HomeBeritaPerdamaian Kunci Kebahagiaan

Perdamaian Kunci Kebahagiaan

Aliansi Indonesia Damai- “Karena yang menjadi keinginan kita bersama di atas dunia adalah hidup damai, enak, bahagia. Jadi kalau tidak ada kedamaian, meraih kebahagiaan itu tidak bisa. Kalau kedamaian kita digoyang, maka tidak akan bisa kita meraih kebahagiaan, termasuk cita-cita yang kalian idam-idamkan.”

Pernyataan di atas diungkapkan oleh Adiansyah, Kepala SMAN 1 Pajo, Dompu, Nusa Tenggara Barat, saat memberikan sambutan dalam Diskusi Interaktif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh yang dilaksanakan AIDA di SMAN 1 Pajo, akhir Agustus 2022 silam. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 75 siswa.

Baca juga Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Menurut Adiansyah, adalah tugas semua pihak, termasuk generasi remaja, untuk menjaga perdamaian di lingkungannya masing-masing. Karena itu ia mengapresiasi kegiatan yang digelar AIDA yang bisa menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga diri agar tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Adiansyah mengibaratkan generasi muda seperti gelas kosong yang sangat mudah diisi apa pun. Bila dimasuki air teh, gelasnya berubah jadi warna coklat. Bila dimasukkan kopi, maka gelas yang tadinya putih berubah jadi hitam.

Baca juga Ketangguhan Butuh Intelektualitas

“Sebagai generasi muda tentu kalian memiliki cita-cita, masa depan yang baik. Jangan karena ada sesuatu yang merasuki dan memprovokasi, apa yang kalian cita-citakan tidak tercapai,” ujarnya berpetuah.

Ia mengungkapkan, siswa yang mengikuti kegiatan adalah siswa-siswi pilihan. Ini merupakan kebanggaan karena menjadi penghargaan bagi mereka. “Artinya kepercayaan buat anak-anakku supaya kalian sendiri tidak melakukan hal-hal yang merusak kedamaian di antara kalian, di antara kita, di antara teman satu dengan teman yang lain,” ucap Adiansyah.

Baca juga Belajar Tak Terbatas Dinding Kelas

Pada akhir sambutan, Adiansyah berpesan kepada anak-anak didiknya agar mengikuti kegiatan dengan baik dan dapat menerapkan ilmu yang didapatkan, baik di lingkungan sekolah, rumah, atau di lingkungan masing-masing.

Dalam kegiatan ini, AIDA menghadirkan kisah perjalanan hidup korban dan mantan pelaku terorisme. Diharapkan siswa dapat mengambil pembelajaran dari kisah pertobatan mantan pelaku terorisme dan ketangguhan korbannya dalam mengarungi hidup usai musibah yang menimpanya. [FAH]

Baca juga Menjadi Tangguh di Era Disinformasi

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...