HomeOpiniSetelah Puasa, Lalu?

Setelah Puasa, Lalu?

Oleh Suharso Monoarfa

(Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (2019-2022), Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional [2019-2024]).

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 26 Maret 2025

Puasa adalah salah satu modal utama untuk mewujudkan pesan profetik yang dibawa Nabi Muhammad, “dan tidaklah kami utus engkau [Muhammad], melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (Q.S. Al-Anbiya: 107)

Allah mewajibkan orang-orang yang beriman untuk berpuasa, agar mereka menjadi orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah: 183). Hal yang sama juga telah diwajibkan (dalam bahasa Al-Qur’an “dituliskan”, kutiba) kepada umat-umat terdahulu sebelum Islam. Dan kesamaan itu hampir pada semua agama dalam sejarahnya. Puasa menjadi rukun-rukun agama karena, seperti dikatakan Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar, ia termasuk ibadah yang paling kuat dan sarana pendidikan paling efektif.

Muhammad Abduh, guru Rasyid Ridha dalam kitab yang sama mengatakan, “Allah memang hanya menyamarkan ‘mereka sebelum kita’ itu; dan memang bahwa puasa disyariatkan oleh semua agama, sampai-sampai agama yang berciri keberhalaan.” Puasa dikenal orang Mesir Kuno, dan dari sana merembet ke Yunani, yang mewajibkan ibadat itu terutama kepada perempuan. Demikian pula orang Romawi.

Di antara para politeis Hindu, puasa dikenal sampai sekarang. Dan tentu saja di kalangan Yahudi dan umat Nasrani. Nabi Musa, misalnya diketahui berpuasa 40 hari. Adapun umat Yahudi di masa-masa belakangan berpuasa satu minggu sebagai peringatan kehancuran Ursyalim dan penjarahannya, dan satu hari pada bulan Aab.

Sedangkan puasa di kalangan Nasrani yang paling masyhur dan paling kuno adalah puasa besar sebelum Hari Paskah, seperti juga yang dilaksanakan baik oleh Isa maupun Musa, serta para hawari (pengikut Isa). Kemudian para kepala Gereja membuat berbagai peraturan lain, dan di situ terdapat perbedaan di antara pelbagai sinoda dan denominasi. Ada yang berpuasa dari makan daging, dari makan ikan, dari makan telur atau susu, antara lain. Ini berkaitan dengan amal kemanusiaan: dana yang tadinya digunakan untuk konsumsi seperti yang disebut Rasyid itu disisihkan, dikumpulkan, dan disumbangkan kepada fakir-fakir miskin, para korban bencana alam, dan seterusnya.

Baca juga Fitrah dan Keberagamaan yang Berdampak

Literatur-literatur keagamaan Islam menyebutkan puasa sebagai sarana berlatih mengendalikan diri dari jeratan nafsu perut dan faraj – keinginan melahap apa saja serta mengumbar selera rendah. Karena itu puasa disebut latihan perang melawan hawa nafsu. Rasulullah s.a.w. menyebut perang melawan hawa nafsu sebagai sebuah jihad. Sepulang dari Perang Badar melawan musyrikin Quraisy yang dimenangkan kaum Muslim, Nabi bersabda, “Kita kembali dari jihad kecil dan akan menghadapi jihad besar.” “Apa yang dimaksud dengan jihad besar yang akan kita hadapi itu?” tanya sahabat. “Berjihad melawan hawa nafsu,” jawab Nabi.

Jadi, puasa bukan semata melaparkan dan menghauskan diri. Berlapar-lapar dan berhaus-haus hanyalah media untuk melaksanakan ibadah yang sesungguhnya. Yakni menjauhi larangan-Nya, mengerjakan perbuatan-perbuatan yang diridhai-Nya, dan mengendalikan hawa nafsu agar sejauh mungkin tersalur sebagaimana telah digariskan oleh Allah. “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan keji (dusta) dan melakukan kejahatan (kepalsuan), Allah tidak akan menerima puasanya, sekalipun ia telah meninggalkan makan dan minum,” sabda Nabi (H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Dalam Tafsir Al-Azhar Buya Hamka mengatakan, “Puasa adalah latihan dan didikan, pembentukan akal dan budi, untuk menaklukan hawa nafsu, untuk berganti ke akal murni yang sesuai dengan agama. Keluar dari latihan itu manusia dapat mengatur dirinya sendiri. Sedang terhadap barang yang halal dia bisa menguasai diri apalagi terhadap yang haram. Inilah arti la‘allakum tattaqun, mudah-mudahan kalian bertakwa.”

