HomeOpiniRevolusi Jiwa Berkorban

Revolusi Jiwa Berkorban

Oleh: Haedar Nashir,
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Idul Adha adalah hari raya penyembelihan hewan kurban. Wujud lahir ibadah kurban memang menyembelih hewan. Akan tetapi, sejatinya Idul Adha merupakan proses rohaniah terdalam agar setiap Muslim dapat menaklukkan ego kepentingannya agar menjadi insan yang bertakwa kepada Tuhan, yang memancarkan segala kebajikan hidup bagi diri, sesama, dan ranah semesta.

Dasar dan pusat seluruh ibadah itu adalah pengabdian total kepada Allah yang berbasis tauhid. Mengesakan Tuhan yang membawa dampak profetik pada seluruh kehidupan setiap insan Muslim yang menjalankannya.

Semua ini dijalankan agar manusia tidak sekadar hidup sebagaimana habitat hewan dan tumbuhan. Namun, hidup dengan makna lebih, yaitu memiliki fondasi dan orientasi nilai yang luhur dan bermakna.

Baca juga Soal Pengalaman Bernegara Kita

Hidup spesies hewan dan tumbuhan, meski juga berfaedah, mereka hanya mengikuti sunatullah lahir dan mati. Adapun manusia diberi tugas khusus yang bermakna sekaligus berfaedah, yakni beribadah (QS Adz-Dzariyat: 56) dan menjalankan kekhalifahan di muka bumi (QS Al-Baqarah: 30; Hud: 60).

Tujuannya, agar hidup manusia selamat di dunia dan akhirat (QS Al-Baqarah: 201), demi meraih rida dan karunia Allah (QS Al-Fath: 29). Sekali lagi, bukan hidup sekadar hidup, untuk kemudian mati tanpa arti.

Baca juga Mengatur Jurnalisme di Platform Digital

Jika manusia sekadar hidup untuk memenuhi kepentingan inderawi, seperti makan, minum, hasrat biologis, dan hal-hal duniawi semata, derajat kehidupannya belum memenuhi syarat sebagai insan fi ahsan at-taqwim. Menjadi manusia terbaik di hadapan Tuhan.

Oleh karena itu, Idul Adha dalam ritual penyembelihan hewan kurban sejatinya merupakan proses dekonstruksi rohaniah secara total agar setiap Muslim keluar dari belenggu hasrat-hasrat primitif menuju martabat insan mulia!

Hakikat berkorban

Idul Adha dengan ritual khusus penyembelihan hewan kurban merupakan proses ibadah membentuk diri sebagai insan bertakwa yang memiliki jiwa berkorban yang khariq al-’adat atau di luar kelaziman.

Baca juga Akademi Bahagia

Allah berfirman yang artinya, ”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik (QS Al-Hajj: 37).”

Pengorbanan Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail itu sungguh revolusioner. Bagaimana Nabi Ibrahim dan Siti Hajar rela putra tercintanya harus disembelih (menjadi obyek kurban) atas perintah Tuhan.

Baca juga Mengatasi Stagnasi Kualitas Pendidikan Nasional

Ismail nan belia pun pasrah sarat ketaatan. Padahal, perintah kurban itu diperoleh Ibrahim hanya lewat mimpi. Meski penyembelihan itu digantikan seekor hewan, di hadapan Tuhan ketiganya lulus sebagai insan bertakwa yang memiliki jiwa berkorban tinggi.

Ketiganya sebagai role model atau uswah hasanah, selaku insan profetik yang rela berkorban untuk kepentingan orang banyak. Ketiganya memberi contoh bagaimana bebas dari belenggu diri dan duniawi untuk menjadi insan pemberi kemanfaatan dan kebajikan terbaik bagi sesama dan dunia.

Baca juga Sebab Jurnalisme Investigasi Harus Terus Ada

Insan bertakwa berbuat kebaikan yang melintasi sesama dan lingkungan semesta. Semut dan tumbuhan pun beroleh pancaran kebaikannya.

Dirinya, selain hamba Tuhan yang saleh (abdullah), sekaligus menjadi khalifah di muka bumi (khalifat fi al-ardl) yang selalu hadir membangun tanpa merusak, bukan menjauhi dunia karena ingin hidup tampak bersih dan suci semata.

Baca juga Metode Living Books Sebagai Media Merdeka Belajar

Manusia bertakwa selalu dekat dengan Tuhan tanpa merasa paling benar dan paling suci (QS An Najm: 32; An-Nisa: 49). Ketakwaan dirinya tidak memandang orang lain serba salah dan kotor hidupnya (QS Al Baqarah: 80, 111). Dia mengakumulasikan kebaikannya yang menembus langit dan memijak bumi dengan menebar rahmat bagi semesta raya.

Jika Idul Adha dikoneksikan dengan ibadah haji, di dalamnya terkandung pula jiwa berkorban. Dalam ibadah sai, yakni berlari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwah, misalnya, terkandung jejak perjuangan Siti Hajar saat mencari seteguk air bagi Ismail, sang bayi.

