HomeOpiniUrgensi Pendidikan Perdamaian

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful Haq
Lulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah

Salah satu metode paling efektif untuk menanamkan karakter damai adalah pendidikan. Kombinasi antara pengajaran teoretis dan keteladanan praktis yang berlangsung intensif memungkinkan munculnya pemahaman perdamaian yang melekat kuat dalam diri peserta didik.

Dalam situasi kebangsaan kita yang sangat majemuk, salah satu aspek penting dalam pendidikan perdamaian adalah tenggang rasa atau toleransi. Mengapa? Karena eskalasi polarisasi sosial dan konflik antarkelompok yang dipicu oleh beragam persoalan terus meningkat.

Tenggang rasa dan toleransi merupakan kemampuan untuk menerima perbedaan dengan cara-cara yang baik dan menghargai perbedaan itu sendiri. Metode pembelajaran yang sistematis dapat menanamkan dasar-dasar untuk membangun hubungan sosial yang harmonis.

Baca juga Menyambut Gencatan Senjata Israel-Hamas

Banyak penelitian yang menemukan bahwa pendidikan toleransi di sekolah membuat orang dapat mengembangkan sikap baik dalam merespons perbedaan budaya, agama dan pandangan hidup. Orang mampu memahami sudut padang orang lain, berempati, open minded terhadap ide-ide baru, dan menyelesaikan masalah dengan damai.

UNESCO melalui program Global Citizenship Education (GCED) melaporkan, pendidikan toleransi dapat membangun generasi muda yang memiliki kemampuan membawa masyarakat ke masa depan yang lebih baik.

Menurut laporan tersebut, pendidikan toleransi menggabungkan prinsip-prinsip universal untuk mengembangkan keterampilan, nilai, dan sikap yang akan memungkinkan peserta didik untuk menghormati orang lain, memiliki rasa kemanusiaan yang setara, mengambil peran menyelesaikan tantangan global, serta berkontribusi pada dunia yang lebih damai, toleran, dan inklusif.

Baca juga Di Balik Ambruknya Rezim Al-Assad di Suriah

Experiential learning ala AIDA

Pendekatan berbasis pengalaman (experiential learning) dapat digunakan sebagai metode pendekatan pendidikan toleransi. Dengan menggunakan cerita langsung dari korban kekerasan atau mantan anggota kelompok ekstremisme, misalnya. AIDA cukup lama mempraktikannya. Dalam safari perdamaiannya, AIDA senantiasa menghadirkan korban dan mantan pelaku terorisme yang telah Insaf untuk berbagi kisah pengalaman masa lalu hingga kehidupannya kini.

Kisah kedua sosok ini menjadi pemantik siapa pun untuk terlibat membangun masyarakat yang inklusif dan toleran. Hal ini bukan cita-cita semata, karena tidak jarang para peserta menyampaikan perasaan empati kemanusiannya setelah mendengarkan kisah korban dan mantan pelaku terorisme.

“Saya belajar untuk jangan menilai sesuatu dari luar saja, jangan menyerah, selalu berbuat baik terhadap sesama, dan terima segala cobaan yang ada,” ujar salah seorang peserta dalam kampanye perdamaian di SMAN 1 Terara, Lombok Timur.

Baca juga Pendidikan sebagai Seni Pembudayaan

Ungkapan di atas hanya salah satu contoh dari beberapa pemahaman baru yang tumbuh pada generasi muda setelah berpartisipasi dalam pendekatan experiential learning sebagai upaya pendidikan toleransi. Tidak hanya empati, peserta didik memahami tentang dampak negatif dari perilaku diskriminasi dan intoleransi kepada orang lain.

Tidak hanya dalam isu ekstremisme berbasis kekerasan, isu-isu lain juga yang dapat digunakan seperti hak asasi manusia, kemajemukan sosial, dan keadilan bagi semua. Syaratnya dalam pendidikan toleransi peserta didik mau untuk berpartisipasi aktif. Metode ini diharapkan menghilangkan prasangka yang sering kali menjadi penghalang utama untuk membangun hubungan yang sehat, serta meningkatnya respons positif terhadap keberagaman dan menyadari akan pentingnya penyelesaian konflik tanpa kekerasan.

Tripusat pendidikan toleransi

Ki Hajar Dewantara pernah menyebutkan istilah tripusat pendidikan. Menurut bapak pendidikan nasional tersebut, mendidik anak harus dilakukan secara integratif antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga unsur inilah disebut sebagai tripusat pendidikan.

Sebagai pusat pendidikan utama, Ki Hajar menyatakan bahwa keluarga bertanggung jawab atas pembentukan etika, agama, dan perilaku sosial anak. Sekolah sebagai lingkungan pendidikan kedua memberikan pembinaan intelektual dan ilmu pengetahuan. Masyarakat sebagai lingkungan ketiga berperan dalam mengembangkan kecerdasan intelektual, budi pekerti, ilmu agama, dan sosial anak.

Baca juga Catatan Guru untuk Melajukan Pendidikan Indonesia

Penulis mengamini pandangan Ki Hajar. Pasalnya keberhasilan pendidikan toleransi tidak hanya bergantung pada kurikulum sekolah. Keluarga dan masyarakat juga berperan besar dalam menanamkan sikap toleran.

Banyak riset psikologi yang menunjukkan bahwa lingkungan masyarakat dan keluarga sebagai variabel penting dalam tumbuh kembang toleransi pada anak. Misal riset berjudul Raising Tolerant Attitude to Children yang dilakukan Daviq Chairilsyah pada tahun 2019. Riset ini menunjukkan bahwa pembentukan sikap toleransi sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga yang mendukung keberagaman dan pola asuh yang menekankan empati. Selain keluarga, ada juga teman sebaya dan lingkungan masyarakat yang mendukung sikap positif, memberikan dukungan aktualisasi diri, dan rasa aman.

Baca juga Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Uraian di atas menunjukkan bahwa pendidikan toleransi harus menjadi usaha kolektif yang membutuhkan waktu yang panjang. Walhasil semua pihak, mulai dari pendidik, pembuat kebijakan, dan figur terdekat harus berkolaborasi dan berkomitmen mengajarkan nilai-nilai toleransi kepada generasi muda.

Kita tidak hanya membuat orang lebih berempati dan inklusif, tetapi juga membantu memperbaiki dunia. Tak sekadar melahirkan generasi yang mampu menghargai perbedaan, namun juga mendukung perdamaian dalam kehidupan bangsa dan dunia.

Baca juga ”Golden Period” Perang Israel-Iran

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Memaafkan, Melampaui Derita

Memaafkan adalah proses yang rumit dan mendalam. Tidak sekadar ucapan “aku...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...