Selain pendidikan dan latihan, tujuan puasa adalah untuk memperoleh pengampunan dengan ketentuan sebagaimana sabda Nabi, ”Barangsiapa menjalankan puasa dengan penuh iman dan introspeksi (ihtisab), maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” Jadi, puasa adalah sarana untuk melakukan introspeksi. Bukankah dengan berintrospeksi, seseorang semestinya akan menjadi lebih baik?

Dalam banyak hadis juga disebutkan ajakan Rasulullah s.a.w kepada orang yang berpuasa untuk mengerjakan kebaikan. Termasuk mengembangkan solidaritas sosial, karena dengan merasakan sendiri haus dan lapar, seseorang dapat merasakan apa yang dirasakan oleh yang miskin dan sengsara. Di zaman sekarang, tentu banyak cara yang bisa ditempuh untuk merealisasikan berbagai kebajikan dan mewujudkan solidaritas sosial.

Lalu tantangannya adalah, apakah berbagai hikmah dari ibadah puasa menjamin kita mampu mengisi relung kebaikan kehidupan sehari-hari, baik secara individu maupun sosial. Dan bagaimana menjelaskan jika yang terjadi sebaliknya. Kesemarakan beragama yang ditandai dengan semakin kencangnya orang-orang menjalankan ibadah tidak dengan sendirinya mengubah pekerti yang lalim di dalam masyarakat. Praktik-praktik yang menandai kemerosotan etika dan moral masih terus terjadi.

Baca juga Puasa dan Kemenangan Bangsa

Maka sesungguhnya kita tidak terlalu terkejut ketika kita dihadapkan pada fenomena yang saling berlawanan. Berbagai survei kerap menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang religiusitasnya tertinggi di dunia. Laporan majalah CEOWorld pada 8 April 2024 menempatkan Indonesia sebagai negara ketujuh paling religius di dunia, dengan 98,7 persen responden mengaku religius. Survei lain yang dilakukan oleh Pew Research Center pada 2018 juga menunjukkan bahwa 93 persen masyarakat Indonesia menganggap agama sebagai aspek penting dalam kehidupan mereka (Pew Research Center, 2018).

Fakta yang menggembirakan ini kemudian menjadi sebuah ironi, ketika data lain menunjukkan kebalikannya, yakni Indonesia menempati posisi separuh terbawah dalam Indeks Persepsi Korupsi dari 180 negara. Transparency International dalam laporan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2023 menempatkan Indonesia pada skor 34 dari 100, yang menunjukkan tingkat korupsi yang masih tinggi (Transparency International, 2023). Logikanya, jika masyarakat Indonesia semakin alim, maka seharusnya tingkat korupsinya semakin rendah.

Ironi itu terantuk pada kegagalan kaum beragama dalam mentransformasikan etika dan moralitas pribadi ke dalam etika sosial. Etika dan moralitas pribadi berfokus pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mengatur perilaku individu dalam kehidupan sehari-hari. Etika sosial, di sisi lain, berfokus pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mengatur perilaku individu dalam interaksi dengan orang lain dan dalam konteks masyarakat yang lebih luas. Kegagalan dalam menjembatani kesenjangan antara kedua ruang lingkup ini dapat menyebabkan ketidakselarasan antara perilaku individu dan norma-norma sosial.

Maka patutlah berharap puasa sebagai bentuk ibadah paling efektif untuk menjadi manusia yang takwa, semestinya secara horisontal mendemonstrasikan akhlak sosialnya yang tidak lalim. Apakah secara sosial, akhlak kita sudah sejalan dengan pesan profetis bahwa Islam adalah rahmat bagi sekalian alam? Jika tidak, lalu apa artinya kita berpuasa sebulan penuh?

Minal ‘aidin wal-faizin.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery...

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang...

Belajar Berkesadaran

Oleh Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri JakartaArtikel ini terbit di Kompas.id, 06 Februari 2026 Belajar berkesadaran adalah kunci keberhasilan pendidikan berkualitas. Bila belajar diibaratkan sebuah perjalanan, ini adalah langkah pertamanya. Sayangnya, langkah pertama ini sering kali terlewatkan.Transformasi belajar yang lebih fundamental inilah yang dilakukan...