HomeInspirasiSuara Mantan PelakuMereka Tersadarkan Setelah Bertemu...

Mereka Tersadarkan Setelah Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mereka yang pernah terlibat dalam kelompok ekstrem berpegang pada keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan akan mendapatkan pahala dan surga. Umumya para mantan pelaku menganggap jihad melalui kekerasan adalah jalan yang dibenarkan oleh agama. Namun setelah bertemu korban mereka tersadarkan bahwa jalan kekerasan adalah tindakan yang keliru dan bertentangan dengan ajaran luhur agama.

Salah seorang mantan pelaku terorisme, Ali Fauzi makin mantab memilih jalan perdamaian setelah bertemu sejumlah korban. Pada mulanya, sekitar delapan tahun silam, saat menghadiri sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Gooogle Ideas SAVE di Irlandia, Ali bertemu dengan salah seorang korban Bom JW Marriott 2003. Melihat tubuh penyintas itu penuh bekas luka bakar, Ali tak kuasa menahan air mata. Ia mengaku amat sedih, karena salah satu perakit bom yang menciderai penyintas tersebut adalah bekas muridnya di masa lalu. Sang Penyintas tak hanya mengalami luka fisik, tetapi juga trauma yang amat dalam. Hebatnya, ia tak menaruh rasa dendam terhadap para pelaku. Justru memberikan dukungan untuk berjuang bersama di jalan yang lebih bermanfaat, yaitu mengampanyekan perdamaian. Ali berulang kali menyatakan permohonan maaf sambil memeluk erat penyintas tersebut.

“Tidak ada orang baik yang tidak mempunyai masa lalu, dan tidak ada orang jahat yang tidak mempunyai masa depan. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik.”

Ali yang juga adik kandung dari dua terpidana mati kasus Bom Bali 2002 mengatakan, semua manusia di dunia ini pasti pernah melakukan kesalahan, namun masa depan adalah lembaran baru yang masih bersih untuk diisi dengan hidup yang lebih baik dan bermanfaat. Karena itu, ia meyakini para mantan pelaku terorisme memiliki kesempatan hidup untuk memperbaiki kesalahan di masa lalunya. Katanya dengan penuh hikmah, “tidak ada orang baik yang tidak mempunyai masa lalu, dan tidak ada orang jahat yang tidak mempunyai masa depan. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik.”

Hal yang sama juga dirasakan oleh almarhum Hanzolah yang juga pernah terlibat dalam jaringan terorisme. Pertemuan Hanzolah dengan korban meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Bahkan dalam sebuah kesempatan dengan AIDA, matanya terlihat berkaca-kaca saat ia menceritakan kembali kisah penderitaan Albert, salah satu korban Bom Kuningan 2004. Ia mengungkapkan bahwa sudah semestinya para mantan pelaku meminta maaf kepada para korban dan keluarganya dengan atau tanpa mediasi AIDA. Mereka harus mempertanggungjawabkan setiap darah yang tumpah dalam tragedi terorisme. 

Seorang mantan pelaku terorisme lainnya, Kurnia Widodo, juga mengaku menyesal atas kekeliruan pemikirannya dahulu. Walaupun Kurnia tidak terlibat langsung dalam aksi kekerasan, namun ia merasa seolah-olah turut melakukan aksi terorisme. Ketika AIDA mempertemukannya dengan sejumlah korban bom, ia tak kuasa melihat kondisi korban yang cacat dan kehilangan anggota keluarga tercinta. Ia mendengarkan kisah demi kisah penderitaan korban. Ia tidak menyangka imbas dari ideologi yang pernah dianutnya sangat merugikan orang lain. Ia pun memohon maaf kepada para korban atas kesalahan pemikirannya.

Baca juga “Kasih Sayang Orang Tua Mengalahkan Itu Semua”

Kisah hidup dan pengalaman buruk dari penyintas juga turut menggugah hati dan kesadaran Iswanto, salah seorang mantan kombatan yang pernah terlibat konflik dengan kekerasan di Maluku dan Sulawesi Tengah. Setelah bertemu korban, ia baru mengetahui betapa mengerikannya dampak aksi terorisme. Ia tak bisa membayangkan, bagaimana jika penderitaan itu terjadi pada keluarganya. Karena itu, ia mengaku amat menyesali pemikiran dan tindakannya membela kelompok kekerasan di masa lalu. Dari kisah korban Iswanto memilih meninggalkan ajaran-ajaran jihad yang bermakna kekerasan. 

Kisah penyintas terorisme yang menginspirasi pertaubatan mantan pelaku juga dialami oleh Choirul Ihwan. Pertaubatannya bermula saat AIDA mempertemukan Choirul dengan seorang penyintas. Ia merasa sangat terpukul saat bertatap langsung dengan korban dengan kondisi tubuh penuh bekas luka bakar 60 persen akibat bom. Bahkan mantan narapidana teroris ini mengaku shock, terharu dan menangis, ketika mendengar langsung dari sang korban bahwa ia telah memaafkan para pelaku dan pendukungnya. Pertemuan tersebut meyakinkan Choirul untuk bertaubat dari ideologi ekstrem dan meninggalkan jalan kekerasan.

Kisah ketangguhan hidup penyintas terorisme telah menyadarkan sejumlah mantan pelakunya untuk menapaki jalan perdamaian. Kisah penyintas juga mengingatkan kita bahwa jalan kekerasan hanya akan menimbulkan kerusakan pada ciptaan Tuhan yang sempurna: umat manusia. Namun, melalui kisah korban dan pertaubatan mantan pelaku, generasi muda diharapkan mampu menangkal pengaruh ideologi ekstrem, minimal di lingkungannya masing-masing. Dari kisah keduanya pula generasi muda diharapkan dapat menguatkan diri sendiri untuk tidak menyakiti atau berlaku tidak adil terhadap orang lain, yaitu dengan tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, dan tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan. (SWD)

Baca juga Dari Jalan Kekerasan, Menjadi Duta Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...