HomePublikasiNewsletterNewsletter Suara Perdamian Edisi...

Newsletter Suara Perdamian Edisi XVIII – Oktober 2018

Sahabat AIDA, Suara Perdamaian kembali hadir melaporkan kerja-kerja pembangunan perdamaian yang melibatkan korban dan mantan pelaku terorisme selama Juli-September 2018. Sebuah ulasan tentang pemberian kompensasi Negara kepada beberapa korban teror pada awal September lalu menjadi suguhan utama edisi ini. AIDA
mendorong agar kompensasi kepada korban-korban aksi terorisme di masa lalu juga segera ditunaikan.

Laporan tentang safari kampanye perdamaian AIDA di Serang pada bulan Juli menyusul. AIDA menyelenggarakan acara Dialog Interaktif dengan tema Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh di lima sekolah, yaitu SMA Nurul Islam, SMAN 2, SMAN 4, SMAN 6, dan MAN 1 Serang. Sekitar 250 siswa mengikuti kegiatan secara penuh.

Di antara rangkaian safari kampanye perdamaian di Serang adalah kegiatan Pelatihan Tim Perdamaian
yang diikuti oleh empat korban aksi terorisme serta seorang mantan pelaku. Laporan kegiatannya juga
bagian dari edisi ini.

Suara Perdamaian juga mengulas kegiatan Short Course Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan
Isu Terorisme Bagi Insan Media di Surabaya pada Juli 2018. Tak kurang 25 jurnalis media massa nasional
dan lokal mengikuti kegiatan secara aktif. Safari kampanye perdamaian di Poso, Sulawesi Tengah pada Agustus lalu juga dilaporkan. Di bumi sintuwu maroso AIDA menggelar Seminar Kampanye Perdamaian bertema Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh. Lima sekolah menjadi tuan rumah kegiatan, yaitu SMA GKST 1 Tentena, SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, dan SMAN 4 Poso. Kegiatan ini didukung oleh Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Laporan Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Petugas Pemasyarakatan di
Palembang dan Bekasi yang diselenggarakan pada Agustus lalu juga tersaji.
Edisi ini juga melaporkan kegiatan Silaturahmi AIDA dengan Korban Bom Surabaya di Surabaya, pada

September lalu. Selain itu, dilaporkan pula kegiatan Peringatan 14 Tahun Bom Kuningan yang diselenggarakan di Jakarta pada September lalu. Sebuah tulisan karya Ni Kadek Ardani, korban Bom Bali 2005, tentang pengalamannya melalui tragedi ditampilkan pada edisi ini. Wawancara dengan Sekretaris Jenderal
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Dr. Noor Sidharta, terkait kompensasi korban terorisme di masa lalu menjadi pungkasan edisi ini.

[pdf-embedder url=”https://www.aida.or.id/wp-content/uploads/2019/01/20181024-Newsletter-Edisi-XVIII-Oktober-2018-.pdf” title=”20181024 Newsletter Edisi XVIII Oktober 2018 -“]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Pentingnya Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Berdamai dengan diri sendiri merupakan hal yang sangat penting karena apabila tidak bisa berdamai dengan diri sendiri maka tidak akan bisa berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan. Pernyataan tersebut disampaikan penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun Ni Luh Erniati, penyintas bom Bali 2002, tidak ingin membalas dendam kepada pelaku/mantan pelaku terorisme. Ia pun tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku dukungan dari sesama korban terorisme sangat besar pengaruhnya bagi proses kebangkitan dirinya. Menurut dia dukungan sesama korban telah menguatkan dirinya untuk tidak terus larut dalam trauma, mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa memaafkan mantan pelaku terorisme. “Awalnya...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026 Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...