HomeBeritaAntusiasme Mahasiswa STAIPI Menonton...

Antusiasme Mahasiswa STAIPI Menonton Film Tangguh

Aliansi Indonesia Damai– Serombongan mahasiswa tampak antusias mendatangi Aula Lantai 2 Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Persis (STAIPI) Bandung pertengahan April lalu. Mereka rela mengantre untuk mengikuti Diskusi & Bedah Film “Tangguh” yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAIPI bekerja sama dengan Aliansi Indonesia Damai (AIDA).

Tidak kurang dari 98 mahasiswa hadir dalam kegiatan itu. Film “Tangguh” sendiri merupakan film dokumenter produksi AIDA yang mengisahkan tentang perjalanan korban aksi teror bom dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan yang dialaminya. Di dalam film dikisahkan korban langsung yang mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya, ada juga yang kehilangan bola matanya, juga kisah korban tak langsung yang harus kehilangan suami dan orang tuanya. Selain itu, dalam film ini juga dikisahkan perjalanan pertobatan mantan pelaku terorisme dan komitmennya menebarkan perdamaian di Indonesia.

Film ini menceritakan bagaimana kedua belah pihak, baik korban maupun mantan pelaku, memilih untuk saling memaafkan dan menebar perdamaian. Para korban mengaku bahwa semua yang telah terjadi merupakan sebuah takdir yang harus dijalani dengan ikhlas. Mereka memilih memaafkan mantan pelaku karena dengan begitu hidupnya merasa lebih tenang.

Ekspresi kesedihan terlihat dari raut wajah para mahasiswa sepanjang pemutaran Film “Tangguh”. Para peserta tampaknya larut dalam emosi masing-masing. Salah seorang mahasiswa STAIPI dari Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam mengaku mendapatkan banyak hikmah setelah menonton film dokumenter tersebut. “Setelah menonton film ini saya bisa belajar tentang ketegaran baik dari korban maupun mantan pelaku,” ujarnya. Selain itu, dari Film “Tangguh” ia pun merasa perlu lebih berhati-hati dalam pergaulan dan pertemanan agar tidak terjerumus dalam paham kekerasan.

Secara terpisah, Lalan Sahlani, selaku perwakilan akademik dari STAIPI berpesan kepada mahasiswa agar bisa mengkaji segala sesuatu dengan keilmuan yang dimiliki sehingga bisa terhindar dari gerakan atau kelompok yang mengajarkan pemahaman yang ekstrem. “Untuk menangkal radikalisme, yang diperlukan adalah intelektualitas kalian sebagai mahasiswa,” ungkap Lalan dalam sambutannya.

Kegiatan Diskusi & Bedah Film “Tangguh” ini diselenggarakan sebagai salah satu bentuk kepedulian mahasiswa STAIPI dalam rangka ikut berkontribusi dalam melestarikan perdamaian di Indonesia. [LADW]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...