HomeBeritaPesan Ketangguhan Pelajar Bukittinggi

Pesan Ketangguhan Pelajar Bukittinggi

Aliansi Indonesia Damai- Sejak beberapa tahun terakhir, AIDA menggelar kampanye perdamaian di banyak SMA di pelbagai daerah. Kegiatan dikemas dalam bentuk Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”. Salah satu daerah yang telah dikunjungi AIDA adalah kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Dalam kegiatan itu AIDA menghadirkan tim perdamaian sebagai narasumber. Mereka terdiri dari unsur mantan pelaku terorisme dan korbannya. Mereka berbagi cerita dan pengalaman hidup di hadapan sekitar 50 siswa-siswi di setiap sekolah. Melalui kisah tim perdamaian, AIDA mengajak generasi muda untuk mengambil pembelajaran (ibroh) dan membangun perdamaian Indonesia.

Baca juga Semangat Perdamaian SMA Al-Faqih Tasikmalaya

Setelah mengikuti kegiatan, sejumlah peserta menyampaikan kesan dan pesannya.

Tidak Berlarut dalam Kesedihan

Seorang peserta asal SMAN 1 Bukittinggi melihat cobaan akan selalu datang silih berganti di dalam hidup setiap orang. Namun demikian, cobaan itu tidak akan melewati batas kemampuan seseorang. Ia belajar dari kisah korban yang tidak putus asa saat harus kehilangan orang tersayang akibat ledakan bom.

Menurut siswi tersebut, cerita korban membuatnya sadar bahwa hidup tidak hanya merasakan kebahagiaan semata, tetapi ada juga kesedihan. Ia pun mengartikan hal tersebut sebagai pengingat untuk bangkit saat menghadapi kesulitan.

Baca juga Gema Damai Pelajar Pandeglang

“Ada saatnya di atas dan di bawah, maka kita harus berusaha untuk di atas lagi, karena kita harus percaya banyak orang yang sayang dengan kita. Kita tidak boleh menyerah dengan hidup kita,” ujar siswi kelas X tersebut.

Menghilangkan Dendam dengan Memaafkan

Pelajar asal SMAN 2 Bukittinggi menyaksikan sisi ketangguhan korban dalam sikap pemaafannya. Ia terinspirasi dari ketangguhan korban, yakni bukan hanya tidak berlarut dalam kesedihan, tetapi juga bisa memaafkan, menahan emosi dan tidak menyimpan dendam.

Baca juga Berbagi Kisah Inspiratif di SMAN 3 Serang

Hal tersebut ia saksikan dari kemampuan korban dan mantan pelaku terorisme bisa berdamai dan mengampanyekan perdamaian secara bersama-sama. “Saya belajar dari korban yang tidak pernah merasa dendam dan itu termasuk pelajaran yang sangat penting saya dapatkan dari kesempatan kali ini,” terang siswa kelas XI tersebut.

Tiap Masalah Bisa Dibicarakan

Seorang peserta asal SMAN 3 Bukittinggi mengaku bisa mengambil makna ketangguhan untuk tidak mudah terpancing melakukan kekerasan saat ada masalah. Ia menyadari bahwa perilaku kasar tidak akan memberikan manfaat kepada kehidupan. Justru sebaliknya hanya akan menimbulkan dampak yang sangat merugikan, baik baginya sendiri maupun kehidupan orang lain.

Baca juga Pesan Damai Guru Tasikmalaya

Siswa kelas XI tersebut memaknai generasi tangguh sebagai generasi yang mampu menanggapi masalah dengan cara dan pikiran positif demi menjaga sebuah perdamaian. Cara tersebut termasuk dengan berdialog jika ada masalah dengan orang lain. “Kita bisa membicarakan apa pun perselisihan yang kita selisihkan dengan teman kita agar tidak terjadi kebencian dan kekerasan.” [MSH]

Baca juga Membekali Pelajar Malang dengan Semangat Damai

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...