HomeSuara Korban“Saya Mengikhlaskan Semua Itu”

“Saya Mengikhlaskan Semua Itu”

“Saya pikir tidak terjadi apa-apa, karena saya tidak pernah kontrol. Tetapi, kalau mengedip ada cahaya di mata saya. Lama-lama kok cahaya itu semakin terang. Akhirnya saya periksa, ternyata pembuluh darah retina pecah.” Demikian Ruli Anwari menceritakan sakit yang dideritanya akibat serangan teror Bom Kuningan yang terjadi pada 9 September 2004 silam.

Pada hari yang nahas itu, Ruli sedang berada di dalam sebuah gedung di Jl. HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Tak pernah ia bayangkan, tiba-tiba ledakan sangat keras terjadi. Belakangan diketahui, sumber ledakan adalah bom yang dibawa sebuah mobil boks yang melintas di salah satu jalan protokol ibu kota itu. Ledakan bom sangat keras hingga membuat kerusakan di gedung tempat Ruli berada.

Pagi itu sebelum berangkat ke kawasan Kuningan, Ruli dan istri merasakan pengalaman yang tidak biasanya. Anak mereka menangis tidak ingin ditinggal pergi. Padahal, biasanya setiap pagi sang anak sudah terbiasa ditinggal di rumah bersama seorang asisten rumah tangga. Ruli dan istri tak mengira tangisan buah hati mereka mengandung isyarat.

Setelah sampai tujuan, sekitar pukul 10 pagi Ruli mengantarkan istri ke toilet. Tanpa disangka, terjadi sebuah ledakan dengan dentuman keras. Awalnya ia mengira ledakan tersebut berasal dari ban truk yang pecah. Namun ternyata, setelah ia melihat keadaan sekitar, barulah ia menyadari bahwa ledakan tersebut bersumber dari sebuah bom. “Setelah saya melihat semua kaca-kaca di depan saya jatuh, seperti film-film kalau adik-adik sering melihat,” ungkapnya dalam sebuah kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMK Budi Mulia Pakisaji, Kab. Malang pertengahan Maret lalu.

Ledakan yang bersumber dari mobil boks itu menghancurkan bangunan dan fasilitas publik di sekitar tempat kejadian. Meski gedung tempatnya berada cukup berjarak dari mobil pembawa bom, ia mengaku bisa melihat langsung bagaimana ledakan itu merusak semua benda.

Ia kemudian keluar dari gedung bersama sang istri. Suasana menjadi tidak kondusif. Tampak sejumlah orang terluka dan berhamburan di jalanan, banyak kendaraan di tempat parkir hancur, dan di saat yang sama, asap hitam membubung tinggi di sekitar kantor Kedutaan Besar Australia.  

Saat itu, Ruli fokus mengkhawatirkan keselamatan istrinya yang mengalami luka serius di bagian kaki. Baru ketika dalam perjalanan pulang, ia menyadari bahwa dirinya juga terluka. Beberapa serpihan kaca dan benda keras mengenai kepalanya. Ia pun harus mendapatkan jahitan di beberapa titik di kepalanya. Bukan hanya dampak fisik, Ruli juga mengalami dampak psikis. Tiga hari pasca kejadian, ia merasa shock berat dan fisiknya menjadi lemas. Jangankan untuk bekerja ke kantor, sekadar beraktivitas harian di rumah saja ia merasakan kekuatan tubuhnya sangat lemah. Empat bulan setelah kejadian itu, ia masih trauma jika mendengar suara-suara keras, bahkan membuatnya panik dan tiba-tiba merasa lemas. Dampaknya, Ruli menjadi pribadi yang mudah marah kepada anak dan orang lain.

Waktu demi waktu berlalu, Ruli mengira dampak bom itu sudah selesai. Ia merasa telah baik-baik saja. Dampak psikis maupun fisik ia anggap telah selesai. Namun, perkiraan Ruli keliru. Pada tahun 2012 ia mengalami masalah dalam penglihatannya. Tiap kali ia berkedip, seolah ada cahaya yang menghalangi. Ia memeriksakan masalah itu ke dokter, dan dinyatakan salah satu pembuluh darah retinanya pecah.

“Saya dua kali ke dokter mata untuk memastikan. Jadi, retina itu kalau dioperasi ada dua kemungkinan, pertama cacat total, karena retinanya ada hitam di tengah. Kedua, ada kemungkinan sembuh. Tapi saya tidak berani ambil risiko,” tuturnya.

Meskipun masih mengalami efek dari ledakan bom, justu semakin meningkatkan semangat hidupnya untuk bangkit.

Meskipun masih terus mengalami efek dari ledakan, Ruli tak patah semangat. Perlahan-lahan justru ia semakin meningkatkan semangat hidupnya untuk bangkit. Selain membuka usaha di bidang kuliner, saat ini ia aktif bergabung menjadi duta perdamaian AIDA. Ia aktif  mempromosikan perdamaian kepada masyarakat luas di berbagai daerah di Indonesia.

Sebagai penyintas aksi terorisme, ia mengaku ikhlas atas semua kejadian yang menimpa dirinya karena menurutnya segala yang terjadi merupakan bagian dari takdir Tuhan. Ia juga belajar untuk ikhlas memaafkan mantan pelaku, orang-orang yang pernah terlibat dengan kelompok teroris yang telah bertobat dari dunia kekerasan. Dalam berbagai kegiatan AIDA, ia beberapa kali dipertemukan dengan mantan pelaku, dan ia menyatakan telah ikhlas memaafkan. Bahkan, ia mendoakan mantan pelaku agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. “Semua kejadian yang saya alami adalah takdir dari Allah. Saya mengikhlaskan semua itu. Saya kemudian mendoakan mantan pelaku, kita doakan supaya orang itu menjadi lebih baik. Bagi saya, jangan balas keburukan dengan keburukan lagi, tapi balaslah dengan kebaikan,” kata dia. [MSH]

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....