HomeOpiniJamaah Islamiyah, dari Johor...

Jamaah Islamiyah, dari Johor Berakhir di Bogor

Oleh: Laode Arham,
Pegiat Perdamaian; Bekerja di Aliansi Indonesia Damai

Jamaah Islamiyah adalah potret kelompok gerakan Islam yang melaksanakan hijrah dari jalan kekerasan ke jalan perdamaian, persis menjelang Tahun Baru 1446 Hijriah.

Pembubaran Jamaah Islamiyah (JI) beberapa waktu lalu yang diumumkan secara resmi oleh 16 tokoh senior dan petinggi JI merupakan salah satu kejadian penting yang patut disikapi dengan bijaksana. Kebijaksanaan ini bermula dari suatu prasangka baik bahwa kejadian penting di Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada 30 Juni 2024 tersebut akan menandai perjalanan bangsa ini menuju bangsa yang makin damai dan bermartabat.

Selama lebih kurang 31 tahun, sejak JI berdiri di Johor, Malaysia, pada 1993, bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia telah tergurat dengan duka dan air mata bagi korban dan mantan pelaku terorisme.

Baca juga Pesan Damai Grand Sheikh Al-Azhar dan Antikekerasan

Aksi terorisme JI di Indonesia telah diakui dengan penuh penyesalan oleh banyak bekas pelaku, baik yang sudah bebas maupun yang masih mendekam dalam lembaga pemasyarakatan. Yang tidak kalah penting, aksi-aksi terorisme senantiasa termemori dalam ingatan dan penderitaan korban di dalam dan luar negeri.

Aksi-aksi kekerasan JI bermula dari malam Natal 2000 di beberapa kota di Indonesia (Solahudin, 2011). Berikutnya yang paling mematikan adalah Bom Bali 2002 yang membuat negara mengambil langkah besar dalam sistem hukum tindak pidana terorisme yang ditandai dengan lahirnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 dan UU No 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (belakangan diperbarui melalui UU No 5/2018).

Meskipun begitu, anggota-anggota JI masih ”gagah” dengan aksi-aksinya pada bom-bom mematikan dengan daya ledakan yang menimbulkan korban hingga ratusan jiwa. Setelah Bom Bali 2002, menyusul kemudian Bom Marriott 2003, Bom Kuningan 2004, Bom Tentena 2005, Bom Bali II 2005, dan yang tidak kalah mengerikan Bom Marriott 2009 akan selalu menjadi ”dosa jariyah” bagi para pelaku yang belum bertobat.

Baca juga Tentang Pembubaran JI

Belum lagi berbagai aksi ”kecil-kecil” lainnya, seperti aksi perampokan (fa’i), dan serangan terhadap subyek dan obyek lain yang menelan korban dan menimbulkan kerusakan di Sulawesi, Maluku, dan Jawa.

Para korban yang berjatuhan berasal dari hampir seantero negeri. Secara agama, korbannya justru kebanyakan Muslim yang mereka bela dan perjuangkan. Warga negara asing, mulai dari tetangga dekat, Australia, hingga warga negara lain yang jauh di Amerika Latin juga merasakan akibat langsung dan tidak langsung dari berbagai serangan tersebut.

Dampak aksi terorisme JI benar-benar mendunia. Aksi Bom Bali 2002, misalnya, menghancurkan perekonomian ”Pulau Dewata”, menyengsarakan orang Bali dan pelaku usaha yang terkait dengan industri wisata Bali baik dari dalam maupun luar negeri.

Arti strategis

Kita patut mendukung para petinggi, asatiz, pengikut, dan anggota JI yang bertobat dari ideologi ekstrem dan jalan kekerasan (desistensi). Pembubaran JI menjelang Tahun Baru Hijriah/Islam 1446 tersebut mempunyai arti strategis bagi pembangunan perdamaian di Indonesia.

