HomeBeritaMenyemai Perdamaian di SMAN...

Menyemai Perdamaian di SMAN 4 Blitar

Aliansi Indonesia Damai– Aula SMAN 4 Blitar tampak ramai dipenuhi para siswa, Senin (11/11) lalu. Kali ini mereka tidak belajar di kelas seperti biasa, melainkan akan berdialog interaktif bersama tim Aliansi Indonesia Damai (AIDA).

Peserta terdiri dari 50 pelajar dari berbagai latar belakang dan organisasi yang berbeda. 15 siswa di antaranya merupakan anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), 10 anggota Rohani Islam (RoHis), 10 pelajar non muslim, 10 siswa berprestasi dalam berbagai bidang, juga beberapa siswa berkebutuhan khusus.

Acara ini merupakan kegiatan pertama yang AIDA gelar di SMAN 4 Blitar. Saiful Anwar, Humas SMAN 4 Blitar mengucapkan terima kasih atas kepercayaan AIDA memilih sekolah ini. ”Kami yakin anak-anak pasti mendapatkan banyak ilmu pengetahuan bahkan pengalaman dari para narasumber yang tidak disampaikan di dalam kelas. Ini sangat penting untuk menambah wawasan siswa siswi kami,” ucapnya Anwar saat menyampaikan sambutan, mewakili kepala sekolah yang berhalangan hadir.

Baca juga Siswa SMAN 4 Blitar Siap Jadi Aktor Perdamaian

Hadir sebagai narasumber, yakni Kurnia Widodo, mantan narapidana teroris dan Christian Salomo, korban bom Kedutaan Besar Australia 2004. Kurnia menceritakan kisah hidupnya, dari mulai perjalanannya bergabung dengan kelompok ekstremis hingga memutuskan untuk bertaubat dan menyemai perdamaian. Namun ayah lima anak ini menegaskan bahwa kehadirannya di sini bukan untuk mengingat masa kelamnya, melainkan agar para siswa dapat belajar dari kisah hidupnya dan tidak jatuh pada lubang yang sama.

Usai Kurnia berbagi kisahnya, Christian menceritakan hari terkelam dalam hidupnya. Tepat 9 September 2004, seperti biasa, ia melakukan tugasnya sebagai security di Kedutaan Besar (Kedubes) Australia. Ia berdiri tepat di gerbang besar kedutaan. Tiba-tiba ada ledakan besar dari sebuah mobil.

”Suara ledakanya bahkan bisa terdengar hingga ke tanah abang, padahal lokasi ledakannya di Kuningan, cukup jauh. Saat itu jarak saya ke sumber ledakan sekitar 15 meter,” ujar Christian mengingat kejadian perih itu.

Baca juga Siswa SMKN 1 Blitar: Karena Perdamaian Itu Lebih Baik

Akibat ledakan itu, rahang Christian rusak, kakinya patah dan hancur, bahkan nyaris diamputasi. Ia sempat frustrasi, dalam pikirnya selalu terngiang-ngiang, ”Saya nggak mau jadi cacat, karena saya tulang punggung keluarga.”

Di tengah rasa putus asanya, kawan-kawan Christian datang mengunjungi dan menguatkannya. Saat itu, kesadarannya mulai kembali dan mencoba bangkit. Ia juga bertemu dengan korban-korban lainnya. Dari situ semangat hidupnya kembali tumbuh.

Christian berharap, kisah hidupnya dapat menjadi kekuatan bagi orang banyak. ”Di AIDA dipertemukan dengan mantan pelaku teror. Kami bekerja sama untuk bisa membagi cerita, menyadarkan banyak orang bahwa betapa berbahayanya dan menyakitkannya tindak kekerasan,” ucapnya.

Peserta bertanya kepada narasumber dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 4 Blitar.

Ketika pertama kali akan dipertemukan dengan mantan pelaku terorisme, Christian merasa keberatan. Namun ia berpikir, katanya, ”Jika saya tidak berdamai dengan diri sendiri dan pelaku, maka kisah hidup saya hanya akan menjadi kisah mengerikan saja, tak ada artinya.” Laki-laki kelahiran Yogyakarta ini akhirnya memaafkan pelaku dan mulai menyemai perdamaian melalui kisah pahit yang pernah dialaminya.

Siswa SMAN 4 Blitar mengaku belajar banyak dari kisah Kurnia dan Christian. ”Ketika kita jatuh dan terkena musibah, di situlah kita punya kesempatan untuk bangkit lagi. Pak Christian tertimpa musibah dan awalnya sulit memaafkan orang yang menyakitinya, namun ternyata Pak Christian mampu memaafkan,” ucap salah seorang siswi SMAN 1 Blitar usai mendengar kisah dari Christian. [FRN]

Baca juga Titik Balik Mantan Pelaku ke Jalan Damai

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...