HomeBeritaSafari Perdamaian SMAN 1...

Safari Perdamaian SMAN 1 Woha Bima

Aliansi Indonesia Damai- Topik “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” menjadi tagline safari perdamaian AIDA di wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), awal November lalu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tangguh adalah sukar dikalahkan, kuat dan andal, tabah, tahan, dan kukuh. Melalui kegiatan ini, generasi remaja sebagai wajah masa depan Indonesia diharapkan menjadi sosok yang tangguh menghadapi berbagai persoalan di masa mendatang.

Baca juga Dari Penyintas Bom untuk Al-Husainy Bima

AIDA menghadirkan kisah-kisah kehidupan korban terorisme (penyintas) dan pertobatan mantan pelakunya. Dari dua belah pihak, para pelajar diajak menyerap ibroh (pembelajaran) dari kehidupan mereka. Harapannya, lahir generasi muda yang cinta damai dan mampu membawa Indonesia maju menuju peradaban adiluhung.

“Saya belajar dari para korban bahwa (kita) harus menjadi tangguh dalam setiap permasalahan yang ada dan harus saling memaafkan satu sama lain. Bahwa tidak boleh menjadi seorang yang pendendam,” ujar salah seorang siswa saat AIDA berkunjung ke SMAN 1 Woha, Bima, NTB, beberapa waktu lalu.

Baca juga Motivasi Ketangguhan Siswa SMAN 1 Wawo

Menurut seorang siswi peserta, keikhlasan para korban yang memaafkan pelakunya merupakan cerminan dari sikap ketangguhan. Mereka ditimpakan banyak ujian setelah terkena bom. Mulai dari cedera yang harus diobati bertahun-tahun, bahkan harus kehilangan anggota tubuhnya. Meski begitu, mereka mampu melewati berbagai ujian itu.

“Yang saya dapatkan dari kegiatan ini adalah bahwa kita tidak boleh membalas dendam dengan kekerasan dan harus mengikhlaskan semua yang terjadi. Jika terus balas dendam masalah tidak akan pernah berakhir,” katanya.

Baca juga Perdamaian Kunci Kebahagiaan

Tidak hanya dari para korban, sejumlah siswa mengaku mengambil pembelajaran dari kehidupan mantan pelakunya. Kisah mereka menunjukkan bahwa setiap orang pasti memiliki salah, tetapi sebaik-baik orang adalah yang berani mengakui kesalahannya dan bertekad memperbaikinya. “Manusia yang tangguh itu menyadari kesalahannya, memperbaiki, dan tidak mengulangi lagi,” ujar salah seorang siswa.

Sebagian peserta yang lain berpesan kepada generasi remaja agar tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Tindakan semacam itu tidak akan menyelesaikan masalah, justru menjadikan masalah tak selesai.

Baca juga Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

“Jika terjadi kekerasan atau ketidakadilan jangan dibalas dengan kekerasan. Damai itu penting. Hindari membalas kejahatan dengan kejahatan, belajar ikhlas, dan saling memaafkan,” ucap seorang siswi.

Di akhir acara, salah seorang siswi berkomitmen untuk mengaplikasikan pengalaman itu ke dalam kehidupan sehari-hari. “Saya lebih memaknai penderitaan seseorang yang menjadi korban teroris dan harus lebih tangguh saat menerima cobaan. Apa pun yang terjadi pada kita atas kehendak Allah SWT,” katanya tegas. [AH]

Baca juga Ketangguhan Butuh Intelektualitas

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....