HomeBeritaMakna Damai di Mata...

Makna Damai di Mata Siswa SMAN 6 Cirebon

Beberapa waktu lalu Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menyambangi SMAN 6 Cirebon, Jawa Barat, untuk menggelar kampanye perdamaian. AIDA menghadirkan kisah inspiratif dari korban terorisme dan mantan pelaku ekstremisme kekerasan. Sekitar 77 siswa-siswi memadati ruangan tempat berlangsungnya kegiatan.

Kegiatan ini mengajarkan banyak hal positif kepada siswa, salah satunya tentang kebangkitan. Inspirasi tentang kebangkitan datang dari korban terorisme. Meskipun menderita kerugian besar secara materiel dan imateriel, para korban tetap bersemangat menjalani hidup. Mereka bahkan telah berhasil move on dan memaafkan pelaku.

Baca juga Harapan Guru Pandeglang pada Generasi Remaja

Ketangguhan korban ini menginsipirasi salah seorang siswa. “Dari korban sendiri, bisa dilihat bagaimana mereka sangat kuat dalam menjalani hidup (usai terkena bom). Mungkin, beberapa ada yang putus asa, tetapi kisah tadi itu bisa memotivasi, memerkuat jiwa (kita) dalam menghadapi hidup meskipun susah,” kata siswa tersebut.

Siswa lainnya merasakan empati yang mendalam terhadap korban. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya betapa aksi terorisme ternyata memberikan dampak merusak yang luar biasa, terutama bagi para korban. “Perubahan yang saya alami (setelah mengikuti kegiatan), saya sendiri ikut merasakan bagaimana (jadinya) jika saya yang menjadi korban. Maka agar tidak terjerumus dalam tindakan terorisme, penting untuk bisa menahan diri,” tuturnya.

Baca juga Pelajar Klaten Belajar dari Mantan Pelaku Terorisme

Di sisi lain, kisah pertobatan mantan pelaku juga turut menginspirasi siswa. Mantan pelaku menceritakan kehidupan mereka yang penuh lika-liku, mulai dari awal mula bisa terjerumus ke dalam kelompok ekstremis, melakukan aksi-aksi yang merusak, hingga sampai pada satu titik: menyesali perbuatan mereka. Puncak dari penyesalan itu adalah pertobatan dan kesediaan untuk meminta maaf kepada korban.

Salah seorang siswa menuturkan bahwa kisah mantan pelaku telah mengubah pandangannya. “Perubahan yang benar-benar saya rasakan, saya jadi mengetahui bagaimana perasaan pelaku. Karena sebelumnya kalau melihat teroris itu saya benci. Saya mau mereka dihukum, kalau perlu dihukum mati. Tetapi ternyata mereka pun punya rasa empati kalau sudah melihat korban,” tuturnya.

Baca juga Menitipkan Perdamaian pada Generasi Muda Poso

Ia berkesimpulan bahwa pelaku berhak mendapatkan maaf. “Setiap manusia itu memang melakukan kesalahan. Cuma dari kesalahan itu apakah kita mau mengakuinya atau tidak. Lalu (untuk) mereka yang punya rasa bersalah itu, apakah kita mau memaafkannya atau tidak,” ucapnya.

Kepala sekolah SMAN 6 Cirebon berpesan kepada para siswa agar senantiasa melestarikan perdamaian di Indonesia. Ia meyakini bahwa Indonesia sebenarnya sudah damai, namun ada segelintir orang yang ingin bangsa ini rusuh. Ia menegaskan bahwa perdamaian di Indonesia itu sejatinya bergantung pada diri masing-masing warga negara.

Baca juga Menyemai Virus Perdamaian di SMAN 1 Klaten

Sembari mengutip tema kegiatan ‘Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh’, Kepala SMAN 6 Cirebon juga berpesan agar para siswa selaku generasi muda Indonesia memiliki sikap ketangguhan. “Jelas kita harus tangguh. Kalau generasi kita tidak tangguh, Indonesia akan hancur. Kita harus tangguh dalam segala hal,” katanya. [FAH]

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Bukittinggi

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...