HomePilihan RedaksiMerdeka dari Ekstremisme

Merdeka dari Ekstremisme

Tahun ini bangsa Indonesia memeringati sekaligus merayakan ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79. Sebagaimana biasa, masyarakat merayakannya dengan pemasangan atribut merah putih di segala penjuru, menggelar beragam jenis perlombaan, karnaval, pentas seni, dan lainnya.

Tak ada soal dalam pelbagai jenis perayaan tersebut. Namun seyogianya  tak berhenti dengan gegap gempita. Lebih dari sekadar mengenang jasa para pahlawan, peringatan kemerdekaan harus menjadi momentum refleksi tentang kontribusi anak-anak bangsa dalam mengisi dan merawat kemerdekaan untuk kebaikan kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama.

Kemerdekaan yang sudah diraih para pejuang bangsa dengan pengorbanan jiwa, raga, hingga hartanya, harus dijaga dan diisi dengan hal-hal yang konstruktif untuk keberlangsungan dan kemajuan bangsa. Sebaliknya, kita tidak merusak kemerdekaan dengan pemikiran dan tindakan destruktif yang dapat memorak-porandakan tatanan kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama, seperti aksi-aksi kekerasan hingga terorisme. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan cita-cita para pejuang dan kemerdekaan.

Baca juga Prioritas Dana Abadi Korban Terorisme

Ada sejumlah anak bangsa yang dahulu pernah terdoktrin ekstremisme kekerasan, bahkan terlibat dalam aksi terorisme. Namun, mereka telah bertobat dan meninggalkan doktrin tersebut. Kini, mereka kembali ke pangkuan ibu pertiwi, mengakui NKRI dan meniti jalan perdamaian. Dengan kata lain, mereka telah merdeka dari ekstremisme.

Layaknya berjuang meraih kemerdekaan, sebagian mantan pelaku yang telah bertobat juga mengalami perjuangan yang tak mudah. Untuk merdeka dari ekstremisme dan jaringan masa lalunya, ia kerap menerima kecaman serta ancaman fisik maupun psikis yang menyasar keselamatannya. Namun dengan keteguhan hati dan tekad yang kuat, semua itu mampu dilalui sehingga mereka terbebas dari ekstremisme kekerasan dan jaringannya.

Baca juga Menanti Putusan Uji Materi Aturan Kompensasi

Keberhasilan tersebut bukan hanya karena kesadaran pribadi para mantan pelaku tetapi juga buah kerja kolaborasi banyak pihak, baik aparat negara, organisasi masyarakat sipil, serta pihak lainnya. Sinergi yang baik antarpihak diharapkan terus berlangsung untuk menjaga bangsa terbebas dari ekstremisme kekerasan.

Mereka yang sudah merdeka dari ekstremisme patut terus dijaga dan dilibatkan untuk merangkul rekan-rekannya meninggalkan jalan kekerasan. Bahkan, mereka pun bisa dilibatkan untuk mengampanyekan perdamaian ke publik. Dirgahayu Indonesia.

Baca juga Kembali Bersatu Pasca-Pemilu: Belajar dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...