Baca juga Jadilah Guru yang Menyenangkan

Hajar, demi putranya, harus berjuang mencari air di tengah sengatan panas dan keganasan gurun tandus. Perjuangannya berbuah manis dengan ditemukannya mata air zamzam yang hingga kini tak pernah habis airnya. Demi meraih tujuan yang mulia, manusia beriman harus rela mengorbankan segala hal yang dia miliki.

Para hujjaj atau mereka yang berhaji harus rela berkorban. Selain juga mengeluarkan segala kemampuan (istita’ah) untuk beribadah ke Tanah Suci Mekkah dan Madinah dalam seluruh prosesinya yang sangat berat.

Baca juga Madinah Sumbu Peradaban

Dalam kemampatan ruang dan waktu yang sangat padat karena pelakunya jutaan orang, semua menuntut pengorbanan saling berbagi dan peduli. Membunuh ego diri yang sering kali membelenggu setiap anak Adam di Planet Bumi ini. Di situlah penghayatan semua ibadah agar masuk ke dimensi hakikat dan makrifat, tidak berhenti di rukun syariat.

Apabila ibadah dilakukan dengan pemaknaan mendalam dalam ranah hakikat dan makrifat, para pelaku ibadah akan naik kelas derajat kemanusiaannya menjadi insan bertakwa yang otentik atau sebenar-benarnya takwa (QS Ali Imran: 102). Manusia bertakwa, dalam hal ini, memiliki jangkar relasi terbaik (ihsan) dengan Tuhan (habluminallah) dan sesama manusia (habluminannas) secara berkeseimbangan (QS Ali Imran: 112).

Baca juga Bahaya Laten Bullying di Sekolah

Ketakwaannya memancarkan kemanfaatan dan rahmat bagi diri, sesama, dan semesta (QS Al-Baqarah: 177; Ali Imran: 134; Al-Hujarat: 13; Al-Kautsar: 1-3; dan ayat lainnya). Ukuran ketakwaan itu tecermin dalam sikap tindak serba luhur dan utama yang menebar kebaikan semesta (QS Al-Anbiya: 107).

Insan yang paripurna ibadahnya buah dari Idul Adha dan haji akan mampu membebaskan dirinya dari segala jeratan hawa nafsu kepentingan inderawi yang berlebihan.

Baca juga Kebangkitan Digital Nasional

Mereka menjadi manusia profetik yang dari dirinya terpancar kesalehan hidup yang moderat (wasatiyah) dalam meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dirinya tidak dibelenggu ego dan segala kepentingan yang menjadikan dirinya budak dunia.

Sebaliknya, dia tidak menjauhi dan antidunia yang membuat dirinya kehilangan kekhalifahannya di muka bumi. Dia hidup dalam jalan tengah yang mampu mengelola diri dan lingkungan semesta dengan ihsan, yakni kebajikan profetik yang melampaui. Dia sekaligus memiliki pertanggungjawaban tinggi sebagai hamba Allah yang menjalankan peran khalifah di muka bumi.

Ego kepentingan

Manusia itu pada dasarnya makhluk berkepentingan, baik terkait ego diri maupun duniawi. Sewajarnya manusia memenuhi hasrat diri sebagaimana teori basic needs ala Abraham Maslow, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghar-gaan, dan kebutuhan aktualisasi diri.

Allah berfirman yang artinya, ”Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (QS Ali ’Imran: 14).

Baca juga Kuliah Mahal di Kampus Negeri

Namun, agama mengajarkan agar kepentingan diri yang bersifat inderawi atau fisiologis dan duniawi dipenuhi seperlunya atau secukupnya dengan cara yang benar dan baik, serta tidak berlebihan, apalagi dengan menghalalkan segala cara.

Allah berfirman yang artinya, ”Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (QS Al-A’raf: 31). Jika manusia sudah berlebihan, lahirlah ketamakan dalam segala aspek kehidupan sehingga sulit berhenti hingga ajal memisahkan dirinya (QS At-Takatsur: 1-2). Manusia sakit dibendung dan kian tamak manakala terjangkiti virus keberlebihan.

Sumber segala kekacauan di muka bumi ini sejatinya berpangkal pada ego manusia yang serakah menuruti hawa nafsu inderawi dan duniawi. Konflik antarmanusia, kerusakan ekosistem semesta, dan yang paling tragis saling bunuh secara fisik hingga terjadi perang.

Baca juga Menjaga Api Harapan di Pesantren

Semuanya bermula dari hawa nafsu manusia yang egois dalam memenuhi kepentingan hidup yang melampaui batas.

Kepentingan diri kemudian meluas menjadi kepentingan keluarga atau dinasti, kroni atau relasi lingkar sekitar, kelompok atau golongan, dan lebih luas lagi bangsa.

Ketika segala kepentingan itu menyatu (cross-cutting of interest), terjadilah akumulasi keserakahan yang sering kali melahirkan prahara kehidupan umat manusia.

Baca juga Mengabaikan Surga

Ketika ego kepentingan diri, kroni, dinasti, kelompok, golongan, dan bangsa itu makin menggumpal, sungguh sulit menahannya karena biasanya berujung pada hegemoni kepentingan seperti oligarki di segala aspek kehidupan.

