HomeBeritaMenciptakan Lingkungan Sekolah Nirkekerasan

Menciptakan Lingkungan Sekolah Nirkekerasan

“Semoga kalian menjadi duta yang mencegah dan menghilangkan kekerasan di sekolah. Semoga Indonesia juga tetap damai sehingga tidak ada lagi kekerasan baik skala kecil maupun besar.”

Aliansi Indonesia Damai- Itulah harapan yang disampaikan Waka Kesiswaan SMAN 10 Samarinda, Khairul Basari, kepada 50 anak didiknya yang mengikuti Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan AIDA, Senin (29/4/2024) lalu.

Kegiatan di SMAN 10 Samarinda tersebut adalah bagian dari safari kampanye perdamaian AIDA di ibu kota Kalimantan Timur yang digelar pada akhir April hingga awal Mei lalu. AIDA mengunjungi lima SMA Negeri di Kota Tepian Mahakam dan mengajak lebih dari 250 siswa untuk menggali potensi diri agar menjadi pribadi yang tangguh serta berjiwa damai.

Baca juga “Betapa Repotnya Hidup di Lingkungan Tak Damai”

Dalam gelaran Dialog Interaktif di setiap sekolah dihadirkan narasumber aktivis perdamaian yang terdiri atas dua unsur, yaitu korban dan mantan pelaku terorisme. Dua pihak tersebut berbagi kisah ketangguhan kepada para siswa peserta kegiatan.

Kisah korban mengandung pembelajaran tentang semangat hidup yang pantang putus asa. Mereka dihadapkan pada cobaan hidup yang begitu berat akibat serangan teror bom, namun mampu bangkit dan beranjak dari penderitaan.

Sementara itu, pengalaman hidup mantan pelaku mengandung pelajaran bagi peserta agar senantiasa waspada terhadap pengaruh kelompok pro-kekerasan. Perubahan mereka dalam meninggalkan paham terorisme menuju jalan perdamaian juga menjadi inspirasi kaum muda untuk terus berupaya memperbaiki kesalahan masa lalu.

Baca juga Bersatu dalam Perbedaan

Dalam kesempatan Dialog Interaktif di SMAN 10 Samarinda, Dwi Siti Rhomdoni dan Kurnia Widodo dihadirkan sebagai narasumber. Dwi salah satu korban aksi teror bom di Jl. MH Thamrin Jakarta pada 14 Januari 2016. Sementara itu, Kurnia ialah mantan anggota kelompok teroris jaringan Bandung yang telah insaf. Keduanya berkisah di hadapan para peserta sekaligus mengajak mereka untuk selalu merawat kehidupan damai di sekolah mereka tercinta.

Basari mengharapkan 50 dari seribuan siswa SMAN 10 Samarinda yang terpilih menjadi peserta Dialog Interaktif dapat menjadi duta perdamaian. Para duta ini sangat diharapkan peran aktifnya agar tidak ada lagi kekerasan di lingkungan sekolah. Sebab, menurut Basari, biasanya di sekolah ada tindak kekerasan perundungan verbal (bullying) tapi dianggap candaan.

Baca juga Siswa SMAN 1 Tambun Selatan Bicara Tentang Pentingnya Perdamaian

“Padahal bullying itu bisa dituntut secara hukum karena termasuk kekerasan verbal. Jangan sampai setelah mengikuti kegiatan AIDA masih belum mengerti dampak dan bahaya kekerasan!” ujarnya.

Ia pun mengharapkan setelah mengikuti Dialog Interaktif, para peserta menyebarkan materi yang didapat kepada kolega mereka. Apalagi, imbuhnya, para peserta berasal dari pengurus OSIS dan perwakilan kelas.

“Dengan menyebarkan kepada rekan-rekan yang lain sehingga sekolah kita bisa tercipta lingkungan yang aman, kondusif, nyaman dan terbebas dari kekerasan verbal maupun fisik dalam bentuk apa pun,” pungkasnya. [AS]

Baca juga Pelajar SMA di Bogor Belajar Ketangguhan dari Korban dan Mantan Pelaku

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...