Pertama, desistensi terorisme JI merupakan keberhasilan para pihak yang selama ini bekerja dan berjuang untuk usaha-usaha pencegahan dan penindakan terorisme, pembinaan di dalam dan luar lembaga pemasyarakatan, sejak 2003 hingga saat Abu Rusdan membacakan pembubaran tersebut. Densus 88, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), lembaga pemasyarakatan, dan berbagai pihak dari pemerintah dan nonpemerintah, termasuk unsur korban dan mantan pelaku terorisme afiliasi JI, telah bekerja tanpa henti untuk perdamaian.

Baca juga Beragama Maslahat untuk Kesejahteraan Masyarakat

Menurut Institute for Policy Analysis of Conflict (2024), Densus 88 secara khusus telah melakukan pendekatan kepada pimpinan JI baik di dalam maupun luar Lembaga pemasyarakatan sejak 2022, melalui apa yang disebut program rekonsiliasi. Tentu ada banyak faktor dan aktor yang berperan dalam berakhirnya JI di Sentul.

Kedua, perdamaian dan rekonsiliasi tersebut memerlukan partisipasi seluruh pimpinan, asatiz, dan anggota JI (sekitar 6.000 orang) yang disertai dukungan dari berbagai lembaga pemerintah dan nonpemerintah. Aset-aset JI dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan di berbagai wilayah di Indonesia tidaklah sedikit.

Hal itu membutuhkan kerja sama para pihak dalam mentransformasi lembaga dan sumber daya mereka ke dalam arus utama kewarganegaraan sebagaimana tertuang dalam pernyataan 2-5 dari deklarasi pembubaran tersebut.

Baca juga Melampaui Program Moderasi Beragama

Hambatan bagi Abu Rusdan dan kawan-kawan adalah kemungkinan adanya anggota atau petinggi JI yang tidak setuju dan membentuk kelompok sempalan atau splinter groups dan berpura-pura (taqiyyah) sebagaimana yang pernah ditunjukkan oleh kelompok Noordin M Top dan sel-sel JI lain yang ditangkap atau menjadi residivis (IPAC, 2024). Tantangannya adalah kepercayaan publik dan tokoh masyarakat. Namun, hambatan dan tantangan semacam itu merupakan dinamika yang selalu ada dalam organisasi.

Ketiga, merujuk sejarah aksi terorisme di Indonesia, khususnya pascareformasi, pada dasarnya JI telah ”menginspirasi” lahirnya berbagai kelompok dan aksi terorisme. Ini seperti aksi-aksi teror yang dilakukan oleh kelompok Negara Islam Indonesia (NII) dalam aksi teror Bom Buku 2011, Mujahidin Indonesia Barat (MIB), Jemaah Taliban Melayu (JTM), Mujahidin Indonesia Timur (MIT), hingga Jemaah Anshar Daulah (JAD).

Dari berbagai kelompok tersebut, yang masih eksis hingga kini adalah NII dan JAD. Apakah bubarnya JI akan menginspirasi para petinggi NII dan JAD untuk membubarkan diri? Tentu saja kita berharap demikian dengan berbagai dalil dan pertimbangan yang mereka pikirkan.

Baca juga Revolusi Jiwa Berkorban

Jalan kekerasan JI yang berawal di Johor telah berakhir di Bogor. Menerima dan mendukung langkah-langkah 16 petinggi JI di atas merupakan hal yang paling penting saat ini. Perubahan tersebut sangat bermakna bagi kehidupan korban dan mantan pelaku.

Hasibullah Satrawi (2018), cendekiawan yang mendampingi korban dan bekas pelaku selama lebih dari satu dasawarsa, menyebutkan, ”Dampak aksi terorisme tidak saja menjadi bencana bagi korban, tetapi juga menimbulkan penderitaan bagi pelaku.” Seyogianya semua kalangan bersikap bijaksana dalam menyambut saudara-saudara sebangsa tersebut kembali kepada perdamaian.

*Artikel ini terbit di kompas.id, Senin 22 Juli 2024

Baca juga Soal Pengalaman Bernegara Kita

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...