Rebutan jabatan, harta, kekuasaan, wilayah, dan segala urusan duniawi yang berujung prahara bermula dari hawa nafsu yang membuncah itu.

Baca juga Sekolah Bahagia

Berlakulah hukum Hobbesian, homo homini lupus. Manusia menjadi serigala bagi sesama dan lingkungannya. Golongan kuat mendiskriminasi dan mendominasi yang lemah. Lahirlah sangkar besi (iron cage) hegemoni sistemik yang mengangkangi segala hal. Ibarat juggernaut, kata Giddens, kereta raksasa yang menggilas siapa saja yang lewat di jalan kehidupan.

Dunia ilmu pun tidak luput dari hegemoni ketika berimpitan dengan kepentingan. Segala ideologi dan paradigma radikal-ekstrem dengan segala kaitannya yang sering melahirkan prahara justru lahir dari dunia dan pelaku ilmu.

Baca juga Jalan Panjang Menuju Palestina Merdeka

Jangan dikira ilmuwan, ulama, cendekiawan, intelektual, akademisi, guru besar, dan segala atribut sejenis lainnya bebas dari hawa nafsu dan kepentingan subyektif, ataupun kolektif.

Dunia ilmu dan akademik juga dapat melahirkan provokator, agitator, dan aktor yang memicu prahara. Ilmu disalahgunakan guna meraih kepentingan-kepentingan sesaat yang pragmatis dan oportunistis. Mereka yang kritis sekalipun, saat giliran dikritik, akan tumbuh perangai primitifnya sebagai manusia berego tinggi. Ilmunya tak mencerahkan jiwa, pikiran, dan tindakannya.

Baca juga Antara Rafah, Tel Aviv, dan Riyadh

Sungguh, betapa tidak mudah melepas ego-kepentingan jika tanpa jiwa berkorban. Berkorban bagi ilmuwan ialah tetap rendah hati dan tidak terjangkiti takabur diri karena berilmu tinggi.

Sikap kritis ilmuwan manakala bercampur takabur diri akan berubah menjadi krisis diri. Gemar mengkritik pihak lain, tetapi tidak suka dikritik. Opini dan pemikirannya inginnya didengar dan diikuti, tetapi ia sendiri tidak mau mendengar dan mengikuti pandangan orang lain. Daya toleransi terhadap pikiran berbeda menjadi rendah, jauh dari moderat.

Baca juga Paradoks Pendidikan dan Keterpinggiran

Moderasi bahkan dipandang plin-plan tak punya jati diri. Pikiran dan sikap kritis berubah menjadi agitasi. Tumbuh sikap merasa benar sendiri, yang lain salah. Inilah yang disebut sangkar besi dunia ilmu dan ilmuwan, yang lahir dari arogansi dan ego-kepentingan diri.

Dunia agama bukan tanpa ego-kepentingan. Ulama, tokoh, dan umat beragama, jika kehilangan penghayatan tingkat hakikat-makrifat, bakal sebaliknya: melahirkan bias dan kedangkalan beragama.

Baca juga Tantangan Pendidikan Indonesia

Dunia keagamaan tak jarang melahirkan perebutan kepentingan atas nama agama. Dominasi mazhab, aliran, dan golongan yang kuat akan membentuk hegemoni keagamaan yang di dalamnya tersimpan kepentingan dangkal. Bukan hanya murni kepentingan keagamaan, melainkan juga sering kali bertemali dengan kepentingan politik, ekonomi, sosial, dan inderawi.

Sejarah klasik membuktikan, atas nama agama, lahir prahara mihnah atau persekusi terhadap pandangan dan golongan keagamaan yang berbeda.

Baca juga Buku di Bayang-bayang Kecerdasan Buatan

Agama dijadikan kendaraan politik dan ekonomi yang tidak kalah ambisiusnya dengan kepentingan mereka yang sekuler. Kepentingan berjubah agama sering kali absurd karena disertai sakralisasi dan glorifikasi atas nama kitab suci dan kehebatan mazhab itu.

Apalagi, ego kepentingan kuasa. Kekuasaan itu pada dasarnya baik karena, dengan kekuasaan, dapat dibangun kehidupan yang adil, makmur, dan peradaban berkemajuan.

Baca juga Tidak Semua Orang Bisa Menjadi Pendidik

Namun, kekuasaan itu sering kali meninabobokan para pemiliknya, laksana anggur yang memabukkan. Hukum politik Lord Acton (1833-1902) menjadi adagium umum, ”Power tends to corrupt. Absolute power corrupts absolutely”.

Orang baik pun menjadi berubah ketika kekuasaan yang didudukinya terlampau besar dan lama sehingga sulit untuk berakhir. Kekuasaan itu seperti opium yang membuat pelakunya ketagihan. Karena itu, kekuasaan meniscayakan pengorbanan. Pengorbanan ”berkuasa untuk melepaskan”, berkuasa untuk memakmurkan, mencerahkan, serta memajukan peradaban manusia dan semesta raya!

*Artikel ini terbit di kompas.id, Minggu 16 Juni 2024

Baca juga Berlarilah Menuju Allah

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...