HomeBeritaTiga Tahun Bom Thamrin,...

Tiga Tahun Bom Thamrin, Korban Serukan Pesan Damai

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Para penyintas dan keluarga korban serangan teror bom di Jl. MH Thamrin Jakarta Pusat yang terjadi pada 14 Januari 2016 mengadakan acara untuk memeringati tragedi tersebut di Jakarta, Minggu (13/1/2019). Mereka yang menamakan diri sebagai komunitas Sahabat Thamrin menyatakan sikap dan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mewujudkan perdamaian dan menghargai perbedaan.

Salah satu korban Bom Thamrin, Agus Kurnia, mengatakan perbedaan di Indonesia adalah keniscayaan. Ia menilai tindakan teror seperti yang pernah menimpanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak menghargai perbedaan serta tidak menyukai perdamaian. “Perbedaan itu hendak mereka paksakan agar kita mau memilih sikap yang sejalan dengan pemikiran mereka. Cara apa pun mereka lakukan, termasuk dengan cara mengancam dan menebar ketakutan,” ujarnya saat diwawancara wartawan di bekas lokasi kejadian Bom Thamrin.

Secara khusus dalam momen pemilihan umum 2019, Agus mengajak masyarakat agar saling menghargai pilihan politik masing-masing. Ia khawatir bila perbedaan di antara bangsa Indonesia tidak dijunjung tinggi maka aksi-aksi kekerasan seperti Bom Thamrin 2016 bisa saja terulang. “Bukan tidak mungkin apabila masalah perbedaan ini disikapi secara negatif dan semakin berlarut, korban-korban perbedaan pemahaman dan keyakinan seperti kami akan terus bermunculan,” katanya.

Menurut Agus, Sahabat Thamrin menyelenggarakan peringatan tragedi Bom Thamrin untuk saling menguatkan para korban bahwa pahit getir peristiwa teror tiga tahun lalu tidak menyurutkan semangat hidup mereka. “Kalau trauma ya pasti jelas, tetapi harus saya lawan karena kawasan ini adalah jalan saya mencari nafkah,” kata pria asal Sumedang, Jawa Barat itu.

Dwi Siti Rhomdoni (Dwiki, kiri) dan Agus Kurnia (kanan), Penyintas Dalam Kegiatan Peringatan 3 Tahun Bom Thamrin, Minggu, (13/01/2019)
Dwi Siti Rhomdoni (Dwiki, kanan) dan Agus Kurnia (kiri), Penyintas Dalam Kegiatan Peringatan 3 Tahun Bom Thamrin, Minggu, (13/01/2019)

Seorang korban Bom Thamrin lainnya, Dwi Siti Rhomdoni, mengapresiasi perhatian Negara melalui Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) yang telah menyerahkan kompensasi kepada 13 korban Bom Thamrin dan 3 korban Bom Kampung Melayu pada September 2018 lalu. Di samping itu, ia mengharapkan agar hak-hak korban terorisme lainnya segera dipenuhi Negara sesuai amanat Undang-undang (UU) No. 5 Tahun 2018.

“Masih banyak korban yang belum mendapatkan kompensasi dari pemerintah. Mereka ada yang cacat fisik dan sering sakit sehingga harus mengundurkan diri dari tempat mereka bekerja. Pemerintah harus hadir membantu nasib mereka. Misalnya, dengan memberikan modal usaha, atau membantu biaya sekolah anak-anaknya,” kata perempuan yang akrab disapa Dwiki itu.

Meskipun demikian, Dwiki mengimbau para korban yang belum mendapatkan kompensasi untuk  bersabar. Sahabat Thamrin, kata dia, berkomitmen untuk terus mendampingi korban agar memperoleh hak-haknya. “Kami berharap korban lain yang belum menerima bantuan, kompensasi, dan dukungan dari Negara segera terpenuhi kebutuhannya,” ujarnya.

Secara bergiliran enam orang korban Bom Thamrin yang hadir dalam acara pagi itu membacakan pernyataan sikap Sahabat Thamrin. Di antara pesan dalam pernyataan sikap Sahabat Thamrin adalah ajakan seluruh masyarakat sebagai sesama bangsa Indonesia untuk menjaga persatuan demi terpeliharanya perdamaian.

“Marilah kita sama-sama kembali bergandengan tangan untuk merapatkan barisan. Kita terima perbedaan itu ada di dada masing-masing. Karena nilai hidup yang terpenting adalah bahwa kita semua bersaudara, sebangsa dan setanah air. Kebersamaan sangat indah demi terwujudnya persatuan dan perdamaian,” kata Agus. [AH]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia. Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara,...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...