HomeBeritaSalah Cara Membela Saudara

Salah Cara Membela Saudara

Aliansi Indonesia Damai- “Kalau dengar terorisme, apa saja yang ada di benak masyarakat luas? Pasti jawabannya bom, jahat, sadis, pembunuh, dan lain-lain. Jika kita mengkaji lebih jauh, motif para teroris sejatinya adalah membela saudaranya sesama muslim yang dizalimi di belahan wilayah lain.”

Demikian Syahadat Iskandar, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lampung, membuka paparannya dalam kegiatan Diskusi “Mengukuhkan Peran Mahasiswa dalam Membangun Perdamaian” yang diselenggarakan AIDA di kampus tersebut akhir November 2023 silam. Syahadat merupakan alumni kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa yang digelar AIDA beberapa bulan sebelumnya.

Baca juga Menjadi Pemimpin yang Islami

“Mungkin di antara kita melihat terorisme sebagai salah satu tindakan yang keji, yang jahat, tidak manusiawi, dan tindakan yang merampas hak asasi manusia. Sehingga para pelaku ini dicap jahat yang tidak memiliki hati nurani. Padahal terorisme ini, mereka ingin membela kita sebagai salah satu umat beragama,” ujarnya.

Jika menengok fakta di tingkat global, peristiwa-peristiwa seperti invasi militer Amerika Serikat ke Irak dan Afghanistan pada awal dasawarsa 2000, agresi Israel ke Palestina yang masih terus berlangsung hingga sekarang, perlakuan kejam junta militer Myanmar terhadap etnis Rohingya, serta di konteks lokal semisal konflik komunal di Ambon dan Poso memicu kepedulian umat muslim di dunia.

Baca juga Membangun Damai dengan Akhlak

Kepedulian tersebut lantas dibumbui dengan ideologi ekstrem atas nama agama yang disampaikan oleh kelompok-kelompok yang menghalalkan kekerasan. Sehingga yang muncul kemudian adalah amarah untuk membalaskan dendam terhadap pihak mana pun yang dianggap terlibat dalam kezaliman terhadap saudara sesama muslim. Walhasil terjadilah aksi-aksi pengeboman di Indonesia.

“Apa yang mereka lakukan adalah untuk membela dengan cara yang salah. Dan dendam terbalaskan dengan membunuh dan mengebom,” ujarnya.

Baca juga Gerakan Menyamakan Persepsi

Akibat cara pembelaan yang salah maka yang terjadi adalah kezaliman baru. Syahadat yang pernah berjumpa langsung dengan beberapa korban terorisme menceritakan kondisi mereka yang memprihatinkan. “Ada korban Bom Kuningan yang kehilangan matanya akibat kejadian itu. Seperti yang kita tahu, korban yang masih hidup dari peristiwa tersebut masih melanjutkan kehidupannya ke depan,” ujarnya.

Syahadat lantas berpesan kepada teman-temannya sesama mahasiswa agar memilih lingkungan pergaulan yang tepat. “Karena di usia-usia kita rentan terpapar ideologi terorisme. Sehingga kita tidak mencari jalan yang salah dan merugikan dari jalan yang salah,” ucapnya. [MLM]

Baca juga Taaruf: Understanding with Respect

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki...

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...