HomeOpiniMemperhatikan Ruang Aktual Pendidikan

Memperhatikan Ruang Aktual Pendidikan

Oleh: Anggi Afriansyah,
Peneliti Sosiologi Pendidikan Pusat Riset Kependudukan BRIN

Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka telah dilantik sebagai presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober 2024. Pergantian kepemimpinan selalu membawa harapan sekaligus kecemasan baru.

Ketika memasuki era pemerintahan baru, selalu ada pertanyaan yang perlu diajukan: bagaimana fokus kebijakan yang menjadi prioritas? Apa saja perbaikan pendidikan menjadi target utama, dan tentu saja apakah setiap janji kampanyenya akan ditunaikan secara tuntas?

Tentu kita menunggu dengan saksama, apalagi Presiden Prabowo selalu menyatakan bahwa pendidikan merupakan prioritas yang paling tinggi. Selain itu, komitmen Prabowo-Gibran untuk berinvestasi dalam pendidikan, sains dan teknologi, serta digitalisasi sebagai upaya untuk memperkuat kemandirian bangsa terekam dalam janji kampanye yang mereka sampaikan.

Baca juga Pemuda Bela Negara dan Indonesia Emas 2045

Bicara pendidikan, sains, dan teknologi tidak mungkin meninggalkan sisi manusia. Manusia Indonesia seperti apa yang akan menggerakkan bangsa ini ke depan sangat bergantung pada kekokohan pemerintah memperhatikan ruang pendidikan.

Dan, gerak ruang pendidikan sangat bergantung pada tata kelola pendidikan yang memperhatikan kebutuhan pendidikan berbasis pada konteks demografi, geografi, dan sosial budaya masyarakat Indonesia. Maka, penting bagi pembuat kebijakan memahami dengan presisi kompleksitas ruang pendidikan memperhatikan aspek demografi, geografi, dan sosial budaya di Indonesia.

Pertama, dengan memperhatikan aspek demografi, maka kebijakan pendidikan, meminjam istilah Harper (2018), memperhatikan antara karakteristik statis dan proses dinamis lingkungan sosial, ekonomi dan budaya di mana penduduk berinteraksi.

Baca juga Hari Santri dan Pemimpin Baru Indonesia

Dengan demikian pemerintah memperhatikan komposisi usia, jenis kelamin, status perkawinan, distribusi spasial, etnis, dan kelompok sosial ekonomi di setiap daerah sebelum merumuskan intervensi di bidang pendidikan. Perhatian kepada aspek demografi juga memperhatikan distribusi penduduk yang termasuk angkatan kerja dan bukan angkatan kerja (Mantra, 2015).

Kedua, aspek geografis berarti memperhatikan kontur suatu wilayah, misal terkait dengan wilayah kepulauan, pegunungan, daratan, pantai, pertanian, atau perdesaan dan perkotaan. Riset Symaco (2013) di Filipina, misalnya, dapat menjadi gambaran betapa wilayah-wilayah terpencil dan wilayah yang rentan konflik memiliki permasalahan dengan akses pendidikan dan layanan dasar lainnya jika dibanding dengan wilayah perkotaan.

Perhatian pada Indonesia yang berbasis negara kepulauan juga menjadi hal mendasar sehingga desain pendidikan yang memperhatikan situasi tersebut tidak dapat ditawar lagi.

Baca juga Kewarasan Guru

Untuk wilayah Papua, misalnya, masih mengalami situasi pendidikan yang jauh dari harapan. Studi tim LIPI (2019) menemukan dua persoalan mendasar dalam pendidikan di Tanah Papua. Pertama, persoalan struktural terkait dengan regulasi, tata kelola, anggaran, dan program-program pendidikan belum responsif terhadap kondisi geografis, demografi, sosial budaya Orang Asli Papua. Kedua, tantangan sosial kultural terkait identitas budaya yang beragam, pemenuhan hak yang terkendala kondisi geografis, keterbatasan belajar, dan pendidikan yang tidak relevan dan tidak membangun imajinasi, berbasis kearifan lokal dan pengembangan diri.

Ketiga, memperhatikan aspek sosial budaya atau dalam bahasa Ki Hajar Dewantara, berbasis nasional-kulturil Indonesia. Artinya, pemerintah tidak membangun pendidikan yang seragam dalam program, kurikulum dan arah (M Sjafei, 1956).

Dalam konteks ini bias pembuat kebijakan untuk lebih memprioritaskan konteks global sering sekali terjadi. Misalnya dari segi kompetensi, para siswa ditarget untuk memiliki kemampuan yang dibutuhkan oleh pasar kerja global seperti daya kritis, kemampuan berkompetisi dan berkolaborasi, atau keterampilan di bidang teknologi.

Baca juga Dibutuhkan Negarawan

Hal tersebut tentu tidak dapat dibantah. Namun, dalam konteks Indonesia memerlukan penyesuaian-penyesuaian terutama di ruang aktualisasi sehingga apa yang disampaikan di ruang pendidikan dapat relevan dengan kondisi sosial budaya masyarakat, dan terutama kesiapan infrastruktur pendidikan dan pengajar yang memang sesuai dengan target yang dituju.

Tak elok jika berharap anak-anak meraih kecakapan global, tetapi meninggalkan budaya bangsanya sendiri. Ditambah jika target pendidikan yang dituju tinggi, tetapi intervensi yang diberikan amat terbatas tentu tidak banyak hal yang dapat diperoleh secara optimal.

