Tawaf

Oleh: Alissa Wahid
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Bidang Kesra

Setelah dua tahun pandemi, tahun ini Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mulai memperluas pelaksanaan ibadah haji walaupun belum sepenuh kapasitas maksimalnya. Pada tahun 2022 ini, sekitar satu juta orang dari seluruh dunia mendapatkan kesempatan menjalani ibadah pokok pemeluk agama Islam ini.

Salah satu ritual dalam rangkaian ibadah haji adalah tawaf, yaitu berjalan mengelilingi Kabah, bangunan suci yang menjadi kiblat salat bagi setiap muslim di seluruh titik di dunia. Tawaf adalah ritual spiritual yang sangat menakjubkan. Apalagi, ada titik-titik yang memiliki nilai sangat berharga, seperti Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, dan Hijir Ismail. Di titik-titik ini, jemaah biasanya berusaha berhenti untuk menyentuh atau berdoa khusus, bahkan melaksanakan shalat.

Baca juga Hijrah dan Literasi Keagamaan Lintas Budaya

Dapat kita bayangkan bagaimana rumitnya saat sekitar 3 juta umat Islam dalam periode 5 hari bergiliran melakukan tawaf. Sampai saat ini, ibadah ini tidak diatur dengan model modern mengambil nomor antrean atau membariskan jemaah dengan kaku. Semua berjalan tanpa kesulitan yang berarti, tanpa aturan yang membatasi, juga tanpa papan-papan panduan atau buklet petunjuk dari pengelola. Siapa saja bisa masuk halaman dalam Masjidil Haram dan melaksanakan tawaf setiap saat sehingga arus datang dan pergi terjadi secara alamiah.

Menariknya, walaupun tanpa pembatasan kaku, ibadah tawaf haji semakin lama berjalan semakin lancar. Ratusan ribu anggota jemaah pada satu waktu bergerak bersama tanpa pembedaan. Jabatan dan kekayaan tidak memengaruhi hak untuk tawaf. Tidak ada privilese untuk siapa pun, kecuali beberapa kepala negara.

Baca juga Melindungi Anak dari Pornografi dan Narkoba

Titik kesulitan hanya terjadi pada saat mulai memasuki area dan saat harus bergerak menjauh seusai melaksanakan tawaf. Jemaah dari Indonesia dan Malaysia terkenal dengan koordinasi gerakan rombongan mereka yang sangat solid. Mereka saling menjaga, terutama pada saat memasuki dan mlipir mengakhiri ritual menuju arah keluar masjid.

Setelah mengamati dengan sungguh-sungguh prosesi tawaf yang terjadi sepanjang musim ibadah haji tahun ini, saya meyakini tawaf adalah salah satu contoh self-organized social system yang luar biasa efektif. Sebuah sistem dapat berjalan dengan baik ketika bagian-bagian dalam sistem tersebut dapat berjalan dengan baik sesuai fungsinya. Bagian-bagian tersebut saling terkoneksi, saling memengaruhi dan menunjang.

Baca juga Literasi Digital sebagai Pelindung dari Ancaman Nyata Dunia Maya

Semakin besar ukuran sistem, semakin rumit pengorganisasiannya. Produsen kopi rumahan tentu berbeda pengelolaannya dengan pabrik kopi kelas ekspor yang mengandalkan sistem yang kompleks. Contoh lainnya, perempatan gang dalam kompleks perumahan di pinggir kota Semarang berbeda pengaturan lalu lintasnya dengan percabangan di Simpang Lima di pusat kotanya.

Dalam masa ibadah haji, tawaf menjadi salah satu ritual yang rumit dan kompleks. Ruang fisik Masjidil Haram terbatas, ruang waktu pun terbatasi sementara jumlah jemaah sangat besar. Apalagi, jemaah tentu berharap untuk bisa mendapatkan keberuntungan menyentuh titik-titik istimewa di Rumah Allah ini. Kepentingan pribadi ini berpotensi supertinggi menciptakan konflik terbuka.

Baca juga Memperkuat Rekoneksi Damai

Namun, tidak demikian yang terjadi. Individu ataupun rombongan kecil 3-4 orang sampai rombongan besar puluhan orang mengatur dirinya sendiri selama proses ritual. Mereka tidak berkoordinasi, tetapi dapat bergerak seirama.

Faktor utama tentu saja adalah kejelasan (clarity). Setiap orang memahami betul apa yang akan terjadi dalam prosesi tawaf, dan apa yang harus/akan dilakukannya. Dia bisa saja khawatir akan terpisah dalam rombongan, atau bingung menghafal doa, tetapi setidaknya dia sadar akan laku ritualnya, yaitu berjalan mengelilingi Kabah. Sebagian besar anggota jemaah mempelajarinya pada saat manasik haji. Dengan kejelasan ini, mudah bagi jemaah mengatur dirinya dan rombongannya.

Baca juga Mencari Kita di Tengah Aku

Selain itu, faktor konsistensi dalam sistem yang tercipta ini juga memengaruhi efektivitas prosesi. Konsistensi ini membuat jemaah bisa mengandalkan sistem tawaf, tidak bertanya-tanya tentang apa yang sedang dan akan terjadi. Jemaah tahu tidak mungkin menyuap askar untuk bisa menyentuh Hajar Aswad. Jemaah juga tahu, mereka diperlakukan sama, tidak ada privilese kepada pejabat atau pengusaha.

Faktor lainnya adalah solidaritas antarjemaah. Rombongan-rombongan haji ini tidak saling kenal dan berbeda-beda gaya dan model pengorganisasian, tetapi terhubung oleh perasaan senasib sepenanggungan. Walaupun memiliki kepentingan untuk menjaga rombongannya tetap solid, semangat persaudaraan ini menciptakan ruang saling menghormati.

Baca juga Pendidikan dan Ketenangan Jiwa

Kesadaran untuk menghormati kesucian Rumah Allah juga menjadi salah satu faktor yang membuat jemaah menjadi lebih mampu menahan diri dan berbesar hati. Jemaah enggan untuk bersikap menang-menangan atas kepentingan sendiri dengan mengorbankan jemaah lain. Karena itu, tidak ada keributan atau orang bertengkar akibat pakaian terinjak atau rebutan jalan yang tentunya tak bisa terhindarkan terjadi di tengah ratusan ribu orang yang bergerak bersama.

Semua hal itu membuat sistem dapat berjalan dengan optimal sehingga rombongan dan individu jemaah dapat melaksanakan ibadah tawaf dengan lancar.

Saya membayangkan apabila kita dapat secara sengaja mengembangkan beberapa hal ini dalam proses nation-building kita, tidakkah Indonesia akan menjadi lebih kuat? Apabila kita mampu mengembangkan rasa senasib sepenanggungan, mampu menjaga semangat suci kita sebagai bangsa, diikuti dengan kejelasan jati diri kita serta konsistensi kita membangun negeri ini… ah, betapa cemerlangnya masa depan Indonesia. Mungkinkah?

*Artikel ini terbit di Harian Kompas, 31 Juli 2022.

Baca juga Ancaman Ekstremis-Radikalis di Era Disrupsi

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...