HomePilihan RedaksiKembali Bersatu Pasca-Pemilu: Belajar...

Kembali Bersatu Pasca-Pemilu: Belajar dari Penyintas dan Mantan Pelaku

14 Februari lalu bangsa Indonesia telah menyelesaikan pesta demokrasi lima tahunan, pemilihan umum (pemilu), dengan riang gembira. Setiap warga yang memiliki hak suara telah menentukan calon pemimpin untuk lima tahun ke depan melalui bilik suara.

Semua orang kini menunggu hasil penghitungan resmi yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu, dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU). Apa pun hasilnya nanti, semua elemen hendaknya menerima sebagai bentuk ketaatan terhadap konstitusi. Selain itu, hasil resmi yang diumumkan KPU kelak sesungguhnya merupakan hasil keputusan atau suara rakyat Indonesia.

Baca juga Refleksi Sewindu Bom Thamrin

Kita patut bersyukur pelaksanaan pesta rakyat kali ini berjalan relatif lancar dan damai tanpa ada gangguan berarti yang berpotensi merusak kohesi sosial. Berkaca dari dua penyelenggaraan pemilu sebelumnya, tahun 2014 dan 2019, kita menyaksikan ketegangan politik selama pemilu tak hanya terjadi di kalangan elit saja namun menjalar hingga ke akar rumput. Masyarakat pun terbelah atau terpolarisasi hanya soal perbedaan pilihan politik, tentang siapa calon presiden dan calon wakil presidennya. Dan, keterbelahan itu dirasakan dalam waktu sangat lama, sampai bertahun-tahun. Kohesi sosial kala itu seolah benar-benar di ujung tanduk menuju perpecahan akibat polarisasi yang begitu kuat dan mengkristal.

Sekali lagi, kita sangat bersyukur polarisasi dalam pemilu tahun ini tidak sekuat sebelumnya. Keberhasilan pelaksanaan pemilu yang demikian tak luput dari semakin dewasanya masyarakat dalam menyikapi perbedaan pilihan politik, belajar dari kontestasi pemilu sebelumnya. Di samping itu, kesiapan negara dan pesan pemilu damai yang disampaikan sejumlah kalangan seperti pemuka agama, tokoh masyarakat, dan akademisi juga mengambil peran dalam menyukseskan ajang pesta demokrasi.

Baca juga Setop Kekerasan, Belajar dari Kisah Korban

Kekurangan dan dugaan kecurangan yang hampir pasti ada di setiap penyelenggaraan pemilu harus dijadikan sebagai catatan penting untuk diambil pembelajarannya (‘ibroh) demi perbaikan gelaran pemilu berikutnya. Kalau tidak, jangan harap kontestasi pemilu berikutnya akan lebih baik, bahkan bisa saja akan lebih buruk dari sekarang.

Kini, pilpres telah usai. Seyogianya semua elemen masyarakat kembali bersatu untuk terus membangun dan memajukan negeri tercinta. Sudah saatnya kita menanggalkan semua atribut politik termasuk sentimen tertentu yang muncul selama pemilu kemarin. Kita jangan terus terjebak dalam pertarungan politik hingga menggerus nilai persaudaraan dan silaturahmi yang tentunya jauh lebih penting dari sekadar ajang suksesi kepemimpinan. Pemilu atau pemilihan presiden mestinya dipandang sebagai hajatan rutin lima tahunan yang wajar, dan bisa semakin mendewasakan rakyat untuk hidup dalam iklim demokrasi. Calon pemimpin terpilih seketika mengayomi seluruh rakyat, baik yang memilihnya maupun yang mendamba lawan politiknya. Demikian pula rakyat, terkhusus masyarakat di akar rumput, hendaknya legawa menerima calon pemimpin definitif sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan Indonesia.

Baca juga Peringatan Korban Terorisme, Momen Membangun Masa Depan yang Damai

Terkait hal ini, laik dikaji secara mendalam inspirasi rekonsiliasi antara penyintas aksi terorisme dan mantan pelaku terorisme yang telah bertobat. Temuan AIDA di lapangan menunjukkan, rekonsiliasi dua pihak yang “berlawanan” tersebut mampu diwujudkan berkat dorongan untuk saling berlegawa dari internal masing-masing. Secara kasatmata, korban sangat berhak di mata hukum untuk membalas perbuatan para pelaku terorisme dengan kadar yang setimpal lantaran telah menimpakan penderitaan yang luar biasa. Secara kasatmata pula, bisa saja para mantan pelaku tak acuh terhadap para korban sebab aksi yang mereka lakukan dianggap sebagai perjuangan untuk membela agama. Akan tetapi, dalam rekonsiliasi yang terbentuk di antara korban dan mantan pelaku terorisme yang difasilitasi AIDA, segala yang kasatmata di atas luntur oleh semangat perdamaian dalam diri mereka. Para mantan pelaku bersadar diri untuk memelas maaf kepada korban yang terdampak akibat paham kekerasan yang pernah mereka yakini. Gayung bersambut, para penyintas pun berlapang hati menerima permintaan maaf mantan pelaku. Sebagian penyintas menuturkan, kejadian teror yang telah terjadi adalah titah Tuhan yang harus dijalani, dan membalas dendam tidak akan mengembalikan segala sesuatu yang telah pergi. Kedua pihak mengesampingkan ego masing-masing demi tujuan mulia yang mereka junjung bersama-sama, yakni perdamaian.

Ke depan masih banyak tantangan yang bakal dihadapi bangsa ini. Indonesia membutuhkan kolaborasi pelbagai pihak untuk melampauinya. Karena itu, mari kita bersatu untuk Indonesia damai, kita serap pembelajaran dari rekonsiliasi korban dan mantan pelaku terorisme.

Baca juga Haji Duta Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....