HomeBeritaDirektur PAS: Sinergi Lapas...

Direktur PAS: Sinergi Lapas dan Penyintas untuk Indonesia Damai

Aliansi Indonesia Damai – Penanganan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme yang merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) membutuhkan perlakuan khusus. Pendekatan kisah korban terorisme dalam pembinaan WBP dinilai penting dan efektif untuk membuka kesadaran.

Demikian pesan yang ditekankan dalam Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM di Depok, 24-25 Juli 2019. Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Kerja Produksi Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham, Junaedi, menjelaskan jika WBP kasus terorisme tidak ditangani secara baik, maka paham ekstremisme seperti yang mereka anut berpotensi menyebar luas.

Untuk menghindari hal tersebut dibutuhkan pamong WBP kasus terorisme yang memiliki kapasitas khusus untuk menjaga perdamaian di lingkungan Lapas. Kapasitas yang dimaksud meliputi aspek intelektualitas, kedewasaan, serta kematangan sikap dalam berinteraksi dengan WBP. ”Kapasitas itu harus berada di atas rata-rata WBP,” tandas Junaedi.

Ia menyebutkan, pekerjaan sebagai pamong di Lapas adalah tugas yang luar biasa. Pamong berperan penting dalam membina dan mengantarkan WBP untuk bisa aktif menjaga perdamaian di Lapas maupun nanti setelah mereka bebas. Atas dasar itulah, menurut Junaedi, pelatihan seperti yang diselenggarakan AIDA sangat diperlukan untuk meningkatkan kapasitas petugas Lapas.

Menurut Junaedi, pembinaan WBP dengan pendekatan kisah korban merupakan strategi yang efektif. Kisah korban mampu memberikan inspirasi kepada petugas Lapas untuk semakin profesional dalam menjalankan pembinaan kepada WBP kasus terorisme. ”Penyintas juga merupakan elemen penting untuk ikut berpartisipasi. Sehingga tidak ada mal justice atau stigma buruk terhadap WBP bahwa orang yang jahat akan selamanya jahat,” imbuhnya.

Tak berhenti di situ, Junaedi berpandangan bahwa pendekatan kisah korban merupakan salah satu pendekatan humanis terhadap WBP yang sangat efektif membangkitkan empati para pihak yang pernah terlibat kasus terorisme. ”Tinggi rendahnya martabat suatu bangsa dilihat dari bagaimana perlakuan kita terhadap pelanggar hukumnya. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang tidak gampang, namun bisa menjadi tidak sulit jika kita bersinergi bersama penyintas, antarpamong, mantan pelaku terorisme dan lembaga sejenis AIDA,” pungkas Junaedi.

Pelajaran dari Penyintas

Dari kiri: Nanda Olivia Daniel (penyintas Bom Kuningan 2004) dan Dewi Sunarti (korban tak langsung Bom Kampung Melayu 2017)

Dalam pelatihan yang dihadiri 23 orang dari 18 Lapas yang tersebar di Pulau Jawa kemarin, dihadirkan lima korban aksi terorisme. Mereka membagikan pengalaman hidup masing-masing sebagai pihak yang terdampak aksi teror. Kelima korban tersebut adalah Desmonda Paramartha (penyintas Bom Surabaya 2018), Nanda Olivia Daniel (penyintas Bom Kuningan 2004), Ni Kadek Ardani (penyintas Bom Bali 2005), Agus Kurnia (penyintas Bom Thamrin 2016), dan Dewi Sunarti (korban tak langsung Bom Kampung Melayu 2017).

”Akibat dari ledakan bom, saat ini saya mengalami spasmophilia, yaitu kelainan saraf motorik sehingga kadang-kadang beberapa bagian tubuh saya di saat-saat tertentu tidak bisa digerakkan,” ungkap Agus Kurnia dalam kegiatan. Sampai hari ini pun dia masih harus menjalani pengobatan.

Meskipun masih merasakan dampak aksi ledakan bom, Agus memilih memaafkan pelaku. ”Saya dari pertama sudah dengan ikhlas (memaafkan-red). Karena menuntut apapun tidak ada jalan penyelesaiannya. Berdamai itu lebih baik,” katanya di hadapan para petugas Lapas peserta pelatihan.

Selain korban aksi terorisme, dalam kesempatan tersebut hadir pula mantan pelaku terorisme, yaitu Sofyan Tsauri dan Choirul Ihwan, untuk berbagi wawasan tentang kiat-kiat menangkal narasi paham ekstremisme, serta pengalaman mereka berinteraksi dengan korban terorisme.

Kegiatan Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan merupakan salah satu program kerjasama AIDA dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Pelatihan ini telah dilakukan delapan kali sejak tahun 2016. Tujuan pelatihan ini untuk meningkatkan kapasitas petugas Lapas dalam menangani WBP kasus terorisme.

”Untuk menangani WBP kasus terorisme tidak cukup hanya dilakukan dengan pendekatan secara teologis, sehingga diperlukan pendekatan dengan cara lain. Salah satunya adalah pendekatan dengan perspektif korban,” Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, mengatakan. [LADW]

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...