HomeBeritaKeluarga Berperan Penting dalam...

Keluarga Berperan Penting dalam Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Seorang saudara dari korban aksi teror bom di Surabaya menilai bahwa peran keluarga sangat strategis dalam menjaga kedamaian. Keluarga, menurutnya, lembaga pertama yang menanamkan semangat perdamaian kepada setiap individu, sekaligus yang membentengi dari paham-paham kekerasan.

Berkaca pada insiden terorisme di Kota Pahlawan pada Mei 2018, Ignatius Galih Wardana mengenang bagaimana sebuah doktrin keagamaan yang ekstrem menjangkiti para pelaku -yang merupakan satu keluarga inti- sehingga tega melakukan aksi bom bunuh diri yang kemudian menewaskan kakak kandungnya, Aloysisus Bayu Rendra Wardhana.

Tidak hanya dari kalangan sipil yang terkorbankan, peristiwa bom di Surabaya menjadi bukti bagaimana anak-anak pelaku yang masih di bawah umur juga menjadi korban doktrin kekerasan yang ditanamkan orang tua.

Galih berpandangan bahwa keluarga adalah rumah pertama bagi setiap orang untuk menanamkan dasar-dasar pemikiran yang damai, menghargai pendapat, dan menghormati hak-hak orang lain. Keluarga juga merupakan lingkungan sosial paling awal yang sangat memengaruhi terbentuknya sikap, perilaku, dan karakter seseorang.

Baca juga Gereja Surabaya Adakan Iftar Memeringati Setahun Tragedi Bom Surabaya

“Kalau melihat Bom Surabaya kemarin, faktor keluarga adalah penting karena memang korban nomor satu dari pelakunya adalah keluarga,” ujarnya dalam acara Silaturahmi Mengenang Satu Tahun Korban Bom Surabaya yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di ibu kota Jawa Timur Mei lalu.

Galih masih tak habis pikir pada Minggu pagi, 13 Mei 2018, para pelaku, yaitu sepasang suami istri, DO dan PK, melibatkan empat buah hati mereka yang masih di bawah umur untuk meledakkan bom di tiga gereja. Aksi bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela (GSMTB) yang merenggut nyawa kakaknya, dilakukan oleh putra sulung dan anak kedua dari pasangan pelaku. Keduanya masih sangat belia, baru berumur 18 dan 16 tahun. Namun, kekejaman doktrin terorisme telah melenyapkan masa depan mereka. Kakak Galih, alm. Bayu, sempat mencoba menghentikan dua remaja pembawa bom yang berboncengan motor dan menyelonong ke gereja, namun ledakan merusak segalanya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, DO yang menjadi kepala keluarga pelaku, meledakkan bom yang disiapkan di dalam mobil dengan sasaran Gereja Pantekosta di Jl. Arjuna. Sementara itu, istrinya, PK, menggandeng dua anak perempuan mereka untuk melancarkan bom bunuh diri di Gereja Kristen Indonesia di Jl. Diponegoro. Satu keluarga itu tewas karena ledakan bom mereka sendiri.

Baca juga Setahun Bom Surabaya, Duka Korban Masih Nyata

Belum hilang shock yang dirasakan Galih, keesokan harinya terkuak kabar satu keluarga lainnya juga mencoba melakukan serangan teror di Surabaya. Target mereka adalah Markas Polrestabes Surabaya. Pasangan suami istri TM dan TE, menyertakan tiga anaknya dalam aksi tersebut. Seluruh anggota keluarga itu pun tewas, kecuali anak perempuan mereka yang berumur 7 tahun.

Akibat aksi kekerasan Bom Surabaya, Galih selaku pihak keluarga korban, merasakan kepedihan yang tak terperi. Almarhum kakaknya pergi selama-lamanya meninggalkan istri dan dua anak yang masih kecil-kecil. Keluarga dan anak-anaknya terpaksa menjalani masa depan tanpa kasih sayang seorang ayah.

Galih sangat menyesalkan ada sejumlah keluarga di Indonesia yang terjerat paham keagamaan yang ekstrem hingga menimpakan keburukan kepada pihak lain.

“Pencegahan terhadap paham kekerasan yang paling utama ialah berangkat dari dalam keluarga, terlebih pada pengasuhan dan cara mendidik.”

Dari itu, Galih mengharapkan agar masyarakat luas hendaknya menjadikan keluarga sebagai benteng kokoh dalam menjaga keselamatan setiap anggotanya dari paham-paham kekerasan. Ia pun berpendapat bahwa upaya-upaya untuk mengampanyekan perdamaian harus selalu melibatkan keluarga. “Pencegahan terhadap paham kekerasan yang paling utama ialah berangkat dari dalam keluarga, terlebih pada pengasuhan dan cara mendidik,” ucapnya.

Sebagai keluarga dari korban terorisme, ia juga berharap agar semakin banyak pihak yang menginformasikan tentang bahaya terorisme, serta ajakan pada perdamaian, yang menyasar pada keluarga-keluarga. Menurutnya, keluarga adalah tempat strategis untuk menanamkan dasar-dasar pemikiran yang damai serta nilai-nilai kebaikan. Dengan langkah tersebut, penyebaran paham kekerasan dapat dicegah, dan perdamaian di masyarakat dapat dilestarikan. [TH]

Baca juga Berdamai dengan Kekhawatiran

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...