HomeOpiniGenerasi (C)emas

Generasi (C)emas

Oleh Victor Yasadhana

(Direktur Kerja Sama antarlembaga Yayasan Sukma)

Artikel ini terbit di laman mediaindonesia.com edisi 7 Juli 2025

Pendidikan dipercaya sebagai cara paling baik untuk memupuk dan mengembangkan pengetahuan demi kehidupan yang lebih baik. Namun, sebagai sebuah proses, pendidikan sering diukur melalui cara bagaimana membuat mereka yang belajar menjadi pintar secara akademik dan melupakan aspek kesehatan mental.

Jika sebelumnya kurang diperhatikan, dampak perkembangan teknologi yang cepat dan masif serta pandemi covid-19 mendorong isu kesehatan mental lebih serius untuk diperbincangkan dalam ranah pendidikan, terutama saat gelagat kecemasan (anxious), stres (stress), dan depresi (depression) semakin mudah ditemukan dan menjadi bagian dari permasalahan kehidupan di kalangan usia muda/remaja.

Dalam bukunya, The Anxious Generation (2024), Jonathan Haidts menyajikan fakta yang tidak mengenakkan: bahwa terdapat kenaikan signifikan masalah kesehatan mental di kalangan remaja pada awal 2010-an yang disebabkan perubahan besar pada masa kanak-kanak (great rewiring of childhood).

Baca juga AI, Kemalasan Berpikir, dan Kesepian

Jika mengutip data US National Survey on Drug Use and Health, persentase remaja di Amerika Serikat yang pernah mengalami depresi antara 2004 dan 2020 menunjukkan grafik yang meningkat drastis. Itu disertai catatan, periode 2010-2015 merupakan periode the great rewiring, periode terjadinya perubahan besar dan cepat dari masa kanak-kanak yang berbeda jika dibandingkan dengan masa sebelumnya.

Perubahan itu terutama disebabkan berkurangnya masa kanak-kanak yang berbasis pada waktu bermain (play-based child), dan makin menguatnya masa kanak-kanak yang berbasis penggunaan telepon dan teknologi (phone-based childhood).

Perubahan di atas berpengaruh besar terhadap kehidupan anak dan remaja. Berkurangnya masa kanak-kanak yang berbasis pada waktu bermain dan meningkatnya masa kanak-kanak yang bergantung pada teknologi, misalnya, dianggap mengurangi peluang anak dan remaja untuk terlibat dalam berbagai aktivitas mandiri tanpa pengawasan terus-menerus dari orang dewasa, yang dianggap sebagai cara dan proses baik untuk menumbuhkan resiliensi dan keterampilan dan kemampuan untuk mengatasi masalah secara mandiri.

Baca juga Krisis Literasi Digital

Sementara itu, penetrasi teknologi melalui penggunaan perangkat elektronik seperti telepon pintar (smartphone) dan media sosial yang memiliki banyak kegunaan dan keuntungan akan berbagai kemudahan yang dihasilkan ternyata juga memiliki akibat yang tidak dibayangkan sebelumnya.

Deprivasi sosial, gangguan tidur, kesulitan fokus/perhatian, dan kecanduan (gawai dan media sosial) ialah beberapa hal yang kemudian diakui muncul sebagai bagian dari dampak buruk penggunaan teknologi di kalangan remaja.

Dampak buruk itu lebih banyak dialami remaja perempuan jika dibandingkan dengan remaja laki-laki. Di kalangan remaja perempuan, dampak buruk berupa tekanan sosial dan mental yang terkait dengan persoalan kecantikan, status sosial, dan meningkatnya kerentanan terhadap perundungan atau pelecehan di dunia maya.

Di kalangan remaja laki-laki, dampak buruk terkait dengan permainan online (online gaming) dan meningkatnya kecanduan pornografi. Dampak buruk pada kedua kelompok remaja berdasarkan gender itu di antaranya mengakibatkan sikap menarik diri dari interaksi dan hubungan dalam dunia nyata.

Perubahan masa kanak-kanak dari berbagai aktivitas nyata dan bersifat fisik menjadi aktivitas berbasis teknologi juga diperburuk kecenderungan anak-anak dan remaja mengalami proteksi yang berlebihan di dunia nyata, sementara pada saat yang sama, justru mereka tidak terlindungi dalam dunia maya. Haidts memercayai kedua kecenderungan itu sebagai alasan utama generasi yang lahir setelah 1995 (atau sebagian orang mengenal sebagai gen Z) menjadi generasi yang penuh kecemasan (anxious generation).

