HomePilihan RedaksiHijrah dan Perdamaian

Hijrah dan Perdamaian

Umat Islam di seluruh dunia baru saja menyambut dan merayakan tahun baru Islam 1447 H. Penyambutan ini berlangsung dalam suasana yang tidak cukup menggembirakan, mengingat ada 1,7 juta warga di Gaza yang masih menanggung derita akibat invasi dan genosida Israel. Di belahan bumi Afrika, Timur Tengah, dan beberapa negara lain, umat juga masih dilanda konflik dengan kekerasan. Miliaran warga dunia hidup dalam suasana yang masih jauh dari kata damai.

Islam sejatinya membawa rahmat bagi seluruh alam. Beberapa perkembangan mutakhir di dunia global yang anarkistis dan tidak damai belakangan ini merupakan tanggung jawab pemimpin negara, ulama, dan cendekiawan muslim untuk menuntun para pihak ke jalan perdamaian, bukannya jalan kekerasan, agresi, dan peperangan.

Baca juga Idul Adha: Momentum Menjaga Perdamaian

Tahun baru Islam menjadi momentum bagi pemimpin dan umat untuk meneguhkan kembali semangat hijrah Nabi Muhammad Saw pada 15 abad lalu. Secara bahasa, hijrah berasal dari kata hajara-yahjuru-hajaran, yang bermakna memutuskan dan meninggalkan. Secara istilah hijrah berarti seseorang yang meninggalkan, baik secara fisik, maupun perkatan dan hati segala realitas kehidupan yang negatif (AIDA, 12/7/2021).

Dari pengertian dan istilah tersebut, hijrah dapat dimaknai dalam konteks global, nasional, dan individual sosial kemasyarakatan saat ini.

Dalam konteks global, hijrah adalah momentum negara-negara Islam untuk menjadi negara yang terus memelopori perdamaian melalui pendekatan dialog, diplomasi, dan kebijakan yang melindungi rakyatnya dari segala bentuk kekerasan. Menghadapi situasi Palestina, dialog dan diplomasi dengan Israel dan entitas pendukungnya merupakan cara yang harus selalu diupayakan demi terciptanya kehidupan yang saling menghormati di antara dua negara tersebut (two states solution). Gencatan senjata antara Israel dan Iran setelah perang 12 hari sebelum tahun baru Islam ini merupakan momentum negara dan aktor internasional lainnya untuk terus mendukung upaya damai di dunia.

Baca juga Tetap Damai di Era Disrupsi

Dalam konteks nasional, 1447 H merupakan momentum bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk bahu membahu membangun perdamaian, mencegah terjadinya aksi kekerasan, dan merespon tindakan kekerasan dengan cara-cara yang damai sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku. Prinsip ‘tidak membalas dengan kekerasan’ harus dijunjung tinggi.

Dalam konteks kehidupan individual di masyarakat, penting mengambil ibroh dari  “hijrahnya” korban dan mantan pelaku terorisme. Para mantan teroris berhijrah dari jalan kekerasan kepada perdamaian. Mantan pelaku juga harus menghadapi kecaman, bahkan intimidasi dari rekan-rekannya yang masih berada dalam ekstremisme. Belum lagi keraguan sebagian kalangan terhadap komitmen pertobatan mereka (AIDA, 20/8/2022).

Baca juga Merayakan Syawal sebagai Bulan Perdamaian

Sementara penyintas terorisme berhijrah dan berjuang menaklukkan amarah dan dendam terhadap para pelaku yang telah merenggut kebahagiaan mereka. Banyak korban berhasil menjadi pribadi yang mampu berdamai dengan kenyataan dan berwatak pemaaf (AIDA, 20/8/2022).

Beberapa mantan teroris dan korbannya bahkan sudah melakukan rekonsiliasi, bersatu, bahu membahu dalam kampanye perdamaian. AIDA mendorong agar hal serupa bisa dilaksanakan di belahan bumi lain.  

Selamat tahun baru 1447 H. Damailah dunia dan damailah Indonesia selalu!

Baca juga Berkhidmat untuk Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan,...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education;...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...