Ruang aktual

Salah satu catatan yang perlu diingat adalah jangan sampai terjadi tambal sulam kebijakan pendidikan juga terjadinya ketidaksinambungan dari periode ke periode (Ball, 2008). Ada fenomena menarik dalam konteks kebijakan 20 tahun terakhir. Jika memperhatikan dokumen-dokumen kebijakan pendidikan, tampak sekali kita gemar membuat berbagai peta jalan pendidikan.

Jika diinventarisasi secara cepat ada berbagai peta jalan pendidikan (pendidikan karakter, vokasi, SMK, perguruan tinggi) baik yang dirilis oleh lembaga-lembaga pemerintahan atau yang bekerja sama dengan lembaga donor internasional. Yang paling terbaru adalah peluncuran peta jalan pendidikan Indonesia tahun 2025-2045. Menariknya, di tahun 2020 juga dirilis peta jalan pendidikan Indonesia tahun 2020-2035.

Baca juga Merdeka, Belajar, Merundung

Lalu apakah sesungguhnya kita surplus peta jalan pendidikan, tetapi luput memastikan bahwa kita bersama dapat mematuhi dan merealisasikan setiap langkah secara perlahan pada setiap rute yang disediakan dalam peta tersebut untuk mencapai tujuan pendidikan?

Juga menjadi pertanyaan, apakah peta jalan tersebut sudah saksama disusun secara dialogis melibatkan berbagai pihak yang memang memiliki kekuatan struktural dan kultural di bidang pendidikan? Apakah penyusunan peta jalan tersebut juga melibatkan pihak-pihak yang marjinal, mereka yang biasanya jadi target pemajuan pendidikan tetapi selalu tertinggal gerbong pendidikan?

Sebab, jika meminjam pemikiran Freire (2008) dalam teori tindakan dialogis, para pelaku (dalam konteks ini seluruh pihak dalam ekosistem pendidikan) berkumpul dalam kerja sama untuk mengubah dunia (pendidikan) dengan tidak saling memaksakan, tidak menjinakkan, dan tidak berslogan. Poin utama yang diajukan adalah para pemimpin (bidang pendidikan) harus percaya pada potensi rakyat/masyarakat dan tidak boleh memperlakukan mereka sebagai obyek tindakan (kebijakan pendidikan).

Baca juga Kemerdekaan dan Pendidikan

Sebab, sudah mafhum secara aktual, masyarakat marjinal selalu ada di pinggiran kebijakan pendidikan. Hingga akhirnya kebutuhan dan masalah aktual pendidikan mereka cenderung kurang mendapat perhatian. Kebijakan pendidikan pun serba bias kelas menengah atas dan timpang.

Tak pernah salah jika lagi-lagi kembali kepada pikiran Ki Hajar Dewantara yang menyatakan bahwa ”kita harus mengadakan pendidikan yang sesuai dengan hidup kita dan perikehidupan kita sendiri”. Jika tidak ada dialog, tidak saling percaya, dan menguatkan maka setiap orang menempuh peta jalannya masing-masing, dan kondisi ini tentu lebih menguntungkan kelompok berpunya sebab pada diri mereka terangkum semua kapital yang dibutuhkan untuk maju menjulang.

Apple (2012) dalam Education and Power menegaskan, betapa krisis kehidupan itu bukan fiksi melainkan sesuatu yang dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari di dunia kerja, sekolah, keluarga, dan pemerintah. Sehingga, soal pendidikan lagi-lagi, bukan perkara individu sebab sangat bergantung kepada bangunan struktural pemerintah dalam membuat, menyebarkan, dan menerapkan kebijakan dan sangat berhubungan dengan isu politik dan budaya (Apple, 2012).

Baca juga Proklamasi Kemerdekaan yang Sarat Makna

Jika menyimak paparan Domina, Gibss, Nun, dan Penner dalam Education and Society (2019), pendidikan formal menjadi bagian penting untuk perkembangan identitas sosial, memengaruhi pengalaman di pasar kerja, dan juga pengalaman personal seseorang terkait dengan keputusan pernikahan, pembentukan keluarga, serta kesehatan dan harapan hidup. Maka, sudah jelas bahwa perhatian pendidikan, meminjam ungkapan Ki Hajar Dewantara, yang dilakukan penuh keinsafan dan ditujukan ke arah keselamatan dan kebahagiaan manusia menjadi penting diutamakan.

*Artikel ini telah tayang di laman detik.com edisi Kamis 31 Oktober 2024

Baca juga Jamaah Islamiyah, dari Johor Berakhir di Bogor

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta,...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs,...

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah...

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Nasional SEKOLAH seharusnya menjadi ruang paling aman setelah keluarga. Dalam rumah, anak tertanam kesadaran, peroleh pengetahuan dan pengalaman langsung untuk membangun persaudaraan, empati, persahabatan, kepercayaan diri, dan belajar menghargai sesama. Namun, kenyataan nya, sangat...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia sangat ekstrem dan berbahaya. Bahkan, saking ekstrem dan bahayanya, mereka mengkafirkan dirinya sendiri. Demikian dinyatakan Iskandar alias Alexander Rumatery, mantan amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs, Nanyang Technological University, Singapura Pada 27 Juni 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik di Surakarta. Penculiknya sesama Republiken, sekelompok perwira dan politisi yang yakin perundingan dengan Belanda sama artinya dengan menjual kemerdekaan yang baru berumur sepuluh bulan....

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah dan dendam terhadap pelaku terorisme. Akibat bom yang meledak di depan tempat kerjanya Kedutaan Besar Australia, ia mengalami luka-luka dan kehilangan beberapa rekan kerjanya. Hingga sekarang ia masih melakukan perawatan medis dan minum obat secara rutin. “Setelah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...