HomeInspirasiAspirasi DamaiRamadan Bulan Kedamaian

Ramadan Bulan Kedamaian

Umat Muslim di seluruh penjuru dunia kini sedang menunaikan ibadah puasa Ramadan 1445 Hijriah. Di bulan ini umat Islam diwajibkan untuk berpuasa. Saat berpuasa sejak waktu imsak hingga Maghrib, umat Muslim tak hanya dilarang untuk makan dan minum melainkan juga diharuskan menahan diri dari perilaku apa pun yang bisa membatalkan puasa, termasuk menahan dan mengendalikan hawa nafsu.

Ramadan hendaknya dijadikan sebagai momentum untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta Alam dan meningkatkan ketakwaan dengan pelbagai aktivitas keagamaan seperti berpuasa, salat tarawih, rutin membaca Alquran (tadarus), itikaf di masjid, dan salat malam (qiyamul lail). Ramadan juga hendaknya dijadikan ladang untuk mendulang banyak pahala dengan berlomba-lomba dalam kebaikan seperti bersedekah, berbagi takjil/makanan berbuka puasa, berbagi makanan sahur, dan memberikan santunan kepada yang berhak. Semua amalan dan perbuatan baik di bulan Ramadan pahalanya akan dilipatgandakan.

Baca juga Perdamaian Hanya Akan Tercipta Lewat Keadilan

Namun, sangat disayangkan apabila ada umat Muslim yang tidak memanfaatkan Ramadan dengan sebaik-baiknya dan melewatkannya begitu saja tanpa amalan dan kebaikan apa pun. Apalagi jika sampai ada yang melakukan hal-hal yang bisa merusak kesucian Ramadan dengan berbuat anarkis kepada sesama, seperti tawuran. Hal itu tentu sangat bertolak belakang dengan Ramadan sebagai bulan penuh berkah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berkah adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia.”

Faktanya, dari tahun ke tahun masih ada saja perilaku umat Muslim yang menodai kesucian Ramadan dengan melakukan tawuran. Siapa pun yang melakukan kekerasan tentu tidak mendatangkan kebaikan, justru sebaliknya ia menyebabkan kerusakan, melukai, bahkan memakan korban jiwa. Sungguh sangat ironi jika di bulan Ramadan ada yang berbuat kejahatan dan keburukan kepada orang lain. Orang tersebut tentu tak mampu menahan amarah dan hawa nafsunya. Padahal syariat puasa di bulan Ramadan sejatinya mengajarkan dan melatih diri untuk dapat bersabar, menahan diri, mengendalikan amarah, dan nafsu. Berdasarkan sebuah riwayat hadis, selama Ramadan setan dibelenggu (sulsilatis syayatin) agar tidak mengganggu manusia untuk berbuat dosa dan keburukan. Maka, sungguh miris apabila ada segelintir Muslim yang masih tergelincir pada kekerasan atau keburukan lainnya di bulan mulia ini.

Baca juga Menjaga Keselarasan Nusantara

Di bulan suci Ramadan kita harus mempertebal kesabaran daripada bulan-bulan lainnya. Sabar bukan hanya untuk menahan lapar dan dahaga hingga Maghrib tiba, tetapi juga sabar dalam menghadapi ujian apa pun, dan sabar untuk tidak menjadi “setan” yang menimbulkan keresahan, kejahatan, dan kerusakan bagi orang lain. Dengan kesabaran yang tebal dan pengendalian diri yang baik akan tercipta lingkungan dan suasana Ramadan yang aman, damai, tenang dan menyejukkan.

Nuansa Ramadan yang damai merupakan dambaan semua orang. Untuk mewujudkannya, salah satunya dengan berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) dan ketakwaan, bukan sebaliknya saling melakukan kekerasan dan menimbulkan keburukan. Mari kita jadikan Ramadan sebagai bulan kedamaian dengan menebar sebanya-banyakknya kebaikan kepada sesama dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Demikian juga, mari kita jadikan Ramadan sebagai bulan penuh rahmat bagi seluruh umat.

Baca juga Etika Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Refleksi Hari Peringatan dan Penghormatan bagi Korban Terorisme

Setiap tanggal 21 Agustus, diperingati sebagai Hari Internasional Peringatan dan Penghormatan...

Kisah Zulqron Terkena Ledakan Bom

Aliansi Indonesia Damai- 24 Mei 2017 menjadi hari kelabu bagi Zulqron...

Tantangan Kembali ke Jalan Perdamaian

Bagi seseorang yang pernah bergabung dalam kelompok ekstrem, lalu memutuskan keluar...

Menguatkan Semangat Damai Pelajar Melalui Sanlat

Setiap bulan suci Ramadan sekolah dan madrasah biasanya menyelenggarakan kegiatan pesantren...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...