HomeOpiniMenghentikan Spiral Terorisme

Menghentikan Spiral Terorisme

Resensi Buku La Tay`as, Ibroh dari Kehidupan Teroris & Korbannya karya Hasibullah Satrawi

Oleh: M. Syafiq Syeirozi, alumnus PP Tambak Beras

Kekerasan, apa pun bentuk dan latar belakangnya, rentan memicu kekerasan lain sebagai ekspresi balas dendam. Terorisme pun tak lepas dari premis ini. Sebagian korban konflik komunal di Maluku dan Sulawesi Tengah pada awal Reformasi yang di kemudian hari terjerat kasus terorisme, cukup menjadi bukti. Beberapa anak pelaku terorisme yang meniti jalan kekerasan yang sama dengan orang tuanya, juga menguatkan hal itu.

Balas dendam menjadi motif utama para korban konflik hingga terlibat aksi terorisme. Lantaran rasa solidaritas keagamaan, sejumlah orang yang tidak terkait langsung dengan konflik juga terjerat pidana terorisme. Lagi-lagi motifnya balas dendam. Semangat yang kurang lebih sama juga melatari beberapa anak pelaku, meski faktor ideologi jauh lebih kental.

Keluarga korban terorisme juga tak terlepas dari dendam. Penulis buku ini, Hasibullah Satrawi, mengutip cerita korban Bom Kuningan 2004 yang berhasil meredam amarah kedua anaknya. Saat peristiwa ledakan yang mencederai ayahnya dan menewaskan ibunya, keduanya masih belum mengerti getir-pahit kehidupan. Saat beranjak besar, mereka sempat bercita-cita menjadi polisi dan tentara. Anak yang menjadi polisi akan menangkap para teroris, sementara yang tentara bertugas mengeksekusi mereka (hlm 134).

Balas dendam dan ideologi melatarbelakangi banyak kasus terorisme di Indonesia, tetapi faktor lainnya mustahil diabaikan. Menurut Hasibullah, ada beberapa faktor lain, yaitu semangat keagamaan, kezaliman terhadap umat Islam, problem sosial-ekonomi, pertemanan dan keluarga, serta hubungan guru-murid (hlm 37-53). Kesimpulan tersebut didapatkan Hasibullah dari perbincangannya dengan sejumlah pelaku terorisme, baik yang masih menjalani hukuman maupun yang telah menghirup udara bebas.  

Kendati tak merujuk secara eksplisit, Hasibullah tampak terpengaruh oleh teori spiral kekerasan Dom Helder Camara (Spiral of Violence: Prayer and Practice, 1971), terutama faktor-faktor penyebab terorisme yang sebagiannya saling berlilitan satu sama lain. Menurut Camara, spiral kekerasan dihasilkan dari tiga bentuk kekerasan yang bersifat personal, institusional, dan struktural, yaitu ketidakadilan sosial-ekonomi, kekerasan pemberontakan sipil, dan represi Negara. Kemunculan kekerasan satu menyebabkan kekerasan lainnya. Senada dengan Camara, Hasibullah mengakui bahwa terorisme adalah realitas multidimensi yang pencegahan dan penanggulangannya juga harus multistrategi.

Alih-alih mendedahkan cara-cara mengatasi faktor multidimensi tersebut, Hasibullah malah menawarkan alternatif disengagement dan deradikalisasi terorisme melalui peran mantan pelaku terorisme dan korbannya. Pendekatan yang belum banyak dilakukan di Indonesia.

Pembelajaran dari pelaku terorisme dan korbannya

Kehidupan mantan pelaku terorisme tak melulu seputar upaya reintegrasi dan resosialisasi dengan lingkungannya, serta ikhtiar melepaskan diri dari jerat jejaring kekerasan berbasis agama. Pengakuan atas kesalahannya di masa lalu dan permintaan maaf kepada korban dari perbuatannya sendiri maupun kelompoknya adalah sisi penting kehidupan mereka. Aspek yang kerap lolos dari pengamatan banyak pihak.

Sementara cerita korban terorisme tak sekadar soal kepedihan dan perjuangannya melanjutkan hidup. Upaya mereka untuk berdamai secara internal dengan kondisi tubuh cacat (korban langsung) dan keadaan keluarga yang tak lagi utuh (korban tak langsung), serta berdamai secara eksternal dengan orang-orang yang terlibat terorisme, juga tak bisa diabaikan. Pemaafan menjadi kunci kebangkitan mereka.

Hasibullah mengajak pembaca mengambil ibroh (pembelajaran) dari kisah korban dan mantan pelaku terorisme, dua pihak yang berada di posisi berbeda, namun kini dengan kelegawaan hati masing-masing mereka bekerja bareng memainkan peran sebagai duta perdamaian. Mantan pelaku memanggul risiko bertentangan dengan kolega jaringan lamanya, sedangkan korban terorisme dengan kebesaran hatinya berdamai dengan kenyataan.

Belajar dari masa lalu untuk hari esok yang lebih baik adalah perintah Allah Swt seperti termaktub dalam Q.S. Al-Hasyr: 18, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” Pelajaran puncak yang dipetik penulis dari kisah mantan pelaku terorisme dan korbannya adalah tidak membalas kekerasan dengan kekerasan dan tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan (hlm 213-220).

Tidak membalas kekerasan dengan kekerasan dan tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan.

Saat kekerasan dibalas dengan kekerasan dan ketidakadilan dibalas dengan ketidakadilan, maka yang muncul adalah korban-korban tak bersalah yang tak paham dengan permasalahan yang melatari aksi kekerasan tersebut. Para korban bom di Indonesia adalah contohnya.

Jika teori spiral kekerasan dihasilkan Camara dari pergulatan hidupnya sebagai pemuka agama sekaligus aktivis perdamaian, demikian pula dengan Hasibullah. Ia mendapatkan pelajaran di atas setelah sekian tahun mendampingi korban terorisme untuk mengadvokasi hak-haknya dari Negara, merekonsiliasi mereka dengan para pelaku terorisme, serta memberdayakan dua pihak tersebut untuk bekerja sama menghentikan spiral terorisme dan mewujudkan perdamaian.    

Kekurangan buku ini tidak membahas soal hak-hak korban terorisme secara lebih detail. Tak ada uraian strategi Hasibullah mengadvokasi mereka di hadapan lembaga-lembaga Negara yang berwenang. Hasibullah juga tidak mengungkapkan cerita bagaimana upaya merekonsiliasikan korban dengan pelaku terorisme yang secara kasat mata sangat sulit.

Terlepas dari itu, buku ini membuktikan bahwa pemaafan korban, rekonsiliasi, serta perhatian yang efektif terhadap mantan pelaku dan korban adalah salah satu kunci menghentikan spiral terorisme. Hal yang wajib diperhatikan oleh praktisi deradikalisasi dan disengagement terorisme.

Identitas Buku
Judul buku: La Tay’as Jangan Putus Asa: Ibroh dari Kehidupan Teroris
dan Korbannya
Penulis: Hasibullah Satrawi
Penerbit: Aliansi Indonesia Damai (AIDA)
Cetakan: Pertama, Februari 2018
Tebal: xx + 226 halaman
ISBN: 978-602-51366-0-3

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...