HomePilihan RedaksiPrioritas Dana Abadi Korban...

Prioritas Dana Abadi Korban Terorisme

Dampak berkepanjangan aksi terorisme yang dirasakan sebagian korban terorisme membutuhkan skema perlindungan dan pemenuhan hak yang berkelanjutan dan berasas sesuai kebutuhan korban. Belakangan ini mulai muncul kajian tentang dana abadi (trust fund) korban terorisme dalam rangka perlindungan dan pemenuhan hak korban.

Kajian dan usulan dana abadi korban terorisme sebenarnya sudah pernah mengemuka pada saat proses revisi UU No 15 Tahun 2003 beberapa tahun lalu. Usulan tersebut disampaikan Koalisi Perlindungan Saksi dan Korban. Koalisi mendesak negara mengalokasi anggaran yang lebih banyak untuk penanganan korban terorisme dan disarankan anggaranya berbentuk dana abadi. Namun usulan dana abadi korban tak berhasil diakomodasi dalam revisi Undang-undang tersebut.

Baca juga Menanti Putusan Uji Materi Aturan Kompensasi

Dana abadi korban memang sangat penting dan dibutuhkan bagi korban terorisme. Sebab, dampak fisik dan nonfisik yang dialami korban terorisme sifatnya berkepanjangan (long term effect). Sejumlah korban terorisme hingga saat ini masih merasakan dampaknya meskipun kejadian yang menimpa mereka sudah dua dekade lebih berlalu. Sangat mungkin dampak aksi teror dialami dan dirasakan korban hingga akhir hayat.

Sebagian korban yang kehilangan bola mata akibat ledakan bom lalu menggunakan mata palsu, dalam waktu tertentu harus rutin memeriksakan kondisi matanya ke dokter dan mengganti bola mata palsunya. Sebagian lainnya yang menderita luka bakar di hampir seluruh tubuh, kerap mengalami gatal dalam kondisi cuaca tertentu. Ada juga korban yang mengalami cedera rahang, hingga kini masih sering merasakan sakit kepala dan harus berobat rutin ke rumah sakit. Pun ada korban yang hingga sekarang masih mengonsumsi obat saraf untuk bertahan dari sakit yang dialaminya akibat aksi terorisme.

Baca juga Kembali Bersatu Pasca-Pemilu: Belajar dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Derita jangka panjang yang dialami para korban terorisme wajib dijadikan perhatian dan prioritas dalam skema dana abadi korban terorisme.

Dana abadi korban seyogianya difokuskan penggunaannya untuk perlindungan dan pemenuhan hak-hak korban terorisme yang dimandatkan oleh Undang-undang, yaitu rehabilitasi medis, rehabilitasi psikologis, dan rehabilitasi psikososial. Dengan adanya dana abadi maka diharapkan istilah hak korban terorisme terabaikan tak lagi terdengar. Sebab secara gamblang Undang-undang menyatakan bahwa korban terorisme adalah tanggung jawab negara dan korban berhak mendapatkan hak-haknya.

Baca juga Refleksi Sewindu Bom Thamrin

Selain itu, skema dana abadi korban hendaknya tidak diperuntukan penggunannya untuk yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan perlindungan dan pemenuhan hak korban. Karena itu perlindungan dan pemenuhan hak korban harus berasaskan kemandirian atau terpisah dari program pencegahan atau yang lainnya.

Apabila dana abadi korban dipergunakan untuk sesuatu yang tak relevan maka dikhawatirkan perlindungan dan pemenuhan hak korban tidak bisa optimal sebagaimana mestinya.

Baca juga Setop Kekerasan, Belajar dari Kisah Korban

Masih ada beberapa hal yang perlu dijadikan kajian juga dalam penyusunan skema dana abadi korban terorisme, seperti aspek sumber dana, pengelolaan, mekanisme penyaluran, dan pengawasan pengelolaannya. Hal penting lainnya yang harus dijadikan perhatian adalah dana abadi harus mudah diakses untuk memenuhi hak korban.

Semoga pihak-pihak yang sedang menyusun skema kajian dana abadi korban terorisme bisa menghasilkan skema yang sesuai dengan kebutuhan korban terorisme.

Baca juga Peringatan Korban Terorisme, Momen Membangun Masa Depan yang Damai

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education;...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...