Data yang disajikan Haidts tidak terlalu berbeda dengan data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (INAMHS) 2022. Dalam survei tersebut beberapa temuan yang dihasilkan cukup mengejutkan. Satu dari tiga remaja (34,9% atau sekitar 15 juta remaja) di Indonesia memiliki satu masalah kesehatan mental. Satu dari 20 remaja (5,5% atau sekitar 2.45 juta remaja) Indonesia memiliki satu gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Seperti remaja di Amerika Serikat, gangguan cemas (anxiety) merupakan gangguan mental yang paling banyak dialami remaja di Indonesia.

Agenda bersama

Setelah melihat berbagai data dan fakta di atas, apa yang harus dilakukan? Menyalahkan penggunaan teknologi semata juga bukan tindakan yang tepat. Teknologi juga terbukti menghadirkan kemudahan dan manfaat dalam kehidupan manusia.

Penggunaan media sosial di kalangan remaja juga bukan merupakan isu yang mudah diatasi. Media sosial dalam derajat tertentu ialah cara para remaja untuk menghadapi kesulitan mereka. Dengan kata lain, kehadiran teknologi dalam kehidupan remaja ialah sebuah keniscayaan dan hampir tak terhindarkan.

Baca juga Menguatkan Komitmen Dunia Digital Ramah Anak

Sebagai sebuah persoalan kesehatan mental, kecemasan, depresi, dan stres di kalangan remaja ialah tanggung jawab bersama. Itu persoalan yang perlu diletakkan dalam arus utama diskursus pendidikan. Dibutuhkan komitmen dan aksi bersama di tingkat pembuatan kebijakan penggunaan teknologi di kalangan remaja, membangun dan mengampanyekan kesadaran akan risiko penggunaan teknologi di kalangan remaja, juga berbagai perubahan dan praktik baik yang dapat dilakukan di sekolah.

Hal tersebut meliputi berbagai hal yang dapat dilakukan bersama di sekolah dan di rumah, seperti menyepakati usia untuk mengakses teknologi (telepon pintar, media sosial, dll), mempromosikan sekolah bebas gawai, menggalakkan lagi masa kanak-kanak berbasis bermain yang mendorong anak-anak atau remaja mendapatkan pengalaman dari dunia yang nyata.

Di sekolah dan di rumah, berbagai upaya di atas dapat dimulai dengan mengampanyekan penggunaan telepon kembali untuk kebutuhan dasar berkomunikasi dan mengurangi penggunaannya untuk media sosial (salah satunya ialah kampanye menggunaan telepon jadul/dumb phone, bukan telepon pintar).

Baca juga Urgensi Pendidikan Perdamaian

Juga dapat disepakati aturan penggunaan gawai di kalangan guru dan murid terkait dengan usia (kapan dapat mendapatkan akses kepada telepon pintar atau memiliki akun media sosial), waktu (penetapan waktu penggunaan teknologi/screen time), dan tata krama, misalnya guru dapat menjadi contoh dengan tidak sibuk bermedia sosial atau berkirim pesan saat di dalam kelas, atau membiasakan meminta izin di depan kelas jika harus menerima panggilan atau menjawab pesan penting, atau bahkan sepenuhnya mematikan gawai yang dimiliki saat mengajar, kecuali gawai tersebut ialah bagian dari perlengkapan pembelajaran.

Perhatian lebih serius pada isu kesehatan mental dalam pendidikan, terutama terkait dengan meningkatnya kecemasan akibat penggunaan teknologi yang berlebihan di kalangan remaja, memperbesar peluang bagi hadirnya kembali masa kanak-kanak yang berbasis bermain. Dengan hal itu juga, merumuskan perlindungan yang lebih memadai untuk anak-anak dan remaja di dunia maya mungkin dapat menjadi titik awal untuk mendorong munculnya generasi emas dan mengurangi peluang lahirnya generasi cemas.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta,...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs,...

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah...

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Nasional SEKOLAH seharusnya menjadi ruang paling aman setelah keluarga. Dalam rumah, anak tertanam kesadaran, peroleh pengetahuan dan pengalaman langsung untuk membangun persaudaraan, empati, persahabatan, kepercayaan diri, dan belajar menghargai sesama. Namun, kenyataan nya, sangat...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia sangat ekstrem dan berbahaya. Bahkan, saking ekstrem dan bahayanya, mereka mengkafirkan dirinya sendiri. Demikian dinyatakan Iskandar alias Alexander Rumatery, mantan amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs, Nanyang Technological University, Singapura Pada 27 Juni 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik di Surakarta. Penculiknya sesama Republiken, sekelompok perwira dan politisi yang yakin perundingan dengan Belanda sama artinya dengan menjual kemerdekaan yang baru berumur sepuluh bulan....

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah dan dendam terhadap pelaku terorisme. Akibat bom yang meledak di depan tempat kerjanya Kedutaan Besar Australia, ia mengalami luka-luka dan kehilangan beberapa rekan kerjanya. Hingga sekarang ia masih melakukan perawatan medis dan minum obat secara rutin. “Setelah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...