samsudin Sipayung (korban Bom Kuningan 2004), dan Hairil Islami (korban Bom Thamrin 2016) untuk berbagi pengalaman kepada para mahasiswa peserta pelatihan. Dari pihak mantan pelaku, AIDA mengundang Kurnia Widodo, seorang mantan narapidana kasus terorisme yang telah bertobat.

Pada sesi Silaturahmi Dengan Korban Terorisme, Hairil dan Samsudin secara bergantian berkisah tentang dampak aksi teror yang menyisakan luka dan trauma dalam kehidupan mereka. Hairil mengaku senang dapat berbagi pengalaman kepada mahasiswa tentang kejadian Bom Thamrin pada 14 Januari 2016 yang menimpanya. Sebabnya, saat kejadian dia masih berstatus mahasiswa seperti halnya para peserta pelatihan. Hairil berharap aksi teror tidak akan terjadi lagi di mana pun sehingga tidak muncul lagi korban-korban seperti dirinya.

Secara terpisah Sarbini dan Kurnia berbicara di hadapan peserta pelatihan dalam sesi Belajar dari Rekonsiliasi Korban dan Mantan Pelaku. Kurnia sebagai seorang mantan anggota kelompok teroris menceritakan sepak terjangnya sebelum bertobat. Dia mengatakan salah satu hal yang membuatnya berubah adalah pertemuannya dengan korban terorisme. Sarbini yang terluka di bagian kepala hingga harus menerima puluhan jahitan mengaku tak menyimpan dendam kepada mantan pelaku. Dia memilih memaafkan.

Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)
Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Bogor, 5-6 Desember 2018. Photo: Dok. AIDA

Sejumlah peserta menyampaikan tanggapan setelah mengikuti pelatihan.

“Melalui kegiatan ini saya bisa memperoleh pengalaman dan pemahaman baru tentang pentingnya perdamaian Indonesia. Kisah mantan pelaku terorisme yang meminta maaf kepada korbannya dan menyesali apa yang telah diperbuat di masa lalu menjadi inspirasi untuk berubah menjadi lebih baik. Begitu pula para korban terorisme yang ikhlas memaafkan mantan pelaku terorisme mengajari kita tentang pentingnya sikap lapang dada. Semoga damai itu benar-benar hadir bagi kita, bangsa Indonesia,” kata mahasiswa Universitas Negeri Jakarta usai pelatihan.

Seorang aktivis mahasiswi Universitas Yarsi mengaku senang bisa memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan ini. Menurutnya, pelatihan ini memberi banyak pengetahuan baru tentang perdamaian bagi dirinya. Ia juga mengaku bisa membangun jaringan di antara mahasiswa-mahasiswa lain untuk menjadi duta perdamaian di kampus masing-masing.

“Terima kasih AIDA dan teman-teman semua. Senang sekali bisa ikut pelatihan ini karena bisa memperkokoh pengetahuan saya tentang perdamaian. Senang juga bisa kenal kalian semua calon duta perdamaian di kampus masing-masing,” kata mahasiswi berkacama mata itu.

Tak ketinggalan, seorang mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun juga mengungkapkan rasa bahagianya bisa terlibat dalam kegiatan AIDA. Ia merasa beruntung karena tidak semua mahasiswa berkesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan itu. “Terima Kasih AIDA bisa kasih pengalaman baru, beruntung sekali saya bisa mengikuti kegiatan ini,” ujarnya.

Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa diikuti oleh aktivis mahasiswa yang terdiri dari enam kampus, yakni Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Yarsi, Universitas Islam Jakarta, Universitas Al Azhar Indonesia, Universitas As-Syafi’iyah, dan Universitas Ibnu Chaldun. [AH]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...