HomeOpiniOleh-Oleh Haji: Perjuangan tanpa...

Oleh-Oleh Haji: Perjuangan tanpa Kekerasan

Oleh: Hasibullah Satrawi
Alumnus Al-Azhar, Kairo, Mesir; pengamat politik Timur Tengah dan dunia Islam

Secara umum, pelaksanaan ibadah haji sejauh ini bisa dikatakan berjalan lancar. Memang cukup banyak tantangan seperti jumlah total jemaah haji yang mencapai 1.845.045 orang (aawsat.com, 27/06), suhu panas di Makkah yang lebih dari 40 derajat Celsius, hingga kurangnya tenda di Mina. Tapi, semuanya masih bisa ditangani dan tidak berkembang menjadi lebih buruk. Saat ini jemaah haji mulai pulang ke negara masing-masing, termasuk jemaah haji dari Indonesia.

Ibadah haji bisa disebut sebagai ibadah nirkekerasan. Mengingat ibadah haji sarat dengan ketentuan dan larangan melakukan aksi kekerasan. Baik terhadap manusia, lingkungan, maupun makhluk-makhluk yang lain.

Baca juga Pesan Sam Altman bagi Pendidikan Indonesia

Sebagai contoh, orang yang berihram (termasuk untuk keperluan ibadah haji dan umrah) dilarang membunuh hewan-hewan (QS Al-Maidah: 95). Pun demikian, orang yang datang ke Makkah dilarang menebang pohon-pohonan dan memburu hewan buruan yang ada di sana (sesuai pesan salah satu hadis). Bahkan, orang yang melakukan ibadah haji dilarang berkata-kata kasar (rafats), berbuat kefasikan, dan melakukan perdebatan ataupun pertengkaran (QS Al-Baqarah: 198).

Oleh-oleh

Semangat dan visi perjuangan nirkekerasan dari ibadah haji sejatinya (juga) harus dijadikan sebagai ”oleh-oleh” ketika para jemaah haji pulang ke kampung halaman. Hingga semangat ibadah haji bisa turut serta mendorong terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih menjunjung tinggi perdamaian, peduli terhadap kesehatan lingkungan, dan perhatian terhadap keberlangsungan margasatwa.

Pada tahap tertentu, ketentuan-ketentuan nirkekerasan seperti di atas dapat disebut sebagai indikator kemabruran atau kesuksesan ibadah haji seseorang. Dengan kata lain, bila ibadah haji seseorang diterima atau mabrur, yang bersangkutan akan semakin jauh dari pelbagai macam bentuk aksi kekerasan.

Baca juga Haji dan Jihad Ekologis

Dalam sebuah hadis ditegaskan, ada tiga indikator kemabruran atau kesuksesan haji seseorang. Yaitu berkata-kata baik (kalamut thayyib), memberi makanan (ith’amut to’am), dan menyebarkan salam atau perdamaian (ifsya’us salam).

Berkata-kata baik tentu banyak bentuknya, dari tidak menyinggung orang lain hingga tidak berkata buruk tentang dan kepada orang lain. Pun demikian memberi makanan yang bisa juga berarti solidaritas dan kepedulian sosial secara umum. Dan yang tak kalah penting tentu menyebarkan salam atau perdamaian yang tak bisa hanya diartikan sekadar mengucapkan salam saat bertemu dengan orang lain.

Perjuangan tanpa kekerasan

Pada tahun politik seperti sekarang, semangat nirkekerasan dan perjuangan tanpa kekerasan yang terdapat dalam ibadah haji perlu diperhatikan oleh semua pihak. Khususnya para elite politik dan calon pemimpin yang akan berkampanye dan bersaing dalam memperebutkan kepercayaan dari masyarakat pemilih. Hingga persaingan yang ada tidak sampai menghalalkan segala macam cara.

Pertemuan demi pertemuan di kalangan para elite belakangan semakin intensif. Termasuk pertemuan untuk menentukan bakal calon presiden (bacapres) maupun bakal calon wakil presiden (bacawapres) atau menentukan hal-hal terkait politik lain seperti visi-misi pemerintahan ataupun strategi pemenangan.

Baca juga Haji Mabrur, Haji Transformatif

Harus diakui bersama, perjuangan tanpa kekerasan masih menjadi tantangan yang serius di Indonesia, tidak hanya di kalangan elite, tapi juga di kalangan masyarakat pendukung. Di kalangan elite, penggunaan politik SARA atau provokasi primordial bisa dijadikan sebagai contoh dari salah satu bentuk nyata perjuangan dengan menghalalkan segala macam cara, termasuk dengan hal-hal yang bersifat kekerasan. Pun demikian penggunaan buzzer politik yang tak jarang menambah panas suasana. Hingga terjadi polarisasi yang berkepanjangan di tengah-tengah masyarakat.

Mirisnya, di saat sebagian pendukung atau masyarakat terjebak dalam kubangan disharmoni atau polarisasi berkepanjangan akibat pemilu, mereka yang didukung tak jarang sudah berekonsiliasi dengan lawan-lawan politiknya.

Baca juga Haji, Momentum Penguatan Moderasi Beragama

Rekonsiliasi elite yang tak selalu diikuti masyarakat pendukung menunjukkan adanya perbedaan kultur politik. Di kalangan elite, kultur politiknya sedemikian cair dan pragmatis. Mungkin sebagian elite terlihat mudah konflik, tapi mereka juga mudah rekonsiliasi, sesuai dengan ”peribahasa kuno” yang sangat terkenal: di dunia politik tak ada musuh atau teman yang abadi. Karena yang abadi hanyalah kepentingan.

Sementara di kalangan masyarakat pendukung, kultur yang berkembang bercorak ideologis dan primordial. Pilihan politik bagi mereka bukan sekadar pilihan main-main, apalagi sekadar hiburan. Pilihan politik adalah pilihan ideologis yang tak jarang juga dipahami mengandung dimensi ukhrawi.

Baca juga Haji, Status, dan Pesan Kemanusiaan

Oleh karena itu, rekonsiliasi cepat pascapemilu di kalangan elite tentu penting. Tapi, yang jauh lebih penting adalah menghindari politik SARA ataupun provokasi primordial yang bisa memicu konflik di kalangan masyarakat pemilih. Dan yang paling penting lagi adalah perjuangan tanpa kekerasan. Inilah semangat dan ”oleh-oleh” dari ibadah haji.

*Artikel ini terbit di jawapos.com, edisi Jumat, 7 Juli 2023

Baca juga Baca Bukumu Sekarang

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di ...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI),...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...