HomeBerita“Itu Jalannya Tuhan yang...

“Itu Jalannya Tuhan yang Harus Kita Jalani”

Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menyelenggarakan kegiatan Dialog Interaktif dengan tema ‘Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh’ di SMA Plus Al-Khairiyah Badamusalam Serang, Banten pada akhir Januari lalu. Kegiatan menghadirkan Tim Perdamaian AIDA, yang beranggotakan korban dan mantan pelaku terorisme yang telah bertobat, untuk berbagi semangat ketangguhan kepada para pelajar. Sekitar 50 siswa SMA Al-Khairiyah mengikuti kegiatan secara aktif.

Dalam kegiatan, Renny A. Sitania, korban aksi teror bom di Jl. HR Rasuna Said Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004, berbagi kisah. Renny merupakan korban tak langsung dari aksi teror tersebut. Serangan teror itu merenggut nyawa kakak kandungnya, alm. Martinus Sitania. Sang kakak saat kejadian sedang berkendara motor, melintas di Jl. HR Rasuna Said. Tanpa dinyana sebuah mobil boks yang melaju di dekatnya memunculkan ledakan sangat keras.

“Saat ledakan, posisinya tidak terlalu jauh dari mobil boks. Tubuhnya hancur,” ucap Renny sambil terisak. Ia menambahkan, pihak kepolisian sempat kesulitan untuk mengidentifikasi jenazah Martinus lantaran sudah tidak utuh.

Meski kehilangan Martinus sudah berlalu lama, Renny merasakan haru, kesedihan, dan air mata selalu datang bila ia mengenang peristiwa Bom Kuningan 2004. Baginya, Martinus adalah sosok yang istimewa karena berperan dalam menopang kebutuhan ekonomi keluarga. Ketika sedang mengalami kesulitan hidup, kakaknya itulah yang sering memberikan bantuan kepadanya. Namun, takdir menggariskan Martinus meninggal dunia menjadi salah satu korban ledakan bom.

Renny A. Sitania, korban aksi teror bom di Jl. HR Rasuna Said Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004
Renny A. Sitania, korban aksi teror bom di Jl. HR Rasuna Said Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004

Menurut Renny, beberapa hari sebelum kejadian teror itu, Martinus menunjukkan hal aneh. Sang kakak memintanya untuk memasak tempe goreng hingga hangus dan hitam. Sebelumnya, meskipun Martinus menyukai tempe, tidak pernah ia meminta tempe goreng yang hangus. Renny mengaku sangat sedih jasad kakaknya terbakar sangat mengenaskan akibat serangan teror bom.

Para siswa SMA Al-Khairiyah menyimak secara saksama penuturan kisah Renny, keluarga dari korban Bom Kuningan 2004. Beberapa di antaranya menundukkan kepala dan terisak.

Renny sempat terpuruk, tidak bisa menerima kepergian kakaknya. Dukungan dan dorongan keluargalah yang membuatnya untuk tetap kuat dan tidak larut dalam kesedihan terlalu lama. Orang tuanya selalu menganjurkan agar dia bisa ikhlas, dan memaafkan orang-orang yang berbuat jahat kepada kakaknya.

“Ibu bilang, kamu harus ikhlas dan harus bisa memaafkan. Bapak saya bilang, bukan karena teroris kakak kamu nggak ada, tetapi itu jalannya Tuhan yang harus kita jalani. Dan, keluarga saya pun sudah memaafkan semuanya,” kata Renny.

Sejak menjadi anggota Tim Perdamaian AIDA, Renny bertekad untuk menyuarakan perdamaian, khususnya kepada kalangan generasi muda. Karena, kata dia, generasi muda adalah penerus bangsa yang harus didukung untuk menjadi pandai, hidup dalam kedamaian, dan terhindar dari kekerasan seperti aksi terorisme yang pernah menimpa saudaranya. Renny berharap pengalamannya bisa memompa semangat ketangguhan generasi muda dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Selain Renny, kegiatan Dialog Interaktif di SMA Al-Khairiyah juga menghadirkan Kurnia Widodo, seorang mantan pelaku terorisme yang telah bertobat, yang juga bergabung dalam Tim Perdamaian AIDA. Dalam kegiatan, Kurnia menceritakan bahwa pertemuannya dengan para penyintas terorisme membuatnya tersentuh, dan semakin menyadarkannya untuk menjauh dari dunia kekerasan.

“Bertemu korban membuat saya memikirkan tentang dampak yang ditimbulkan dari kelompok saya yang dulu. Hal itu tidak pernah terpikirkan oleh saya, bahwa korban-korban itu menderita lama. Saya meminta maaf kepada korban,” kata Kurnia.

Di akhir acara, siswa-siswi menyampaikan kesan setelah mengikuti Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”. Seorang siswi mengaku mendapatkan ilmu dan pengalaman berharga dari kegiatan itu. Ia juga mengaku akan berusaha menciptakan perubahan positif dalam dirinya demi masa depan yang lebih baik.

“Perubahan untuk diri saya sendiri, terutama memaafkan. Dulu kalau dijelekin sama orang lain, suka ingin membalas. Kalau sekarang karena nasihat dari Ibu Renny, untuk memaafkan, maka saya akan memaafkan,” ujarnya. [MSH]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....