HomeOpiniMencapai Masa Depan Sains...

Mencapai Masa Depan Sains Dasar yang Inklusif

Oleh Elisabeth Rukmini, Guru Besar, Universitas Pembangunan Jaya

Artikel ini dimuat Kompas.id, 17 Desember 2025

Inquiry learning, interdisiplin, dan meaningful learning adalah tiga benang merah dalam transformasi pendidikan sains dan STEM (Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika). Inquiry learning menuntun siswa untuk bertanya mengeksplorasi, dan menemukan jawaban berbasis bukti. Pendekatan interdisiplin memberi ruang bagi daya lintas antar bidang ilmu—dari kimia ke ekologi, dari biologi ke rekayasa—yang membentuk perspektif komprehensif.

Sementara itu, meaningful learning yang diinisiasi David Ausubel (1963) dan diteruskan Joseph D Novak, menekankan bahwa pengetahuan baru hanya bermakna bila dihubungkan dengan prior knowledge (pengetahuan awal) yang dimiliki pembelajar. Novak dan Bretz kemudian menunjukkan bahwa meaningful learning bukan sekadar kognitif, melainkan juga proses sosial dan kontekstual (Bretz, 2001; J. D. Novak, 1998)

Dalam pengalaman riset pendidikan STEM, pendekatan ini nyata pada project-based learning (PBL), asesmen berbasis konteks, hingga integrasi teknologi digital dan AI. Dengan menghubungkan prior knowledge, realitas sosial, dan tantangan keberlanjutan, pembelajaran sains menjadi wahana untuk membebaskan potensi belajar yang sejati.

Bretz (2001) menegaskan bahwa pembelajaran bermakna hanya muncul jika pembelajar memiliki pengetahuan awal yang relevan, materi yang bermakna, dan kebebasan memilih bagi pembelajar untuk menghubungkan pengetahuan baru dengan yang sudah dimilikinya. Kehilangan salah satu unsur tersebut, berakibat pada berubahnya pembelajaran menjadi rote learning (lihat juga tulisan dari Wahyu Kuncara, ”Bertanya Mendalam” (Kompas,  17/11/ 2025). Artinya, meaningful learning sangat bertumpu pada peran aktif pembelajar, terlebih pada pembelajar dewasa, sementara sumber materi tidak lagi terbatas pada guru.

Penulis menambahkan refleksi baru, yaitu peran mentorship. Dalam proses ini, guru dan dosen berdialog dengan pembelajar untuk menentukan tujuan belajar yang bermakna. Pembelajar diberi kebebasan berpikir (virtue) untuk memilih strategi—baik menggunakan AI maupun melakukan kerja empiris—bukan sekadar menyelesaikan tugas secara instan, melainkan menemukan makna pengetahuan. Guru dan dosen berperan seperti kurator: merancang pengalaman belajar, memilih materi yang bermakna, dan memandu penggunaan AI agar tetap berorientasi pada pemahaman (meaning), bukan rote learning.

Temuan riset mendukung peran AI dalam pendidikan tinggi, terutama sebagai sistem bimbingan belajar yang cerdas (smart tutoring), alat prediksi belajar, penilaian, dan pemberi umpan balik yang dipersonalisasi. Meskipun AI terbukti dapat meningkatkan pengetahuan kognitif, efektivitasnya dalam mengembangkan proses berpikir masih beragam. Titik variasi inilah yang merupakan peluang bagi mentor untuk menjaga ruang kebebasan berpikir (virtue) sehingga penggunaan AI dan studi empiris benar-benar mengarah pada meaningful learning.

Meaningful learning melalui integrasi konteks nyata, berpikir kritis, kolaborasi, dan kemampuan menghubungkan pengetahuan lama dengan informasi baru; sejatinya sedang menghidupkan 21st century skills. Beberapa kerangka 21st century skills yang relevan dan menuntut pemahaman lintas batas, antara lain: cara bernalar, cara berkarya, literasi alat berkarya (termasuk di dalamnya: literasi informasi, literasi media, dan literasi digital), serta keterampilan hidup. Titik sentral keterampilan ini pada kemanusiaan yang relevan dan berdampak positif (termasuk aspek etika dan keberlanjutan).

Melalui pendekatan ini, sains dasar menjadi medan gerak ganda: aras luas yang bersifat interdisipliner dan aras dalam yang menuntut pendalaman konsep secara sistematis dan reflektif. Proses belajar tidak berhenti pada memahami fakta, tetapi juga pada kemampuan menalar, mencipta solusi, dan memaknai dampak bagi masyarakat. Akhirnya, sains dasar tidak hanya melahirkan lulusan cakap dalam akademik, tetapi juga cendekiawan yang mampu membaca persoalan riil dan berkontribusi pada perubahan sosial.

Aras luas dalam sains dasar dapat dibaca melalui pengalaman para praktisi dari beragam profesi. Dalam Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World, Epstein (2019) menunjukkan bahwa dunia modern yang sarat wicked problems justru membutuhkan individu dengan pengalaman lintas disiplin dan kemampuan menjembatani konteks, bukan hanya spesialis yang terlatih sejak dini. Bagi sains dasar yang inklusif, hal ini menegaskan pentingnya penguasaan pengetahuan yang bukan atomik, agar pembelajar mampu menenun konsep kimia, biologi, fisika, matematika; dengan lingkungan, sekaligus bergerak ke wilayah sosial, humaniora, atau manajemen. Tanpa keluasan tersebut, transisi karier dari laboratorium ke masyarakat atau dari riset ke manajerial sering tersandung hambatan konseptual yang lahir dari pengetahuan yang sempit dan atomik.

Contoh yang sangat relevan muncul melalui pribadi seperti YB Mangunwijaya (Romo Mangun). Ia menempuh pendidikan teknik arsitektur, sebuah disiplin yang memadukan matematika, fisika, dan estetika; namun beliau kemudian tumbuh menjadi aktivis sosial, penulis, sastrawan, rohaniwan, pembela kaum pinggiran, dan pendidik di tengah masyarakat. Dalam hal ini tampak penguasaan sains dasar yang kuat membuka peluang ke berbagai ranah. Seorang teknokrat bisa berperan sebagai manajer sosial, pelopor literasi, atau pemikir pendidikan. Wawasan sains dasar yang luas membuat seseorang tidak terperangkap pada satu keahlian, melainkan mampu melintasi batas keilmuan sekaligus terjun ke konteks sosial yang lebih luas.

Era AI dan otomatisasi menunjukkan bahwa keahlian yang terlalu sempit mudah terlempar oleh teknologi karena banyak pekerjaan teknis rutin dapat diselesaikan oleh mesin atau algoritma. Namun, tantangan dunia nyata, mulai dari desain UI/UX hingga pengelolaan ekosistem, dari layanan kesehatan sampai pendidikan; tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sistem otomatis. Di balik produk UI/UX yang andal dari Apple, IBM, atau Toyota, terdapat para ilmuwan yang memadukan sains dasar: kimia, fisika, biologi, dan matematika untuk menerjemahkan sains dasar menjadi kreativitas dan rekayasa.

Ketangguhan sebuah produk bertumpu pada landasan ilmiah yang kukuh. Bila fondasi semacam itu masih rapuh di Indonesia, kita akan terus tersandera dalam posisi pengguna, bukan pencipta. Oleh karena itu, kita perlu menumbuhkan generasi masa depan yang berakar kuat pada sains dasar, luas dalam perspektif, mendalami pengetahuan, dan mampu berkarya bermakna bagi masyarakat.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...